Idul Adha, Kurban, dan Keteladanan Nabi Ibrahim AS (1)
Sabtu, 01 Agustus 2020 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Keutamaan Berkurban Saat Idul Adha, Pahalanya Tak Terhitung
Dan banyak lagi ayat-ayat yang mendorong fungsi akal manusia dalam menyikapi kehidupannya.
Bahkan secara khusus Allah menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kitab yang diturunkan untuk dipahami secara akal (liqaumin ya’qiluun).
Sebaliknya orang-orang yang tidak ingin memahami Al-Quran justeru dituduh sebagai orang-orang yang hatinya terkunci (alaa quluubihim ghulf).
Proses penemuan kebenaran dengan rasionalitas dan logika, apalagi dalam dunia yang mengedepankan logika saat ini, akan menghasilkan keimanan yang solid. Keimanan yang tidak goyah dan mudah terbawa arus. (Baca juga: 3 Alasan Kenapa Harus Berkurban di Hari Raya Idul Adha )
Mungkin bagi kami di dunia Barat hal itu dibuktikan oleh kenyataan bahwa seringkali mereka yang menemukan Islam setelah melalui proses pencarian panjang, termasuk dengan logika, berakhir dengan keyakinan yang solid (al-yaqiin ar-raasikh).
Karenanya masanya pada Ulama , ustadz, kyai dan para pendakwah agama ini untuk menyadari bahwa penyampaian agama dengan dogma-dogma yang kerap terasa dipaksakan, believe or otherwise (imani atau...), dengan ancaman-ancaman dan semacamnya, hanya akan berdampak negatif di pemikiran orang-orang, khususnya millennials yang cenderung mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi segala hal. (Baca Juga: Keistimewaan dan Keutamaan Puasa Arafah )
Sungguh ironis dengan kenyataan bahwa paham ateisme justeru tumbuh besar di negara-negara Muslim yang dianggap konservatif seperti Suadi Arabia. Dan saya yakin, sebagaimana Kristiani di dunia Barat, hal ini sebabkan oleh penyampaian agama yang kerap tidak logis dan rasional. Walaupun kenyataannya bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional.
Tapi sebagaimana Karen Armstrong pernah sampaikan: “Tidak ada agama atau kepercayaan yang serasional agama Islam. Sayangnya seringkali justeru orang-orang Islam yang tidak rasional dalam beragama”. (Baca Juga: Puncak Haji, Pagi Ini Jamaah Mulai Bergerak Menuju Arafah )
Mari kita tauladani Ibrahim AS dalam berproses memahami dan meyakini agamanya. (Bersambung)
New York, 10 Dzulhijjah 1441 H
Dan banyak lagi ayat-ayat yang mendorong fungsi akal manusia dalam menyikapi kehidupannya.
Bahkan secara khusus Allah menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kitab yang diturunkan untuk dipahami secara akal (liqaumin ya’qiluun).
Sebaliknya orang-orang yang tidak ingin memahami Al-Quran justeru dituduh sebagai orang-orang yang hatinya terkunci (alaa quluubihim ghulf).
Proses penemuan kebenaran dengan rasionalitas dan logika, apalagi dalam dunia yang mengedepankan logika saat ini, akan menghasilkan keimanan yang solid. Keimanan yang tidak goyah dan mudah terbawa arus. (Baca juga: 3 Alasan Kenapa Harus Berkurban di Hari Raya Idul Adha )
Mungkin bagi kami di dunia Barat hal itu dibuktikan oleh kenyataan bahwa seringkali mereka yang menemukan Islam setelah melalui proses pencarian panjang, termasuk dengan logika, berakhir dengan keyakinan yang solid (al-yaqiin ar-raasikh).
Karenanya masanya pada Ulama , ustadz, kyai dan para pendakwah agama ini untuk menyadari bahwa penyampaian agama dengan dogma-dogma yang kerap terasa dipaksakan, believe or otherwise (imani atau...), dengan ancaman-ancaman dan semacamnya, hanya akan berdampak negatif di pemikiran orang-orang, khususnya millennials yang cenderung mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi segala hal. (Baca Juga: Keistimewaan dan Keutamaan Puasa Arafah )
Sungguh ironis dengan kenyataan bahwa paham ateisme justeru tumbuh besar di negara-negara Muslim yang dianggap konservatif seperti Suadi Arabia. Dan saya yakin, sebagaimana Kristiani di dunia Barat, hal ini sebabkan oleh penyampaian agama yang kerap tidak logis dan rasional. Walaupun kenyataannya bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional.
Tapi sebagaimana Karen Armstrong pernah sampaikan: “Tidak ada agama atau kepercayaan yang serasional agama Islam. Sayangnya seringkali justeru orang-orang Islam yang tidak rasional dalam beragama”. (Baca Juga: Puncak Haji, Pagi Ini Jamaah Mulai Bergerak Menuju Arafah )
Mari kita tauladani Ibrahim AS dalam berproses memahami dan meyakini agamanya. (Bersambung)
New York, 10 Dzulhijjah 1441 H
(mhy)
Lihat Juga :