Tidak Ada Istilah Bid'ah Hasanah dalam Agama, Begini Penjelasannya
Kamis, 14 September 2023 - 17:50 WIB
loading...
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Usaimin. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam mendefinisikan bid'ah secara syar'i, adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah. Bisa juga dikatakan bahwa bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi SAW dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin
Adapun perkara-perkara bisa yang mengikuti kebiasan dan tradisi, menurtnya, tidak disebut bid’ah dalam segi agama walapun disebut bid’ah secah bahasa.
"Jadi yang demikian ini bukan bid’ah dalam agama dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW ," ujarnya dalam buku berjudul "Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram"
Baca juga: Mushaf Al-Qur'an: Benda Paling "Bid'ah"
Jelek dan Tertolak
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-ada sesuatu yang baru dalam perkara kami (syariat dan agama) ini apa yang bukan darinya maka sesuatu tersebut tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya berjudul "Syarah 10 Landasan Agama dari Kalimat Nubuwwah" menyebut bahwa hadis tersebut menjelaskan bahwa semua bidah itu jelek dan tertolak. "Tidak ada istilah bid‘ah hasanah dalam agama," ujarnya.
Menurut Abu Ubaidah Yusuf, sebagian kalangan merasa belum puas dengan kebidahan-kebidahan yang mereka adakan, mereka berusaha mengajak manusia untuk mengikuti “kreativitas-kreativitas religius” mereka dengan menyebarkan syubhat-syubhat untuk mendukung dan melegalkan bidah-bidah mereka, padahal Rasulullah SAW dalam hadis jelas mengatakan bahwa semua itu adalah tertolak, bahkan lebih tegas lagi, beliau bersabda:
“Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bidah dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (4/126), Ad-Darimi dalam Sunan-nya (1/57), At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (5/44), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/15); dishahihkan oleh Al-Albani dalam Zhilal al-Jannah.
Adapun perkara-perkara bisa yang mengikuti kebiasan dan tradisi, menurtnya, tidak disebut bid’ah dalam segi agama walapun disebut bid’ah secah bahasa.
"Jadi yang demikian ini bukan bid’ah dalam agama dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah SAW ," ujarnya dalam buku berjudul "Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram"
Baca juga: Mushaf Al-Qur'an: Benda Paling "Bid'ah"
Jelek dan Tertolak
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengada-ada sesuatu yang baru dalam perkara kami (syariat dan agama) ini apa yang bukan darinya maka sesuatu tersebut tertolak.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya berjudul "Syarah 10 Landasan Agama dari Kalimat Nubuwwah" menyebut bahwa hadis tersebut menjelaskan bahwa semua bidah itu jelek dan tertolak. "Tidak ada istilah bid‘ah hasanah dalam agama," ujarnya.
Menurut Abu Ubaidah Yusuf, sebagian kalangan merasa belum puas dengan kebidahan-kebidahan yang mereka adakan, mereka berusaha mengajak manusia untuk mengikuti “kreativitas-kreativitas religius” mereka dengan menyebarkan syubhat-syubhat untuk mendukung dan melegalkan bidah-bidah mereka, padahal Rasulullah SAW dalam hadis jelas mengatakan bahwa semua itu adalah tertolak, bahkan lebih tegas lagi, beliau bersabda:
“Dan awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bidah dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (4/126), Ad-Darimi dalam Sunan-nya (1/57), At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (5/44), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1/15); dishahihkan oleh Al-Albani dalam Zhilal al-Jannah.
Lihat Juga :