Maaf dan Marah Khalifah Abu Bakar kepada Kaum yang Murtad
Selasa, 04 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Politik Pemaaf
Muhammad Husain Haikal dalam As-Siddiq Abu Bakr mengatakan politik Abu Bakar memberi maaf itu bukan berarti suatu kelonggaran atau ragu dari pihaknya, tetapi dimaksudkan untuk meredam segala gejolak; tujuan untuk kebaikan Islam dan Muslimin. Di luar itu Abu Bakar tidak mengenal sikap lemah jika sudah menyangkut soal risalah Nabi Muhammad.
Contoh lainnya terjadi pada Alqamah bin Ulasah dari Banu Kalb. Pada suatu ketika ia masuk Islam kemudian murtad pada masa Rasulullah, kemudian ia bergabung dengan Syam melawan muslim.
Setelah Nabi Muhammad wafat, ia datang cepat-cepat dan bermarkas di Banu Kalb. Berita terkait Alqamah itu sampai kepada Abu Bakar. Beliau pun mengutus Qa'qa' bin Amr dengan perintah berangkat untuk menyerangnya, kalau-kalau ia dapat membawanya atau membunuhnya. “Ingat bahwa hati akan terobati bila sudah dituntaskan, dan berbuatlah dengan caramu sendiri,” ujar Khalifah Abu Bakar berpesan.
Qa'qa' berangkat dengan anak buahnya. Tetapi tidak berhasil menemui orang itu, karena ia sudah lari. Istri, anak-anaknya serta mereka yang tinggal di tempat itu semua kembali kepada Islam, dan mereka tidak mau membantu Alqamah.
Alqamah kemudian menemui Khalifah Abu Bakar dan menyatakan bertobat. Oleh Khalifah ia dilindungi dan dibebaskan dari hukuman mati, sebab dia tidak memerangi dan tidak melakukan pembunuhan terhadap kaum Muslimin.
Lain lagi sikap Khalifah Abu Bakar terhadap Fuja'ah Iyas bin Abd Yalail. Orang ini sudah datang menemui Abu Bakar dan berkata: "Berilah aku senjata dan tugaskan aku menghadapi siapa saja dari kaum murtad."
Ia pun diberi senjata dan diberi tugas seperti yang sudah ditentukan oleh Khalifah Abu Bakar. Tetapi senjata itu oleh Fuja'ah digunakan untuk menyerang kabilah-kabilah Sulaim, Amir dan Hawazin, baik yang Muslim maupun yang murtad, dan tidak sedikit dari kalangan Muslimin yang dibunuhnya.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman
Mendapati yang demikian Khalifah Abu Bakar mengirim Turaifah bin Hajiz dalam satu pasukan untuk menyerang Fuja'ah dan kawan-kawannya, yang kemudian berhasil menangkap dan membawanya sebagai tawanan.
Abu Bakar memerintahkan memasang api di Baqi' dengan kayu yang sebanyak-banyaknya. Orang itu kemudian dilemparkan ke dalamnya dan ia mati terbakar.
Muhammad Husain Haikal dalam As-Siddiq Abu Bakr mengatakan politik Abu Bakar memberi maaf itu bukan berarti suatu kelonggaran atau ragu dari pihaknya, tetapi dimaksudkan untuk meredam segala gejolak; tujuan untuk kebaikan Islam dan Muslimin. Di luar itu Abu Bakar tidak mengenal sikap lemah jika sudah menyangkut soal risalah Nabi Muhammad.
Contoh lainnya terjadi pada Alqamah bin Ulasah dari Banu Kalb. Pada suatu ketika ia masuk Islam kemudian murtad pada masa Rasulullah, kemudian ia bergabung dengan Syam melawan muslim.
Setelah Nabi Muhammad wafat, ia datang cepat-cepat dan bermarkas di Banu Kalb. Berita terkait Alqamah itu sampai kepada Abu Bakar. Beliau pun mengutus Qa'qa' bin Amr dengan perintah berangkat untuk menyerangnya, kalau-kalau ia dapat membawanya atau membunuhnya. “Ingat bahwa hati akan terobati bila sudah dituntaskan, dan berbuatlah dengan caramu sendiri,” ujar Khalifah Abu Bakar berpesan.
Qa'qa' berangkat dengan anak buahnya. Tetapi tidak berhasil menemui orang itu, karena ia sudah lari. Istri, anak-anaknya serta mereka yang tinggal di tempat itu semua kembali kepada Islam, dan mereka tidak mau membantu Alqamah.
Alqamah kemudian menemui Khalifah Abu Bakar dan menyatakan bertobat. Oleh Khalifah ia dilindungi dan dibebaskan dari hukuman mati, sebab dia tidak memerangi dan tidak melakukan pembunuhan terhadap kaum Muslimin.
Lain lagi sikap Khalifah Abu Bakar terhadap Fuja'ah Iyas bin Abd Yalail. Orang ini sudah datang menemui Abu Bakar dan berkata: "Berilah aku senjata dan tugaskan aku menghadapi siapa saja dari kaum murtad."
Ia pun diberi senjata dan diberi tugas seperti yang sudah ditentukan oleh Khalifah Abu Bakar. Tetapi senjata itu oleh Fuja'ah digunakan untuk menyerang kabilah-kabilah Sulaim, Amir dan Hawazin, baik yang Muslim maupun yang murtad, dan tidak sedikit dari kalangan Muslimin yang dibunuhnya.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman
Mendapati yang demikian Khalifah Abu Bakar mengirim Turaifah bin Hajiz dalam satu pasukan untuk menyerang Fuja'ah dan kawan-kawannya, yang kemudian berhasil menangkap dan membawanya sebagai tawanan.
Abu Bakar memerintahkan memasang api di Baqi' dengan kayu yang sebanyak-banyaknya. Orang itu kemudian dilemparkan ke dalamnya dan ia mati terbakar.
Lihat Juga :