Catatan Invasi Israel ke Lebanon, Ketika Ariel Sharon Tebar Omong Kosong

Selasa, 17 Oktober 2023 - 15:43 WIB
loading...
Catatan Invasi Israel...
Ariel Sharon. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Mantan anggota Kongres AS , Paul Findley (1921 – 2019) menyebut banyak omong kosong yang dilontarkan pejabat tinggi Israel . Ariel Sharon adalah salah satunya. Pada saat Israel melakukan invasi ke Lebanon , pada 1982, Sharon yang kala itu menjabat sebagai menteri pertahanan Israel menganggap Perang Lebanon adalah untuk membela diri. "Perang Lebanon, seperti semua perang Israel, merupakan perjuangan untuk membela diri," ujar Ariel Sharon.

"Ini jelas omong kosong," tulis Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995).

Baca juga: 6 Omong Kosong Israel untuk Dirikan Negara Yahudi

Faktanya, bahkan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, sekalipun tidak mengakui bahwa ancaman dari Lebanon demikian besarnya sehingga Israel terpaksa melancarkan perang.

Dalam sebuah pidato di depan Kolese Pertahanan Nasional Israel, Begin menyatakan bahwa Israel telah terjun dalam tiga peperangan di mana ia tidak mempunyai alternatif kecuali ikut berjuang dan tiga peperangan lainnya di mana ia mempunyai suatu "pilihan" --termasuk Invasi Lebanon 1982.

Begin menyatakan bahwa peperangan yang tidak mengandung pilihan lain adalah Perang Kemerdekaan 1948, Perang Atrisi 1969-70, dan Perang Yom Kippur/Perang Ramadhan 1973. Dia menambahkan: "Peperangan kita yang lain bukannya tanpa alternatif."

Peperangan yang dipilih itu menurut Begin adalah yang terjadi pada 1956, 1967, dan 1982. "Pada November 1956 kita mempunyai pilihan. Alasan untuk berperang waktu itu adalah desakan untuk menghancurkan fedayeen, yang tidak merupakan ancaman bagi eksistensi negara... Pada Juni 1967, lagi-lagi kita mempunyai pilihan. Pengkonsentrasian angkatan bersenjata Mesir di Sinai tidak membuktikan bahwa Nasser benar-benar akan menyerang kita. Kita harus jujur pada diri sendiri. Kita memutuskan untuk menyerangnya."

"Sedangkan mengenai Operasi Peace for Galilee [1982], itu sesungguhnya tidak termasuk pada kategori peperangan tanpa alternatif. Kita mestinya pergi melihat penduduk sipil kita yang terluka di Metulla atau Qiryat Shimona atau Nahariya... Benar, aksi-aksi semacam itu bukan merupakan ancaman bagi eksistensi negara," lanjutnya.

Baca juga: Omong Kosong Israel dalam Perang 1967: Menuduh Arab Menyerang Duluan

Hikmah di Balik Penderitaan

Invasi Israel ke Lebanon pada 1982 adalah perang Timur Tengah pertama yang ditayangkan di televisi dengan segala kengeriannya. Laporan-laporan bergambar setiap hari yang memperlihatkan pasukan Israel membombardir penduduk sipil menimbulkan protes-protes internasional. Di Amerika Serikat para pendukung Israel bersatu di pihak Israel, menyatakan bahwa mereka dapat melihat adanya hikmah di balik semua penderitaan itu.

Mantan Menteri Luar Negeri AS, Henry Kissinger menyatakan bahwa invasi itu "membuka kesempatan-kesempatan luar biasa bagi suatu diplomasi Amerika yang dinamis di seluruh Timur Tengah."

Arthur Goldberg, mantan duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyimpulkan bahwa kini "mestinya ada kemungkinan untuk mengadakan suatu persetujuan otonomi secepat-cepatnya."

Ahli sejarah Barbara Tuchman berpendapat bahwa Israel tidak punya pilihan sebab aksi-aksi Arab itu berada di luar kontrol Israel. Dia menambahkan bahwa yang paling memprihatinkannya adalah "kelangsungan hidup dan masa depan Israel dan Yahudi dalam diaspora itu --saya sendiri di antaranya."

Sementara protes-protes terhadap Israel di seluruh dunia semakin meningkat, orang-orang Israel beserta para pendukung mereka melancarkan kampanye keras terhadap media.

Baca juga: Omong Kosong dan Dalih Israel Invasi ke Lebanon Tahun 1982

Thomas L. Friedman dari New York Times disebut "Yahudi yang membenci diri sendiri" oleh angkatan bersenjata Israel; New Republic menyerang pers yang anti-Israel, dan sebuah artikel dalam Penthouse menanyakan pada para pembaca mengapa "para wartawan Amerika dengan penuh semangat bergabung dengan massa yang main hakim sendiri untuk melawan Israel."

Harian berbahasa Ibrani yang bergengsi Ha'aretz mencetak sebuah artikel panjang berjudul "Media Menjual Hati Nurani Mereka pada PLO."

Sebuah buku yang ditulis oleh seorang Israel kelahiran Amerika menyatakan bahwa para wartawan Barat di Beirut telah "diteror" oleh para penjahat keji Muslim dan "oleh kejadian atau rancangan... yang tergabung dalam suatu komplotan untuk memfitnah Israel." Dan mantan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Jeane Kirkpatrick menyatakan bahwa penulisan laporan itu "tidak adil" untuk Israel.

Di samping menganggap pers kejam, para pendukung Israel berusaha mencari cara-cara lain untuk memaafkan atau memahami perilaku Israel. Morris B. Abrams, seorang mantan wakil AS dalam Komisi Hak-hak Asasi Manusia PBB, berusaha membenarkan aksi-aksi Israel dengan membandingkannya dengan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh orang-orang Barat: "Tanggung jawab moral bagi hilangnya nyawa-nyawa tak berdosa di Lebanon, sebagaimana halnya di Dresden, Jerman, dan Normandia, di Prancis, selama Perang Dunia II, terutama terletak pada mereka yang memulai teror dan bukan yang mengakhirinya."

Dia menyimpulkan bahwa perang itu "mungkin tidak akan terjadi" jika negara-negara Arab telah menampung para pengungsi Palestina.

Baca juga: Catatan Perang Atrisi: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Golda Meir

Pengarang Zionis Norman Podhoretz dan yang lain-lainnya, termasuk aktivis anti-Perang Vietnam Jane Fonda, melihat adanya anti-Semitisme dalam akar kecaman terhadap invasi Israel. Para pengecam invasi, kata Podhoretz, menolak "hak-hak asasi bangsa Yahudi untuk membela diri... Yang kita dapati di sini adalah anti-Semitisme kuno yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan pola-pola kehidupan internasional."

Setelah perang, sebuah kelompok bernama Americans for a Safe Israel melancarkan tekanan keras pada NBC, memprotes peliputannya. Kelompok itu memproduksi sebuah film dokumentasi berjudul NBC in Lebanon: A Study of Media Misrepresentation dan sebuah karangan ilmiah, NBC's War in Lebanon: The Distorting Mirror, yang berusaha mendiskreditkan peliputan jaringan itu.

Di kemudian hari, ABC juga kena serangan. Sebuah organisasi pro Israel lain yang muncul karena perang itu adalah Komite untuk Akurasi Laporan Timur Tengah di Amerika (CAMERA). Ia berhasil mencegah lima belas stasiun radio di Baltimore, Maryland, agar tidak menyiarkan iklan menentang bantuan kepada Israel yang dibayar oleh Asosiasi Nasional Arab Amerika.

Baca juga: Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi

Mengapa timbul reaksi yang begitu berlebihan pada peliputan media?

Robin Fisk, seorang wartawan veteran untuk The Times London, yang selamat dalam invasi Israel ketika ditempatkan di Beirut, menyimpulkan bahwa alasan bagi histeria itu adalah karena invasi 1982 tersebut membuktikan pada dunia bahwa pasukan Israel bertindak persis seperti pasukan-pasukan lainnya di masa perang.

Perbedaannya pada 1982, "untuk pertama kalinya, para wartawan mendapatkan akses terbuka pada pihak Arab dalam perang Timur Tengah dan mendapati bahwa angkatan bersenjata Israel yang dianggap tak terkalahkan, dengan moral tinggi dan sasaran militer yang dinyatakan secara tegas untuk melawan 'terorisme,' tidak menjalankannya dengan cara sebagaimana digambarkan dalam legenda itu.

Orang-orang Israel itu bertindak brutal, mereka memperlakukan para tawanan dengan sangat buruk, membunuh beribu-ribu penduduk sipil, berbohong mengenai aktivitas-aktivitas mereka, dan kemudian menyaksikan sekutu milisi mereka membantai para penduduk kamp pengungsi. Dalam kenyataannya, mereka bertingkah persis seperti angkatan-angkatan bersenjata Arab yang 'biadab,' yang mereka cemoohkan terus-menerus selama 30 tahun ini."

Baca juga: Jejak Israel: Selalu Melecehkan Resolusi PBB 242
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Ternyata Tanah Palestina...
Ternyata Tanah Palestina Diharamkan untuk Bani Israil, Begini Penjelasan Surat Al-Maidah Ayat 26
Apakah Israel akan Hancur?...
Apakah Israel akan Hancur? Ini Nubuat Surat Al-Isra Ayat 7
Israel dan Bani Israil:...
Israel dan Bani Israil: Serupa Tapi Tak Sama
Dompet Dhuafa Salurkan...
Dompet Dhuafa Salurkan 3.840 Paket Pangan untuk Warga Palestina
Tadabur Surat Al Maidah...
Tadabur Surat Al Maidah Ayat 21 : Perintah untuk Membela Palestina
Al-Quran Menegaskan...
Al-Quran Menegaskan Tanah Palestina Diharamkan untuk Bani Israil
Rekomendasi
Ini Penyebab Lautan...
Ini Penyebab Lautan Pertama di Bumi Tidak Berwarna Biru
Ilmuwan Ungkap Misteri...
Ilmuwan Ungkap Misteri Penyebab Terjadinya Lubang Raksasa di Antartika
Dataran Tinggi Ontong...
Dataran Tinggi Ontong Java Mengalami Perubahan Besar Akibat Aktivitas Vulkanik
Artikel Terkini
Rahasia Keharmonisan...
Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Kisah Umar bin Khattab
Hak Asuh Anak setelah...
Hak Asuh Anak setelah Perceraian : Siapa yang Paling Berhak Menurut Syariat?
Apakah Islam Mengenal...
Apakah Islam Mengenal Harta Gono-gini? Begini Penjelasan Hukum Kepemilikan Suami dan Istri
Nafkah Setelah Cerai...
Nafkah Setelah Cerai dalam Islam: Hak Mantan Istri dan Anak yang Wajib Dipenuhi
Masyarakat Indonesia...
Masyarakat Indonesia Bangun Islamic Centre Pertama dan Terbesar di Melbourne dari Eks Kantor Polisi
Pernikahan Membuka Pintu...
Pernikahan Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?
Infografis
25 Tentara Israel Tewas...
25 Tentara Israel Tewas Sejak Invasi Darat ke Lebanon
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved