Mullah Nashruddin Belajar dari Seorang Pendeta tentang Meditasi
Selasa, 18 Agustus 2020 - 09:21 WIB
loading...
A
A
A
"Agar harimau tidak mendekat," jawab Nashruddin.
"Tetapi di sekitar sini tidak ada harimau."
"Tepat! Bukankah ini efektif?" tukas Nashruddin.
Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek
Salah satu dari berbagai cerita Nashruddin yang ditemukan pada karya Cervantes, Don Quixote (Bagian 14), mengingatkan bahaya-bahaya dari intelektualisme yang kaku.
"Dengan doktrinku, tidak ada persoalan yang tidak bisa dijawab," ucap seorang rahib yang baru saja memasuki sebuah warung teh di mana Nashruddin tengah duduk dengan para temannya.
"Dan baru beberapa saat yang lalu," jawab Nashruddin, "Aku ditantang oleh seorang alim dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab."
"Apabila hanya aku yang ada di sana! Katakan itu kepadaku, dan aku pastilah menjawabnya."
"Baiklah," ucap Nashruddin, "Ia berkata, 'Mengapa Anda berusaha memasuki rumahku di waktu malam'?"
Persepsi Sufi terhadap keindahan terkait dengan suatu kekuatan penetrasi yang melampaui ketajaman dari bentuk-bentuk seni ilmu yang biasa. Suatu hari seorang murid mengajak Nashruddin untuk melihat pemandangan danau yang indah untuk pertama kalinya.
Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh
"Alangkah indahnya!" seru Nashruddin. "Tetapi seandainya ..."
"Seandainya apa, Mullah?"
"Tetapi di sekitar sini tidak ada harimau."
"Tepat! Bukankah ini efektif?" tukas Nashruddin.
Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek
Salah satu dari berbagai cerita Nashruddin yang ditemukan pada karya Cervantes, Don Quixote (Bagian 14), mengingatkan bahaya-bahaya dari intelektualisme yang kaku.
"Dengan doktrinku, tidak ada persoalan yang tidak bisa dijawab," ucap seorang rahib yang baru saja memasuki sebuah warung teh di mana Nashruddin tengah duduk dengan para temannya.
"Dan baru beberapa saat yang lalu," jawab Nashruddin, "Aku ditantang oleh seorang alim dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab."
"Apabila hanya aku yang ada di sana! Katakan itu kepadaku, dan aku pastilah menjawabnya."
"Baiklah," ucap Nashruddin, "Ia berkata, 'Mengapa Anda berusaha memasuki rumahku di waktu malam'?"
Persepsi Sufi terhadap keindahan terkait dengan suatu kekuatan penetrasi yang melampaui ketajaman dari bentuk-bentuk seni ilmu yang biasa. Suatu hari seorang murid mengajak Nashruddin untuk melihat pemandangan danau yang indah untuk pertama kalinya.
Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh
"Alangkah indahnya!" seru Nashruddin. "Tetapi seandainya ..."
"Seandainya apa, Mullah?"
Lihat Juga :