Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh
Jum'at, 14 Agustus 2020 - 08:53 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
MULLAH Nashruddin merupakan cermin bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri. Tidak seperti cermin kebanyakan, semakin sering dilihat, maka semakin tampak sosok Nashruddin yang asli terproyeksikan di dalamnya. Cermin ini serupa dengan Cup of Jamshid yang termasyhur, sang pahlawan Persia; yang mencerminkan seluruh dunia, dan dalam cermin inilah para sufi "melihat".
Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah
Menurut Idries Shah dalam The Sufis, karena sufisme tidak dibangun di atas perilaku artificial, dalam pengertian tersurat dengan rincian eksternal (lahiriah), tetapi di atas rincian komprehensif (pemahaman), maka cerita-cerita Nashruddin harus dialami, begitu juga direnungkan.
Selain itu, merasakan kandungan setiap cerita melalui pengalaman langsung akan mendorong "kehadiran" mistik. Salah satu dari perkembangan pertama kehadiran tersebut adalah ketika seorang Sufi memperlihatkan tanda-tanda persepsi superior. Sebagai contoh, ia akan mampu memahami suatu keadaan melalui ilham, bukan melalui penalaran formal. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Tali Jemuran, Dewa Penolong, dan Apel Surgawi )
Akibatnya, tindakan-tindakannya kadang-kadang bisa membingungkan para pengamat yang bekerja pada tataran kesadaran-biasa; meskipun demikian yang dihasilkannya akan tepat.
Sebuah cerita Nashruddin yang memperlihatkan bagaimana hasil yang tepat dicapai seorang sufi melalui suatu mekanisme khusus ("cara yang salah" dalam pandangan orang-orang yang belum tercerahkan) bisa menjelaskan sebagian besar eksentrisitas para sufi: (Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek )
Dua orang menghadap Nashruddin ketika ia berperan dalam kapasitasnya sebagai hakim. Salah satunya berkata, "Orang ini telah menggigit telingaku -- aku menuntut qishas!" Yang lain bertutur, "Ia menggigitnya sendiri."
Nashruddin menunda kasus tersebut dan masuk ke dalam ruangannya. Di sana ia menghabiskan waktu setengah jam berusaha untuk menggigit telinganya sendiri. Seluruh upayanya hanya mengakibatkannya terjerembab dan keningnya lecet. Kemudian ia kembali ke ruang sidang.(Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
"Periksa orang yang telinganya digigit!" perintahnya. "Jika keningnya lecet, berarti ia melakukannya sendiri, dan kasus ditutup. Jika tidak, maka orang satunya yang melakukannya, dan orang yang digigit tersebut mendapat ganti-rugi tiga keping perak."
Keputusan yang benar tersebut bisa dicapai melalui suatu cara yang tampaknya tidak logis. (Baca juga: Kala Sampai di Samudera, Anda Tidak Akan Berbicara tentang Arus Sungai )
Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah
Menurut Idries Shah dalam The Sufis, karena sufisme tidak dibangun di atas perilaku artificial, dalam pengertian tersurat dengan rincian eksternal (lahiriah), tetapi di atas rincian komprehensif (pemahaman), maka cerita-cerita Nashruddin harus dialami, begitu juga direnungkan.
Selain itu, merasakan kandungan setiap cerita melalui pengalaman langsung akan mendorong "kehadiran" mistik. Salah satu dari perkembangan pertama kehadiran tersebut adalah ketika seorang Sufi memperlihatkan tanda-tanda persepsi superior. Sebagai contoh, ia akan mampu memahami suatu keadaan melalui ilham, bukan melalui penalaran formal. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Tali Jemuran, Dewa Penolong, dan Apel Surgawi )
Akibatnya, tindakan-tindakannya kadang-kadang bisa membingungkan para pengamat yang bekerja pada tataran kesadaran-biasa; meskipun demikian yang dihasilkannya akan tepat.
Sebuah cerita Nashruddin yang memperlihatkan bagaimana hasil yang tepat dicapai seorang sufi melalui suatu mekanisme khusus ("cara yang salah" dalam pandangan orang-orang yang belum tercerahkan) bisa menjelaskan sebagian besar eksentrisitas para sufi: (Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek )
Dua orang menghadap Nashruddin ketika ia berperan dalam kapasitasnya sebagai hakim. Salah satunya berkata, "Orang ini telah menggigit telingaku -- aku menuntut qishas!" Yang lain bertutur, "Ia menggigitnya sendiri."
Nashruddin menunda kasus tersebut dan masuk ke dalam ruangannya. Di sana ia menghabiskan waktu setengah jam berusaha untuk menggigit telinganya sendiri. Seluruh upayanya hanya mengakibatkannya terjerembab dan keningnya lecet. Kemudian ia kembali ke ruang sidang.(Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
"Periksa orang yang telinganya digigit!" perintahnya. "Jika keningnya lecet, berarti ia melakukannya sendiri, dan kasus ditutup. Jika tidak, maka orang satunya yang melakukannya, dan orang yang digigit tersebut mendapat ganti-rugi tiga keping perak."
Keputusan yang benar tersebut bisa dicapai melalui suatu cara yang tampaknya tidak logis. (Baca juga: Kala Sampai di Samudera, Anda Tidak Akan Berbicara tentang Arus Sungai )
Lihat Juga :