Para Sufi Gunakan Istilah Teknis yang Mendekati Misteri
Selasa, 25 Agustus 2020 - 09:17 WIB
loading...
A
A
A
Di pagi hari yang indah, Nashruddin sedang berjalan pulang. Mengapa, ia berpikir, tidak mengambil jalan pintas melewati hutan indah daripada jalan berdebu itu?
"Sehari dari sekian banyak hari, sehari demi pengejaran keberuntungan!" serunya kepada dirinya sendiri, sambil memasuki kawasan yang hijau.(Baca juga: Mullah Nashruddin Belajar dari Seorang Pendeta tentang Meditasi )
Seketika, ia mendapati dirinya sudah berada di dasar sebuah lubang yang tertutup.
"Ini karena aku mengambil jalan pintas," renungnya, ketika ia berada di lubang itu. "Kalau hal-hal seperti ini bisa terjadi di tengah-tengah keindahan semacam ini -- bencana apakah yang tidak terjadi pada jalan keras membosankan yang tidak kenal kompromi tersebut?" (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
Dalam keadaan yang hampir serupa, suatu ketika Nashruddin terlihat tengah memeriksa sebuah sarang kosong:
"Apa yang tengah Anda lakukan, Mullah?"
"Mencari telur."
"Tidak ada di sarang (burung) pada akhir tahun!"
"Jangan terlalu yakin," ucap Nashruddin. "Jika engkau adalah burung dan menginginkan untuk melindungi telur-telurmu, apakah engkau akan membangun sebuah sarang baru, dengan setiap mata melihatmu?" (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Ini merupakan cerita lain dari cerita-cerita Nashruddin yang terlihat pada Don Quixote. Fakta bahwa lelucon ini bisa dibaca paling tidak dengan dua cara, mungkin bisa menghalangi pemikir formal, tetapi justru memberikan kesempatan kepada kaum darwis untuk memahami dualitas dari wujud-nyata, yang dikaburkan oleh pemikiran manusia konvensional. Oleh sebab itu, apa yang rancu bagi intelektual menjadi kekuatan bagi pemahaman secara intuitif. (Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh )
"Sehari dari sekian banyak hari, sehari demi pengejaran keberuntungan!" serunya kepada dirinya sendiri, sambil memasuki kawasan yang hijau.(Baca juga: Mullah Nashruddin Belajar dari Seorang Pendeta tentang Meditasi )
Seketika, ia mendapati dirinya sudah berada di dasar sebuah lubang yang tertutup.
"Ini karena aku mengambil jalan pintas," renungnya, ketika ia berada di lubang itu. "Kalau hal-hal seperti ini bisa terjadi di tengah-tengah keindahan semacam ini -- bencana apakah yang tidak terjadi pada jalan keras membosankan yang tidak kenal kompromi tersebut?" (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
Dalam keadaan yang hampir serupa, suatu ketika Nashruddin terlihat tengah memeriksa sebuah sarang kosong:
"Apa yang tengah Anda lakukan, Mullah?"
"Mencari telur."
"Tidak ada di sarang (burung) pada akhir tahun!"
"Jangan terlalu yakin," ucap Nashruddin. "Jika engkau adalah burung dan menginginkan untuk melindungi telur-telurmu, apakah engkau akan membangun sebuah sarang baru, dengan setiap mata melihatmu?" (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Ini merupakan cerita lain dari cerita-cerita Nashruddin yang terlihat pada Don Quixote. Fakta bahwa lelucon ini bisa dibaca paling tidak dengan dua cara, mungkin bisa menghalangi pemikir formal, tetapi justru memberikan kesempatan kepada kaum darwis untuk memahami dualitas dari wujud-nyata, yang dikaburkan oleh pemikiran manusia konvensional. Oleh sebab itu, apa yang rancu bagi intelektual menjadi kekuatan bagi pemahaman secara intuitif. (Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh )
(mhy)
Lihat Juga :