Para Sufi Gunakan Istilah Teknis yang Mendekati Misteri

Selasa, 25 Agustus 2020 - 09:17 WIB
loading...
Para Sufi Gunakan Istilah...
Ilustrasi/Ist
A A A
KEBENARAN sampai tingkatan (tertentu) disampaikan melalui kata-kata. Selain itu, hal ini sebagian disampaikan melalui tindakan yang saling berhubungan dari kata-kata dengan reaksi pendengarnya. Tetapi pengalaman sufi hadir melalui cara dari suatu mekanisme yang mengambil alih pada titik di mana kata-kata terlepas titik tindakan, dari "bekerja" dengan seorang mursyid. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Cerita Menuju Awal Pencerahan )

Suatu saat Mullah Nashruddin menggambarkan hal ini dalam cerita "Cina"-nya yang terkenal. Ia pergi ke Cina di mana ia mengumpulkan sekelompok murid, yang dipersiapkannya bagi pencerahan. Mereka menjadi tercerahkan mendadak berhenti menghadiri kuliah-kuliahnya

Baca juga: Mullah Nashruddin Masuk Jebakan Kepala Biara

Sekelompok orang dari para pengikutnya yang tengah berkembang (kemampuan spiritualnya), yang menginginkan pencerahan lebih jauh, merantau dari Persia ke Cina untuk melanjutkan studi bersamanya.

Setelah kuliah pertama mereka, ia menerima mereka.

"Mullah, mengapa," salah seorang dari mereka bertanya, "kuliahmu tentang kata-kata rahasia yang kami bisa memahaminya (tidak seperti orang Cina)? Kata-kata itu adalah namidanam dan hichmalumnist! Dalam bahasa Persia, kata-kata ini bermakna, 'Aku tidak tahu,' dan 'Tidak seorang pun yang tahu'."

Baca juga: Mullah Nashruddin Membawa Sapi Tua ke Sebuah Lomba Pacuan Kuda

"Lantas apa yang seharusnya aku lakukan -- mencopot kepalaku?" tanya Nashruddin.

Idries Shah dalam The Sufi menjelaskan para sufi mempergunakan istilah-istilah teknis untuk menyampaikan padanan yang mendekati misteri-misteri yang merupakan pengalaman-pengalaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Hingga seorang Salik siap untuk "menangkap" pengalaman itu, ia dijaga agar tidak membuat kesalahan dengan mencoba menyelidikinya secara intelektual dengan menggunakan cara-cara yang sama ini.

Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek

Pengalaman itu sendiri merupakan akibat dari spesialisasi sadar, maka sufisme telah menyimpulkan bahwa tidak ada jalan pintas menuju pencerahan. Ini tidak berarti bahwa pencerahan akan memerlukan waktu yang lama. Yang ini berarti bahwa seorang Sufi mesti berpegang pada Tarekat.

Nashruddin, yang memainkan peran sebagai orang yang mencari jalan pintas, muncul dalam sebuah lelucon yang menyampaikan gagasan ini:

Baca juga: Mullah Nashruddin: Bagaimana Aku Tahu Apakah Aku Mati atau Hidup?

Di pagi hari yang indah, Nashruddin sedang berjalan pulang. Mengapa, ia berpikir, tidak mengambil jalan pintas melewati hutan indah daripada jalan berdebu itu?

"Sehari dari sekian banyak hari, sehari demi pengejaran keberuntungan!" serunya kepada dirinya sendiri, sambil memasuki kawasan yang hijau.(Baca juga: Mullah Nashruddin Belajar dari Seorang Pendeta tentang Meditasi )

Seketika, ia mendapati dirinya sudah berada di dasar sebuah lubang yang tertutup.

"Ini karena aku mengambil jalan pintas," renungnya, ketika ia berada di lubang itu. "Kalau hal-hal seperti ini bisa terjadi di tengah-tengah keindahan semacam ini -- bencana apakah yang tidak terjadi pada jalan keras membosankan yang tidak kenal kompromi tersebut?" (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )

Dalam keadaan yang hampir serupa, suatu ketika Nashruddin terlihat tengah memeriksa sebuah sarang kosong:

"Apa yang tengah Anda lakukan, Mullah?"

"Mencari telur."

"Tidak ada di sarang (burung) pada akhir tahun!"

"Jangan terlalu yakin," ucap Nashruddin. "Jika engkau adalah burung dan menginginkan untuk melindungi telur-telurmu, apakah engkau akan membangun sebuah sarang baru, dengan setiap mata melihatmu?" (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )

Ini merupakan cerita lain dari cerita-cerita Nashruddin yang terlihat pada Don Quixote. Fakta bahwa lelucon ini bisa dibaca paling tidak dengan dua cara, mungkin bisa menghalangi pemikir formal, tetapi justru memberikan kesempatan kepada kaum darwis untuk memahami dualitas dari wujud-nyata, yang dikaburkan oleh pemikiran manusia konvensional. Oleh sebab itu, apa yang rancu bagi intelektual menjadi kekuatan bagi pemahaman secara intuitif. (Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Fenomena Alam Ini Ternyata...
Fenomena Alam Ini Ternyata yang Bikin Pendaki di Gunung Everest Ketakutan
Riset Terbaru Sebut...
Riset Terbaru Sebut Air Hujan di Seluruh Dunia Mengandung Racun
Ilmuwan Temukan Gumpalan...
Ilmuwan Temukan Gumpalan Air Raksasa yang Hilang di Tengah Atlantik
Artikel Terkini
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Tasyabbuh dengan...
Jangan Tasyabbuh dengan Tahun Baru Masehi, Ini Adab Menyambut 1 Muharram Menurut Ulama
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved