Hijrah, Pilar Peradaban Modern (2)
Rabu, 26 Agustus 2020 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Artinya, gesekan antara kedua kelompok ini bisa menjadi isu pribumi dan non pribumi. Seperti yang pernah terjadi antara Muslim asli Amerika dengan imigran Muslim di AS. (Baca juga: Inilah Amalan Kaum Muhajirin yang Bikin Rasulullah Gembira)
Ternyata apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut memang terbukti di kemudian hari. Khususnya di saat akan diadakan pemilihan pemimpin pertama di kalangan komunitas Muslim. Sentimen kelompok (Muhajirin dan Anshor) mencuat. Walau kemudian dapat dengan segera diredam sehingga tidak meluas dan meruncing. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar)
Merujuk kepada apa yang dilakukan Rasulullah SAW di awal kepindahan Beliau ke Madinah itu mengingatkan kita kembali tentang realita umat masa kini. Umat ini sedang tercabik-cabik oleh berbagai paham dan isu, yang boleh jadi justru menjadi bagian dari rancangan orang lain untuk merusak Islam dari dalam. (Baca juga: 425 Koin Emas Islam dari Kekhalifahan Abbasiyah Ditemukan di Israel)
Oleh karenanya rekonsiliasi internal semua pihak di kalangan umat ini menjadi sebuah keharusan. Tentu harus dibangun sebuah kesadaran bahwa bagaimanapun juga perbedaan, bahkan dalam hal-hal yang fundamental sekalipun, ukhuwah dan persatuan menjadi sebuah yang mendasar dalam proses kemenangan kolektif.
Perbedaan-perbedaan yang ada adalah bagian dari sunnatullah dalam pembentukan ummah wahidah (umat yang satu) ini. Jangan pernah bermimpi bahwa persatuan umat ini mengharuskan keragaman dalam pemikiran dan karya.
Saya biasanya mengekspresikan dalam bahasa Inggris: unity, not uniformity. Artinya yang diperlukan adalah kesatuan. Bukan menyeragamkan umat ini. Karena memaksa untuk menyamakan segala hal dalam hidup adalah kemustahilan dan bertentangan dengan tabiat hidup itu sendiri.
Saya melihat rekonsiliasi internal umat diperlukan dalam segala skala eksistensinya. Rekonsiliasi dalam penafsiran keagamaan (religious interpretations), sikap politik (political choice), organisasi pergerakan (munazzhomat harakiyah), hingga kepada ikhtilaf sya'biyah wa wathoniyah (keragaman bangsa dan negara). Semua itu adalah realita umat yang tidak harus mencabik-cabik ukhuwah dan persatuan.
Dengan semakin membesarnya umat masa kini, termasuk berkembangnya Islam di negara-negara mayoritas non Muslim seperti Amerika, menjadikan umat semakin mengglobal dan permasalahannya juga kian kompleks. Oleh karena itu upaya rekonsiliasi imaniyah untuk membangun ukhuwah Islamiyah menjadi salah satu haajah asaasiyah al-mu'ashorah (kebutuhan pokok masa kini).
New York, 25 Agustus 2020
(Bersambung)!
Ternyata apa yang dikhawatirkan Rasulullah SAW tersebut memang terbukti di kemudian hari. Khususnya di saat akan diadakan pemilihan pemimpin pertama di kalangan komunitas Muslim. Sentimen kelompok (Muhajirin dan Anshor) mencuat. Walau kemudian dapat dengan segera diredam sehingga tidak meluas dan meruncing. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar)
Merujuk kepada apa yang dilakukan Rasulullah SAW di awal kepindahan Beliau ke Madinah itu mengingatkan kita kembali tentang realita umat masa kini. Umat ini sedang tercabik-cabik oleh berbagai paham dan isu, yang boleh jadi justru menjadi bagian dari rancangan orang lain untuk merusak Islam dari dalam. (Baca juga: 425 Koin Emas Islam dari Kekhalifahan Abbasiyah Ditemukan di Israel)
Oleh karenanya rekonsiliasi internal semua pihak di kalangan umat ini menjadi sebuah keharusan. Tentu harus dibangun sebuah kesadaran bahwa bagaimanapun juga perbedaan, bahkan dalam hal-hal yang fundamental sekalipun, ukhuwah dan persatuan menjadi sebuah yang mendasar dalam proses kemenangan kolektif.
Perbedaan-perbedaan yang ada adalah bagian dari sunnatullah dalam pembentukan ummah wahidah (umat yang satu) ini. Jangan pernah bermimpi bahwa persatuan umat ini mengharuskan keragaman dalam pemikiran dan karya.
Saya biasanya mengekspresikan dalam bahasa Inggris: unity, not uniformity. Artinya yang diperlukan adalah kesatuan. Bukan menyeragamkan umat ini. Karena memaksa untuk menyamakan segala hal dalam hidup adalah kemustahilan dan bertentangan dengan tabiat hidup itu sendiri.
Saya melihat rekonsiliasi internal umat diperlukan dalam segala skala eksistensinya. Rekonsiliasi dalam penafsiran keagamaan (religious interpretations), sikap politik (political choice), organisasi pergerakan (munazzhomat harakiyah), hingga kepada ikhtilaf sya'biyah wa wathoniyah (keragaman bangsa dan negara). Semua itu adalah realita umat yang tidak harus mencabik-cabik ukhuwah dan persatuan.
Dengan semakin membesarnya umat masa kini, termasuk berkembangnya Islam di negara-negara mayoritas non Muslim seperti Amerika, menjadikan umat semakin mengglobal dan permasalahannya juga kian kompleks. Oleh karena itu upaya rekonsiliasi imaniyah untuk membangun ukhuwah Islamiyah menjadi salah satu haajah asaasiyah al-mu'ashorah (kebutuhan pokok masa kini).
New York, 25 Agustus 2020
(Bersambung)!
(poe)
Lihat Juga :