Hijrah, Pilar Peradaban Modern (2)
Rabu, 26 Agustus 2020 - 11:00 WIB
loading...
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali. Foto/Dok. SINDOnews
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
DIBANGUNNYA masjid sebagai awal perjalanan membangun peradaban itu juga menunjukkan bahwa peradaban dalam Islam tidak akan bisa terpisahkan dari "koneksi samawi" (nilai-nilai ketuhanan). Bahwa peradaban dalam Islam tidak ditandai oleh gedung-gedung yang mencakar langit. Tidak pula oleh akumulasi keuangan di pusat-pusat bisnis dan perbankan. (Baca juga: Hijrah, Pilar Peradaban Modern (1))
Peradaban dalam Islam adalah pembangunan yang mengkombinasi (menyatukan) jasad, akan dan ruh, materi, ilmu, dan spiritualitas. Masjid adalah gedung yang penampakannya seperti gedung-gedung yang lain. Tapi masjid itu menjadi tempat di mana Asma Allah dikumandangkan (yudzkaru fiiha ismullah). Sehingga gedung yang sejatinya juga terbuat dari materi yang sama ternyata memiliki nilai (value) yang berbeda. (Baca juga: Inilah Musuh Kita yang Sebenarnya, 9 Nama Setan dan Tugasnya)
Dan di situ pulalah kekhasan peradaban Islam. Peradaban yang memiliki nilai atau makna yang agung. Bukan sekadar bernilai material duniawi. Tapi nilai samawi (heavenly value) yang berisifat luhur dan abadi.
Peradaban Islami inilah yang didambakan oleh kehidupan semua manusia normal. Manusia yang menginginkan "kebahagiaan" dan bukan sekadar "kesenangan". Peradaban yang terkoneksi secara samawi akan membawa kesenangan (mataa’). Tapi hampa dari kebahagiaan (sa’adah).
Dan peradaban ini pulalah yang diimpikan oleh dunia modern yang hingga saat ini sekadar mampu menawarkan kesenangan, bukan kebahagiaan. (Baca juga: Awalnya Salat di Garasi Rumah, Kini Islam Bersemi di Samudera Atlantik Utara)
Barangkali peradaban yang seperti inilah yang digambarkan dalam Alquran : "baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur" (negeri yang indah yang diridhoi oleh Tuhan yang Maha pengampun). Atau lebih jelas lagi Allah menggambarkannya: “Kalau saja penduduk negeri itu beriman dan bertakwa akan Kami bukakan pintu-pintu barokah dari langit dan bumi”.
Ayat itu jelas dan tegas mengaitkan secara dekat dan tak terpisahkan antara keberkahan langit dan bumi. Dengan keberkahan langit terbuka, berkah-berkah bumi akan pula terbuka. Dan ini pula yang menjadi karakteristik utama peradaban Islam. (Baca juga: Rasulullah SAW Tegur Pedagang yang Berbuat Curang)
Rekonsiliasi Internal
Hal kedua yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW setiba di Madinah adalah "at-taakhaa" atau membangun "ukhuwah imaniyah" antara kaum Muhajirin dan Anshor . Sebuah kebijakan pemimpin (leadership policy) yang sangat krusial dalam membangun kesatuan umatnya.
Jika kita melihat Alquran maupun hadits-hadits akan didapati bahwa perintah bersatu dan ukhuwah menyusul setelah perintah takwa dan iman itu sendiri. Perhatikan ayat ini: "wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian dengan takwa yang sesungguhnya. Dan janganlah mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Ayat yang memerintahkan bertakwa ini dengan tegas dan segera disusul dengan perintah bersatu: "Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan berpecah belah...". (Baca juga: Wahai Muslimah, Yuk Sibukkan Dirimu Dengan Membaca Al-Qur'an)
Urgensi ukhuwah ini menjadikan Rasulullah SAW setiba di Madinah segera menindaklanjutinya. Khususnya antara dua kelompok yang baru saling berinteraksi yang sudah pasti ada rasa asing dan jarak.
Kedua kelompok, Muhajirin dan Anshor, ini memiliki alasan untuk merasa lebih dari yang lain. Muhajirin bisa merasa lebih karena kedekatan dengan Rasulullah sejak awal perjuangan. Sementara Anshor bisa merasa lebih karena merekalah sebagai "tuan rumah" di saat Muhajirin diusir dari tanah kelahiran mereka.
Presiden Nusantara Foundation
DIBANGUNNYA masjid sebagai awal perjalanan membangun peradaban itu juga menunjukkan bahwa peradaban dalam Islam tidak akan bisa terpisahkan dari "koneksi samawi" (nilai-nilai ketuhanan). Bahwa peradaban dalam Islam tidak ditandai oleh gedung-gedung yang mencakar langit. Tidak pula oleh akumulasi keuangan di pusat-pusat bisnis dan perbankan. (Baca juga: Hijrah, Pilar Peradaban Modern (1))
Peradaban dalam Islam adalah pembangunan yang mengkombinasi (menyatukan) jasad, akan dan ruh, materi, ilmu, dan spiritualitas. Masjid adalah gedung yang penampakannya seperti gedung-gedung yang lain. Tapi masjid itu menjadi tempat di mana Asma Allah dikumandangkan (yudzkaru fiiha ismullah). Sehingga gedung yang sejatinya juga terbuat dari materi yang sama ternyata memiliki nilai (value) yang berbeda. (Baca juga: Inilah Musuh Kita yang Sebenarnya, 9 Nama Setan dan Tugasnya)
Dan di situ pulalah kekhasan peradaban Islam. Peradaban yang memiliki nilai atau makna yang agung. Bukan sekadar bernilai material duniawi. Tapi nilai samawi (heavenly value) yang berisifat luhur dan abadi.
Peradaban Islami inilah yang didambakan oleh kehidupan semua manusia normal. Manusia yang menginginkan "kebahagiaan" dan bukan sekadar "kesenangan". Peradaban yang terkoneksi secara samawi akan membawa kesenangan (mataa’). Tapi hampa dari kebahagiaan (sa’adah).
Dan peradaban ini pulalah yang diimpikan oleh dunia modern yang hingga saat ini sekadar mampu menawarkan kesenangan, bukan kebahagiaan. (Baca juga: Awalnya Salat di Garasi Rumah, Kini Islam Bersemi di Samudera Atlantik Utara)
Barangkali peradaban yang seperti inilah yang digambarkan dalam Alquran : "baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur" (negeri yang indah yang diridhoi oleh Tuhan yang Maha pengampun). Atau lebih jelas lagi Allah menggambarkannya: “Kalau saja penduduk negeri itu beriman dan bertakwa akan Kami bukakan pintu-pintu barokah dari langit dan bumi”.
Ayat itu jelas dan tegas mengaitkan secara dekat dan tak terpisahkan antara keberkahan langit dan bumi. Dengan keberkahan langit terbuka, berkah-berkah bumi akan pula terbuka. Dan ini pula yang menjadi karakteristik utama peradaban Islam. (Baca juga: Rasulullah SAW Tegur Pedagang yang Berbuat Curang)
Rekonsiliasi Internal
Hal kedua yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW setiba di Madinah adalah "at-taakhaa" atau membangun "ukhuwah imaniyah" antara kaum Muhajirin dan Anshor . Sebuah kebijakan pemimpin (leadership policy) yang sangat krusial dalam membangun kesatuan umatnya.
Jika kita melihat Alquran maupun hadits-hadits akan didapati bahwa perintah bersatu dan ukhuwah menyusul setelah perintah takwa dan iman itu sendiri. Perhatikan ayat ini: "wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian dengan takwa yang sesungguhnya. Dan janganlah mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Ayat yang memerintahkan bertakwa ini dengan tegas dan segera disusul dengan perintah bersatu: "Dan berpeganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan berpecah belah...". (Baca juga: Wahai Muslimah, Yuk Sibukkan Dirimu Dengan Membaca Al-Qur'an)
Urgensi ukhuwah ini menjadikan Rasulullah SAW setiba di Madinah segera menindaklanjutinya. Khususnya antara dua kelompok yang baru saling berinteraksi yang sudah pasti ada rasa asing dan jarak.
Kedua kelompok, Muhajirin dan Anshor, ini memiliki alasan untuk merasa lebih dari yang lain. Muhajirin bisa merasa lebih karena kedekatan dengan Rasulullah sejak awal perjuangan. Sementara Anshor bisa merasa lebih karena merekalah sebagai "tuan rumah" di saat Muhajirin diusir dari tanah kelahiran mereka.
Lihat Juga :