Kisah Sahabat Tuhan, Pemabuk, dan Cinta Buta

Kamis, 10 September 2020 - 06:36 WIB
loading...
Kisah Sahabat Tuhan,...
Ilustrasi/Ist
A A A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )

===

SEEKOR burung lain bertanya pada Hudhud , "Katakan padaku, kau yang terpuji di seluruh dunia, apakah yang mesti kuperbuat agar merasa puas akan perjalanan ini? Jika kau katakan padaku, hatiku akan menjadi lebih ringan dan aku akan bersedia dipimpin dalam usaha ini."

"Sesungguhnya, petunjuk perlu, agar kita tak menjadi takut. Karena aku hanya ingin menerima petunjuk dari dunia gaib , maka dengan alasan yang layak, ku tolak petunjuk palsu dari makhluk-makhluk di bumi." (Baca juga: Kisah Syaikh Abubakar, Jangggut Panjang, dan Nasihat Iblis kepada Nabi Musa )

"Selama kau hidup," jawab Hudhud, "hendaklah kau merasa puas mengingat Tuhan, dan waspadalah terhadap omongan yang tak bijaksana. Bila kau dapat berbuat demikian, kerisauan dan kesedihan jiwamu akan lenyap."

Hiduplah dalam Tuhan dengan rasa puas; berputarlah bagai kubah langit lantaran cinta pada-Nya. Jika ada yang lebih baik lagi kau ketahui, katakanlah itu, o burung malang, agar kau dapat merasa bahagia setidak-tidaknya buat sejenak." (Baca juga: Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya )

Sahabat Tuhan
Seorang sahabat Tuhan yang hampir meninggal mulai menangis dan orang-orang yang ada bersamanya menanyakan kenapa. "Aku menangis bagai awan-awan musim semi," katanya, "karena saatnya telah tiba ketika aku akan mati dan aku risau. Mengingat bahwa hatiku sudah senantiasa bersama Tuhan, bagaimana mungkin aku akan mati?" (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )

Seorang dari mereka yang hadir berkata, "Karena hatimu selalu bersama Tuhan, maka kau akan mendapatkan kematian yang baik." Sufi itu menjawab, "Bagaimana mungkin ajal datang pada dia yang menyatukan diri dengan Tuhan! Karena aku sudah bersamaNya, maka kematianku tampaknya mustahil."

Ia yang puas untuk hidup sebagai bagian dari kesemestaan yang besar meninggalkan nafsu keakuannya dan menjadi bebas. Beradalah kau dalam kepuasan dengan sahabatmu, bagai mawar dalam kelopak. (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )

Kiasi
Seorang yang telah mencapai kesempurnaan berkata, "Selama tujuh tahun aku telah menyempurnakan diri dan kini aku berada dalam haru-gembira, kepuasan dan kebahagiaan, dan dalam keadaan begini, aku pun ikut serta memiliki Keagungan luhur dan menyatu dengan Keilahian itu sendiri. Adapun kalian, sementara kalian sibuk mencari kesalahan orang-orang lain, bagaimana mungkin kalian akan merasakan kegembiraan di dunia gaib? Jika kalian mencari kesalahan-kesalahan dengan mata menyelidik, bagaimana mungkin kalian mengetahui hal-hal di dunia batin? Kalian tiada segan berbuat begitu teliti mencari kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan-kesalahan kalian sendiri, kalian buta. Maka akuilah kesalahan-kesalahan kalian sendiri, meskipun kalian berdosa, Tuhan akan menaruh belas kasih pada kalian." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )

Mabuk
Seorang laki-laki yang kelewat banyak minum minuman jernih itu, sering sampai pada keadaan di mana dia kehilangan baik kesadaran maupun rasa kehormatan dirinya. Suatu kali, seorang kawan memergokinya dalam keadaan yang patut disayangkan, terbaring di jalan. (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )

Demikianlah si kawan mendapatkan karung lalu menaruh si mabuk dalam karung itu dengan memasukkan kakinya lebih dulu, kemudian mendukung karung itu di pundaknya dan membawanya pulang.

Di tengah jalan, muncul orang mabuk yang lain, berjalan sempoyongan, ditopang kawannya. Melihat ini, laki-laki yang kepalanya menggelapai dari dalam karung itu bangun, dan melihat orang lain dalam keadaan yang patut dikasihani itu, ia pun berkata menyesalkan, "Ah, laki-laki celaka, lain kali kalau minum anggur, kurangi dua piala lagi, maka kau pun akan dapat berjalan seperti aku sekarang ini --bebas dan sendiri." (Baca juga: Kisah Gila Mereka yang Disebut Sebagai Para Penggila Tuhan )

Keadaan kita sendiri pun tak berbeda. Kita melihat kesalahan-kesalahan karena kita tak cinta. Bila kita punya sedikit saja pengertian tentang cinta yang sebenarnya, kesalahan-kesalahan mereka yang dekat dengan kita akan tampak sebagai sifat-sifat yang baik.

Pecinta dan Kekasihnya
Seorang laki-laki muda, pemberani dan galak bagai singa, selama lima tahun bercinta dengan seorang wanita. Pada yang sebelah dari mata wanita jelita itu ada sebuah bintik kecil, tetapi laki-laki itu, setiap memandang kecantikan kekasihnya, tak pernah melihat bintik itu.

Baca juga: Amien Rais Akan Langsung Sebut Nama dan Lambang Partai Baru? Ini Penjelasan Loyalisnya

Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang sedang mabuk cinta, memperhatikan suatu cacat yang begitu kecil?

Namun, pada waktunya, cintanya mulai berkurang dan ia pun mendapatkan kembali kewaspadaannya. Pada saat itulah ia dapat melihat bintik itu, dan bertanya pada kekasihnya bagaimana dapat terjadi yang demikian.

Kata wanita itu, "Bintik itu tampak pada saat ketika cintamu mulai dingin. Bila cintamu padaku menjadi berkurang, mataku pun menjadi demikian bagimu."

Baca juga: Peneliti CSIS Sebut 12 Calon Tunggal Miliki Keterkaitan dengan PDIP

O yang berhati buta! Berapa lama kau akan terus mencari kesalahan-kesalahan orang lain? Berusahalah untuk melek terhadap apa-apa yang kau sembunyikan dengan begitu cermat. Bila kau melihat kesalahan-kesalahanmu sendiri dengan segala keburukannya, kau tak akan begitu merisaukan kesalahan-kesalahan orang lain.

Baca juga: Muncul Logo PDIP di Sekolah Daring, Begini Kronologinya

Polisi dan Pemabuk
Seorang polisi memukul jatuh seorang laki-laki mabuk yang berkata padanya. "Mengapa menjadi marah begitu rupa? Kau berbuat sesuatu yang melanggar hukum. Aku tak menyakiti seorang pun, tetapi kau melibatkan dirimu sendiri dalam kemabukan dan melemparkan kemabukan itu ke jalan. Kau jauh lebih mabuk daripada aku, tetapi tak seorang pun memperhatikan ini. Maka tinggalkan aku sendiri, dan tuntutlah keadilan terhadap dirimu sendiri."

(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
15 Hikmah Isra Mikraj...
15 Hikmah Isra Mikraj bagi Kehidupan, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Rahasia dan Hikmah Hujan...
Rahasia dan Hikmah Hujan Menurut Islam, Begini Penjelasannya
5 Keutamaan dan Hikmah...
5 Keutamaan dan Hikmah Salat Berjamaah bagi Umat Islam
Hikmah Disyariatkannya...
Hikmah Disyariatkannya Mandi Junub bagi Muslim yang Berhadas Besar
5 Hikmah dan Tips Hadapi...
5 Hikmah dan Tips Hadapi Musibah Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Hikmah Beriman pada...
Hikmah Beriman pada Qadha dan Qadar, Umat Muslim Wajib Tahu!
Rekomendasi
Hujan Asteroid 800 Juta...
Hujan Asteroid 800 Juta Tahun Lalu Sebabkan Musim Dingin Parah di Bumi
Data Satelit NASA Selama...
Data Satelit NASA Selama 24 Tahun Ungkap Hal Menakutkan Ini Bakal Terjadi di Bumi
Super Blue Blood Moon...
Super Blue Blood Moon 2018, Gerhana Bulan Terindah Sepanjang Sejarah yang Sangat Jarang Terjadi
Artikel Terkini
Mengenal Keutamaan Puasa...
Mengenal Keutamaan Puasa Asyura, Puasa Sehari Penghapus Dosa Setahun
Mengenal 3 Amalan Utama...
Mengenal 3 Amalan Utama Bulan Muharram, Sayang untuk Dilewatkan!
Muharram dan Lahirnya...
Muharram dan Lahirnya Kalender Hijriyah: Kisah di Balik Penanggalan Umat Islam
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Infografis
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah...
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah Yang Karyanya Mendunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved