Ustaz Adi Hidayat: Hafizh Itu Good Looking, Mereka Bukan Golongan Radikal

loading...
Ustaz Adi Hidayat: Hafizh Itu Good Looking, Mereka Bukan Golongan Radikal
Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat menyampaikan tausiyahnya dalam satu kajian beberapa waktu lalu. Foto/Ist
Islam adalah agama yang mengajarkan kejujuran dan kelembutan. Al-Qur'an membawa ayat-ayat tentang jujur, ketawadhu'an, anti dusta, anti kekerasan dan lainnya. Itu sebabnya para Hafizh (حافظ) Qur'an sangat dimuliakan Allah Ta'ala. Boleh disebut mereka adalah Good Looking, bukan golongan radikal.

Mereka mengkaji Al-Qur'an , mempelajari Al-Qur'an , dan menghafalnya dan semuanya adalah bagian dari ibadah. Menjadi Hafizh dijamin oleh negara. Menjadi ahli Qur'an dijamin oleh negara. Mempraktikkan Al-Qur'an juga dijamin oleh negara. Dengan jaminan itu kita berharap semua bisa mengamalkan isi Al-Qur'an dengan benar sehingga tampil lebih elegan Good Looking. (Baca Juga: Keutamaan Hafizh Qur'an Dapat Memberi Syafaat kepada 10 Keluarganya )

"Jika anda membaca Al-Qur'an dengan benar, tunjukkan kepada saya di titik mana anda temukan kekerasan dalam Al-Qur'an? Di titik mana anda temukan bimbingan ekstrimisme dalam Al-Qur'an ? Di titik mana anda temukan keburukan dalam Al-Qur'an ? Jangankan tindakan kasar, untuk melihat yang tak baik saja tidak diperkenankan," tegas Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat saat mengisi kajiannya di Bekasi.

Perlu diketahui, Al-Qur'an diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) setidaknya kurang lebih selama 23 tahun sejak periode Mekkah 13 tahun, periode Madinah 10 tahun. Dahsyatnya, dalam periode ini dihasilkanlah manusia-manusia berkualitas yang dibimbing, bukan sekadar bisa membaca Al-Qur'an , tapi mereka menanamkan Al-Qur'an ke dalam jiwa.

Para sahabat yang mulia mulai menghafalnya. Mereka tidak sekadar membacanya dengan lisan mereka, tapi menenggelamkan bacaan dari lisan itu dihujamkan ke dalam jiwanya. Mereka jaga itu semua, mereka hafalkan. (Baca Juga: Tiga Penghafal Qur'an Pertama di Dunia )



Dalam bahasa Arab, sesuatu yang dijaga dengan cara menghafalnya disebut dengan hafizah (yahfazh). Orangnya disebut dengan Hafizh . Hafizh orang yang menjaga, orang yang menghafalkan sesuatu untuk menjaganya bila konteks ini disematkan pada manusia.

Ketika mereka menghafal ayat-ayat tentang mata, Allah memerintahkan agar melihat yang baik-baik, memandang yang baik saja, tinggalkan yang buruk, jauhi pornografi, jauhi pornoaksi, hal-hal yang jelek. Dengan hafalan tersebut, seorang hafizh akan dibimbing melihat yang baik saja, maka mustahil ada seorang hafizh melihat hal-hal yang buruk.

Begitu juga ketika ayat tentang telinga mulai dihafalkan tembus ke jiwa, maka ayat itu akan memberikan sebuah bimbingan iman untuk mendengar yang baik-baik saja. Demikian juga lisan sampai ke ujung kaki. Puncaknya seorang hafizh, bisa menghafal Al-Qur'an dengan benar.

(Baca Juga: Sebut Good Looking-Hafiz Sebar Radikalisme, Menag Dinilai Sesat Nalar )

"Anda tidak harus dituntut untuk menghafalkan 30 juz. Tapi yang diinginkan Al-Qur'an , setiap ayat yang kita baca, kita hafalkan, kita terjemahkan dalam bentuk perilaku," kata Ustaz Adi Hidayat .

Ustaz Adi Hidayat menceritakan di zaman Nabi SAW ada banyak pengusaha sekelas Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, Sayyidina Utsman bin Affan, Abdurrahman bin auf radhiyallahu 'anhum, mereka adalah penghafal Al-Qur'an dan menerjemahkan hafalan itu dalam bentuk perilaku. Apa yang terjadi? Mereka sukses, asetnya banyak, dan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai kebaikan.

Ada Sayyidina Khalid bin Walid, Sayyidina Umar bin Khatthab, Sayyidina 'Amr bin Ash, tidak diragukan lagi kualitas kepemimpinan mereka bisa menaklukkan Persia, Romawi. Mereka ahli strategi tapi mereka juga penghafal Al-Qur'an . Ada ahli ilmu seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallaahu wajhah, Sayyidina Abu Hurairah tidak diragukan bagaimana dahsyatnya keilmuan mereka, mereka juga hafizh.

Ada arsitek seperti Sayyidina Salman Al-Farisi radhiyallaahu 'anhu, dengan ilmunya beliau membentengi Kota Madinah dengan membuat parit-parit yang sekarang namanya dikenang. Mereka semua ahli Qur'an, semuanya hafizh . Dalam bahasa kekinian mereka adalah Good Looking. Bukan golongan radikal, bukan golongan ekstrem.

Karena itu, jangan lupakan negeri kita Republik Indonesia. Bukankah saham terbesarnya adalah dari para ulama yang berjuang dengan rasa cintanya kepada negeri ini. Bukankah para ulama kita dahulu itu ahli Al-Qur'an ? Mereka mengorbankan nyawa, harta untuk memerdekakan bangsa ini. Dan itu semua buah dari mengamalkan isi Al-Qur'an.

(Baca Juga: Rapat dengan DPR, Menag Diingatkan Jangan Lagi Bikin Kontroversi )

Pertanyaannya, kapan kemudian ekstrimisme mulai muncul? Kapan radikalisme mulai nampak dalam kehidupan? Yang paling mudah untuk diamati semua itu terjadi ternyata ketika nilai-nilai Al-Qur'an semakin ditinggalkan.

"Anda bisa bayangkan jika pejabat seorang hafizh, mustahil dia melihat catatan-catatan yang salah, angka-angka yang keliru. Proyek yang salah saja tak mampu, apalagi menggerakkan tanda tangannya untuk hal yang tidak baik. Jemari orang yang salat dan menghafal Qur'an mustahil dipakai berbuat maksiat," terang Ustaz Adi Hidayat .

Allah Ta'ala berfirman"

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ
halaman ke-1
cover top ayah
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,

(QS. Al-Insyirah:5)
cover bottom ayah
preload video