Ustaz Adi Hidayat: Hafizh Itu Good Looking, Mereka Bukan Golongan Radikal
Rabu, 09 September 2020 - 19:09 WIB
loading...
Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat menyampaikan tausiyahnya dalam satu kajian beberapa waktu lalu. Foto/Ist
A
A
A
Islam adalah agama yang mengajarkan kejujuran dan kelembutan. Al-Qur'an membawa ayat-ayat tentang jujur, ketawadhu'an, anti dusta, anti kekerasan dan lainnya. Itu sebabnya para Hafizh (حافظ) Qur'an sangat dimuliakan Allah Ta'ala. Boleh disebut mereka adalah Good Looking, bukan golongan radikal.
Mereka mengkaji Al-Qur'an , mempelajari Al-Qur'an , dan menghafalnya dan semuanya adalah bagian dari ibadah. Menjadi Hafizh dijamin oleh negara. Menjadi ahli Qur'an dijamin oleh negara. Mempraktikkan Al-Qur'an juga dijamin oleh negara. Dengan jaminan itu kita berharap semua bisa mengamalkan isi Al-Qur'an dengan benar sehingga tampil lebih elegan Good Looking. (Baca Juga: Keutamaan Hafizh Qur'an Dapat Memberi Syafaat kepada 10 Keluarganya )
"Jika anda membaca Al-Qur'an dengan benar, tunjukkan kepada saya di titik mana anda temukan kekerasan dalam Al-Qur'an? Di titik mana anda temukan bimbingan ekstrimisme dalam Al-Qur'an ? Di titik mana anda temukan keburukan dalam Al-Qur'an ? Jangankan tindakan kasar, untuk melihat yang tak baik saja tidak diperkenankan," tegas Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat saat mengisi kajiannya di Bekasi.
Perlu diketahui, Al-Qur'an diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) setidaknya kurang lebih selama 23 tahun sejak periode Mekkah 13 tahun, periode Madinah 10 tahun. Dahsyatnya, dalam periode ini dihasilkanlah manusia-manusia berkualitas yang dibimbing, bukan sekadar bisa membaca Al-Qur'an , tapi mereka menanamkan Al-Qur'an ke dalam jiwa.
Para sahabat yang mulia mulai menghafalnya. Mereka tidak sekadar membacanya dengan lisan mereka, tapi menenggelamkan bacaan dari lisan itu dihujamkan ke dalam jiwanya. Mereka jaga itu semua, mereka hafalkan. (Baca Juga: Tiga Penghafal Qur'an Pertama di Dunia )
Dalam bahasa Arab, sesuatu yang dijaga dengan cara menghafalnya disebut dengan hafizah (yahfazh). Orangnya disebut dengan Hafizh . Hafizh orang yang menjaga, orang yang menghafalkan sesuatu untuk menjaganya bila konteks ini disematkan pada manusia.
Ketika mereka menghafal ayat-ayat tentang mata, Allah memerintahkan agar melihat yang baik-baik, memandang yang baik saja, tinggalkan yang buruk, jauhi pornografi, jauhi pornoaksi, hal-hal yang jelek. Dengan hafalan tersebut, seorang hafizh akan dibimbing melihat yang baik saja, maka mustahil ada seorang hafizh melihat hal-hal yang buruk.
Begitu juga ketika ayat tentang telinga mulai dihafalkan tembus ke jiwa, maka ayat itu akan memberikan sebuah bimbingan iman untuk mendengar yang baik-baik saja. Demikian juga lisan sampai ke ujung kaki. Puncaknya seorang hafizh, bisa menghafal Al-Qur'an dengan benar.
(Baca Juga: Sebut Good Looking-Hafiz Sebar Radikalisme, Menag Dinilai Sesat Nalar )
"Anda tidak harus dituntut untuk menghafalkan 30 juz. Tapi yang diinginkan Al-Qur'an , setiap ayat yang kita baca, kita hafalkan, kita terjemahkan dalam bentuk perilaku," kata Ustaz Adi Hidayat .
Mereka mengkaji Al-Qur'an , mempelajari Al-Qur'an , dan menghafalnya dan semuanya adalah bagian dari ibadah. Menjadi Hafizh dijamin oleh negara. Menjadi ahli Qur'an dijamin oleh negara. Mempraktikkan Al-Qur'an juga dijamin oleh negara. Dengan jaminan itu kita berharap semua bisa mengamalkan isi Al-Qur'an dengan benar sehingga tampil lebih elegan Good Looking. (Baca Juga: Keutamaan Hafizh Qur'an Dapat Memberi Syafaat kepada 10 Keluarganya )
"Jika anda membaca Al-Qur'an dengan benar, tunjukkan kepada saya di titik mana anda temukan kekerasan dalam Al-Qur'an? Di titik mana anda temukan bimbingan ekstrimisme dalam Al-Qur'an ? Di titik mana anda temukan keburukan dalam Al-Qur'an ? Jangankan tindakan kasar, untuk melihat yang tak baik saja tidak diperkenankan," tegas Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat saat mengisi kajiannya di Bekasi.
Perlu diketahui, Al-Qur'an diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) setidaknya kurang lebih selama 23 tahun sejak periode Mekkah 13 tahun, periode Madinah 10 tahun. Dahsyatnya, dalam periode ini dihasilkanlah manusia-manusia berkualitas yang dibimbing, bukan sekadar bisa membaca Al-Qur'an , tapi mereka menanamkan Al-Qur'an ke dalam jiwa.
Para sahabat yang mulia mulai menghafalnya. Mereka tidak sekadar membacanya dengan lisan mereka, tapi menenggelamkan bacaan dari lisan itu dihujamkan ke dalam jiwanya. Mereka jaga itu semua, mereka hafalkan. (Baca Juga: Tiga Penghafal Qur'an Pertama di Dunia )
Dalam bahasa Arab, sesuatu yang dijaga dengan cara menghafalnya disebut dengan hafizah (yahfazh). Orangnya disebut dengan Hafizh . Hafizh orang yang menjaga, orang yang menghafalkan sesuatu untuk menjaganya bila konteks ini disematkan pada manusia.
Ketika mereka menghafal ayat-ayat tentang mata, Allah memerintahkan agar melihat yang baik-baik, memandang yang baik saja, tinggalkan yang buruk, jauhi pornografi, jauhi pornoaksi, hal-hal yang jelek. Dengan hafalan tersebut, seorang hafizh akan dibimbing melihat yang baik saja, maka mustahil ada seorang hafizh melihat hal-hal yang buruk.
Begitu juga ketika ayat tentang telinga mulai dihafalkan tembus ke jiwa, maka ayat itu akan memberikan sebuah bimbingan iman untuk mendengar yang baik-baik saja. Demikian juga lisan sampai ke ujung kaki. Puncaknya seorang hafizh, bisa menghafal Al-Qur'an dengan benar.
(Baca Juga: Sebut Good Looking-Hafiz Sebar Radikalisme, Menag Dinilai Sesat Nalar )
"Anda tidak harus dituntut untuk menghafalkan 30 juz. Tapi yang diinginkan Al-Qur'an , setiap ayat yang kita baca, kita hafalkan, kita terjemahkan dalam bentuk perilaku," kata Ustaz Adi Hidayat .
Lihat Juga :