Menjelang Subuh, Waktu Sahur Nabi dan Para Sahabat

loading...
Menjelang Subuh, Waktu Sahur Nabi dan Para Sahabat
Waktu paling baik makan sahur ialah di sepertiga terakhir malam. Ilustrasi/Ist
Makan sahur sangat disunahkan bagi orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Sahurlah karena di sana terdapat keberkahan”. Makan sahur merupakan keringanan (rukhsah) bagi orang yang ingin mengerjakan puasa.

Menahan haus dan lapar seharian penuh tentu sangat memberatkan. Karenanya, Allah SWT mensyariatkan makan sahur dan buka puasa agar ibadahnya tidak terlalu berat.

Allah SWT sangat suka terhadap orang yang mengerjakan sesuatu yang sudah diringankan-Nya. Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk mengakhirkan sahur.

Baca juga: Lagi Makan Sahur Terdengar Adzan, Berhenti Makan Atau Diteruskan?

Anjuran Nabi ini terdapat dalam banyak hadis. Misalnya hadis riwayat Ahmad, “Umatku berada dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur”.

Menurut Abu Bakar Al-Kalabazi, maksud dari mengakhirkan sahur tersebut ialah makan sahur di sepertiga terakhir malam. Dalam kitabnya Bahrul Fawaid disebutkan: “Nabi SAW pernah ditanya, ‘Malam apa yang paling didengar (do’a)?’ ‘Sepertiga terakhir malam,’ tegas Nabi SAW.

Dalam hadis lain, Nabi SAW berkata, ‘Mengakhirkan sahur ialah bagian dari fitrah.’ Kemungkinan yang dimaksud mengakhirkan sahur di sini ialah mengerjakannya di sepertiga terakhir malam. Karena pada waktu itu doa, ampunan, dan hajat dikabulkan Allah SWT.”

Berdasarkan keterangan ini, tampaknya tujuan dari mengakhirkan sahur itu bukan semata makan dan minum, tetapi mesti diiringi dengan ibadah lainnya, seperti sholat, zikir, dan berdo’a. Sebab itulah waktu terbaik untuk beribadah, terutama berdo’a.

Dilihat dari kebiasaan Nabi Muhammad SAW, beliau sangat terbiasa bangun tengah malam dan salat malam. Sangat dimungkinkan jika Nabi SAW beribadah terlebih dahulu, baru makan sahur menjelang waktu subuh.

Berdasarkan kesaksian Hudzaifah, ia pernah makan sahur bersama Nabi Muhammad SAW saat menjelang subuh, (HR Ibnu Majah).

Kesaksian Hudzaifah ini diperkuat oleh pengakuan Zaid bin Tsabit. Zaid pernah sahur bersama Nabi Muhammad SAW kemudian setelah itu salat berjamaah. Ketika ditanya, berapa lama jarak antara selesai makan dan salat, Zaid menjawab, “Kisaran membaca lima puluh ayat,” (HR Ibnu Majah).

Baca juga: Hukum Puasa Tanpa Makan Sahur, Simak Penjelasan Berikut

Dengan memperhatikan berbagai pendapat dan riwayat ini, dapat disimpulkan bahwa waktu paling baik makan sahur ialah di sepertiga terakhir malam, terutama menjelang waktu subuh. Usahakan jarak antara makan dan waktu subuh tidak terlalu dekat, supaya makannya tidak terburu-buru dan ada kesempatan untuk menyikat gigi.

Selanjutnya, hikmah sahur menjelang waktu subuh juga banyak.

Pertama, agar kita cukup kuat menahan lapar dari saat awal berpuasa (waktu subuh) hingga akhir berpuasa (waktu maghrib) pada hari itu. Bandingkan dengan jika kita sahur setelah salat tarawih.

Kedua, agar jarak antara selesainya kita makan sahur dengan saat salat subuh tidak jauh. Ini memungkinkan kita untuk bersegera melakukan salat subuh di awal waktu.

Ketiga, sudah banyak bukti orang ketika tidur kembali setelah makan sahur, misalnya karena waktu subuh dirasa masih lama, maka salat subuhnya menjadi kesiangan karena terlambat bangun.

Ini adalah kerugian besar. Jadi memang makan sahur di akhir waktu lebih baik dari pada waktu-waktu sebelumnya, seperti sehabis salat tarawih ataupun tengah malam. Wallahu a’lam.

Baca juga: Kisah Indah Jelang Buka Puasa Sayyidah Aisyah
(mhy)
preload video