Mahkota Sufi Omar Khayyam (2)

Omar Khayyam Bisa Dibilang Suara Abadi bagi Para Sufi

loading...
Omar Khayyam Bisa Dibilang Suara Abadi bagi Para Sufi
Omar Khayyam. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
TUGAS berat dan seksama telah dicurahkan untuk meneliti orisinalitas dan kemurnian syair-syair dari berbagai koleksi karya Omar Khayyam. Dari sudut pandang sufi, karena Omar bukanlah guru dari sebuah madzhab mistik melainkan ia adalah seorang guru mandiri, maka masalah itu kehilangan kaitan. (Baca juga: Misteri Omar Khayyam: Dia Tidak Merepresentasikan Dirinya Sendiri)

Idries Shah dalam bukunya The Sufis memaparkan para peneliti telah menunjukkan minat terhadap kemungkinan pengaruh penyair buta Abu Ali al-Ma'ari atas diri Omar. Di dalam Luzum yang ditulis segenerasi sebelum Khayyam, al-Ma'ari telah mempublikasikan berbagai puisi yang tampaknya mengingatkan pada karya puitis Khayyam. (Baca juga: Ibnu Arabi Dianggap Pembohong Besar dan Ahli Bid'ah, Ini Sebabnya)

Al-Ma'ari telah menulis puisi yang senada dengan puisi Omar, demikian sebaliknya, sebagaimana akan dikatakan seorang sufi, karena mereka berdua menulis dari sudut pandang madzhab yang sama. Khayyam mungkin telah menyitir al-Ma'ari, laksana dua perenang saling meniru ketika mereka berenang bersama, mempelajari baik secara terpisah atau bersama-sama dari sumber yang sama. (Baca juga: Mengapa Mereka Mengklaim Ibnu Arabi Orang Kristen Rahasia?)

Hal ini menimbulkan kebuntuan ketika beberapa pengamat sastra meneliti satu segi karya, sementara pengamat lain (mistik) terlibat dan terpengaruh dalam konteks tertentu.

Khayyam adalah suara sang Sufi dan bagi Sufi, suara itu abadi. Puisi tidak akan terikat begitu saja pada teori pemusatan waktu. Memang benar bahwa Khayyam diperhatikan kembali di Persia karena popularitas terjemahan tersebut, jika kita setuju menafsirkan "Khayyam tidak dikenal di kalangan non-Sufi sampai akhir-akhir ini di Persia. Namun melalui berbagai upaya para sarjana Barat, karyanya telah dikenal luas di luar kalangan Sufi di Persia." (Baca juga: Ibnu Arabi Antara Anak Gergaji dan yang Menghidupkan Agama)



Profesor Cowell yang telah memperkenalkan Omar kepada FitzGerald dan menganggapnya sebagai orang Persia, menemukan kandungan sufistik dalam karya Omar setelah berbagai diskusinya dengan sarjana-sarjana India asal Persia.

Beberapa sarjana menyimpulkan bahwa mereka ini telah menyesatkan si Profesor. Beberapa pakar Barat tidak mengungkapkan kandungan Sufi dalam karya Omar. (Baca juga: Tak Ada Puisi Cinta yang Lebih Besar dari Karya Ibnu Arabi)

Sementara Pendeta Dr. T.H. Weir, seorang ahli sastra Arab (Khayyam menulis karyanya dalam bahasa Persia), menulis sebuah buku tentang Omar yang di dalamnya menyatakan dengan sangat jelas persoalan ini. "Yang benar adalah," katanya (dalam Omar Khayyam the Poet), "tidak mungkin seorang (sarjana) membaca enam baris syair Omar tanpa melihat bahwa tidak ada mistisisine di dalamnya, apalagi dalam Burns." Namun ia tidak menjelaskan: apa jenis mistisisme yang diacunya, bagaimana ia mengidentifikasikannya.



Baca juga: Tak Ada Jaminan Bebas Corona, Desakan Penundaan Pilkada Bergulir

FitzGerald sendiri merasa kebingungan terhadap pribadi Omar. Ia kadangkala mengangap Omar sebagai sufi, namun terkadang bukan. Padahal ia sendiri telah memahami sebagian besar pemikiran sufi.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ مِنۡهُ اٰيٰتٌ مُّحۡكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الۡكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ‌ؕ فَاَمَّا الَّذِيۡنَ فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَآءَ تَاۡوِيۡلِهٖۚ وَمَا يَعۡلَمُ تَاۡوِيۡلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ ؔ‌ۘ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِى الۡعِلۡمِ يَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ‌ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
Allah-lah yang menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (ayat yang mudah dipahami), itulah pokok-pokok Al-Qur'an dan yang lain mutasyabihat (ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepada Al-Qur'an, semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.

(QS. Ali 'Imran:7)
cover bottom ayah
preload video