Kisah Tabiin Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kaisar Romawi Sumbang 100 Kg Emas, Ubin Marmer, dan 100 Arsitek untuk Masjid Nabawi

loading...
Kaisar Romawi Sumbang 100 Kg Emas, Ubin Marmer, dan 100 Arsitek untuk Masjid Nabawi
Masjid Nabawi tempo dulu. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
SUATU ketika Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas Masjid Nabawi. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada ke empat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi. (Baca juga: Al-Qasim: Derita Panjang Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Semasa Kecil)

Dr. Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya yang berjudul “Mereka adalah Para Tabi’in” memaparkan persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khalifah menulis surat kepada Wali Madinah yang kala itu dijabat Umar bin Abdul Aziz. Isi surat itu sebagai berikut:

“Saya memandang perlunya memperluas Masjid Nabawi Asy-Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkan hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda adalah keturunan Ibnu Khattab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat.

Jika penduduk Madinah menolaknya, Anda bisa minta bantuan kepada Al-Qasim bin Muhammad juga Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan ini. Jangan lupa, bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti apa yang dilakukan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.”

Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang Al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kepada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh khalifah dan siap sedia untuk mendukung rencana itu. (Baca juga: Umar bin Abdul Aziz Minta Nasehat Si Burung Merak Ini)

Demi melihat imam-imam dan ulama mereka turun tangan sendiri melaksanakan pemugaran masjid, penduduk Madinah secara serentak turut membantu dan melaksanakan sebagaimana yang diperintahkan amirul mukminin dalam suratnya.



Kaisar Romawi
Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya konstantinopel. (Baca juga: Kisah Mengharukan Detik-Detik Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah.

Bantuan tersebut dikirimkan oleh Al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah itu mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Al-Qasim bin Muhammad. (Baca juga: Surat Umar bin Abdul Aziz yang Menghebohkan Kalangan Non-Islam)

Mirik Kakek
Alangkah miripnya Al-Qasim dengan kakeknya, Abu Bakar Ash-Shidiq, sampai orang-orang berkomentar, “Tidak ada anak keturunan Abu Bakar yang lebih mirip dengan beliau dari Al-Qasim. Dia begitu serupa dalam akhlak, bentuk fisik, keteguhan iman maupun kezuhudannya…” dan banyak sekali sikap dan perbuatannya membuktikan hal ini.

Baca juga: Lanjutkan Pilkada, Pemerintah-DPR Dinilai Tak Responsif Penderitaan Rakyat

Sebagai contoh, ketika ada seorang dusun datang ke masjid lalu bertanya kepada beliu, “Siapakah yang lebih pandai, Anda ataukah Salim bin Abdullah?” Al-Qasim berpura-pura sibuk sehingga si penanya mengulangi pertanyaannya. Beliau menjawab, “Subhanallah.”



Pertanyaan itu diulang untuk ketiga kalinya, lalu Al-Qasim berkata, “Itu dia, Salim putra bibiku duduk di sebelah sana.” Orang-orang di masjid itu saling berbisik, “Sungguh mirip dia dengan kakeknya. Dia tidak suka atau sangat benci untuk berkata, “Aku lebih pandai,” karena hal itu berarti menyombongkan diri. Namun dia tidak pula berkata, “Dia lebih pandai,” sebab itu berarti dusta, mengingat sebenarnya dia lebih pandai daripada Salim.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
سَنَدۡعُ الزَّبَانِيَةَ
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, (penyiksa orang-orang yang berdosa),

(QS. Al-'Alaq:18)
cover bottom ayah
preload video