Kisah Tabiin Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq

Al-Qasim: Derita Panjang Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Semasa Kecil

loading...
Al-Qasim: Derita Panjang Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Semasa Kecil
Ilustrasi/Ist
AL-QASIM adalah putra Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq . Ibunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah Radhiyallahuanha, Ummul Mukminin . (Baca juga: Tabiin yang Sahid di Tangan Penguasa Kufah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi )

Dialah adalah satu dari tujuh fuqaha Madinah , yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya dan paling bagus sifat wara’ nya.

Dr. Abdurrahman Ra’at Basya dalam bukunya yang berjudul “ Mereka adalah Para Tabi’in ” menceritakan Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan . (Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni )

Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Al-Qur’an berada pada dekapannya.

Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a . dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir , menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khilafah Ali bin Abi Thalib r.a. (Baca juga: Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim )

Di kota ini ia harus menyaksikan cakar-cakar fitnah dan mencengkram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau meninggal dengan cara yang keji. Selajutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Muawiyah. Dia menjadi yatim piatu .

Al-Qasim bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan penderitaan itu. Berikut penuturannya itu:

“Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku, Abdurrahman datang untuk membawa aku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibikku, ummul mukmininl mengutus seseorang mengambil kami berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya." (Baca juga: Si Burung Merak Dzakhwan bin Kaisan, Tak Pikun di Usia Lebih 100 Tahun )

Ternyata belum pernah saya menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya daripada beliau.

Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan dari kami barulah beliau memakannya.

Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau yang memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. (Baca juga: Umar bin Abdul Aziz Minta Nasehat Si Burung Merak Ini )

Beliau senantiasa mendorong kami untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya.

Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa kami pahami.

Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk salat ‘ied. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhiyah. (Baca juga: Dzakhwan bin Kaisan: Si Burung Merak yang Tak Terbeli )

Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu sedangkan adikku di pangkuannya yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi Aisyah mulai berbicara, mulai dengan pujian kepada Allah, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnya seorangpun baik laki-laki maupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. (Baca juga: Kisah Mengharukan Detik-Detik Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz )

Beliau berkata kepada paman, “Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah, saya melakukannya bukan karena saya lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruksangka kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya." (Baca juga: Surat Umar bin Abdul Aziz yang Menghebohkan Kalangan Non-Islam )

"Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir bila keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” (Baca juga: Umar bin Abdul Aziz Berubah Menjadi Kurus Saat Jabat Khalifah )

Begitulah, akhirnya pamanku memboyong kami ke rumahnya.

Hanya saja, menurut Abdurrahman Ra’at Basya, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercamput dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan pamannya. (Baca juga: Kisah Umar Bin Abdul Aziz Ketika Menahan Marah )

Rumah bibinya betul-betul berkesan di hatinya. Ligkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya.
halaman ke-1
cover top ayah
فَمَنۡ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنۡ يَّهۡدِيَهٗ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهٗ لِلۡاِسۡلَامِ‌ۚ وَمَنۡ يُّرِدۡ اَنۡ يُّضِلَّهٗ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ‌ؕ كَذٰلِكَ يَجۡعَلُ اللّٰهُ الرِّجۡسَ عَلَى الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡمِنُوۡنَ
Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan hatinya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

(QS. Al-An’am:125)
cover bottom ayah
preload video