Tangisan Rasulullah Bikin Malaikat Penjaga 'Arasy Lupa Baca Tasbih

Jum'at, 23 Oktober 2020 - 07:05 WIB
loading...
Tangisan Rasulullah Bikin Malaikat Penjaga Arasy Lupa Baca Tasbih
Banyak kisah Rasulullah yang dapat dijadikan hikmah pelajaran berharga bagi kita termasuk kisah tangisan beliau yang mengguncang Arasy. Foto/SINDOnews
A A A
Kisah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tak pernah habis untuk diceritakan. Dalam sejarah manusia, tidak ada sosok manusia yang sejarahnya ditulis secara detail dan transparan kecuali baginda Nabi صلى الله عليه وسلم.

Ada satu kisah yang menggetarkan hati saat baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم menangis hingga tangisannya mengguncang 'Arasy dan membuat Malaikat lupa membaca tasbih. Kisah ini dikutip dari buku "Kumpulan Kisah Teladan Islami". Dikisahkan, suatu hari waktu Rasulullah sedang asyik bertawaf di Ka'bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: "Ya Karim! Ya Karim!" Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian menirukan ucapan orang itu, "Ya Karim! Ya Karim!"

Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka'bah, dan berzikir lagi: "Ya Karim! Ya Karim!" Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berada di belakangnya mengikut zikirnya: "Ya Karim! Ya Karim!" Merasa seperti diolok, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, tampan dan belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata: "Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badui? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, MuhammadRasulullah .

"Mendengar kata-kata orang badui itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersenyum, lalu bertanya: "Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?" "Belum," jawab orang itu. (Baca Juga: Siksaan Abu Lahab Diringankan Karena Gembira dengan Kelahiran Nabi Muhammad )

"Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?" "Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya," kata orang Arab Badui itu.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun berkata kepadanya: "Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!" Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang seperti tidak percaya kepada dirinya. "Tuan ini Nabi Muhammad?" "Ya" jawab Nabi. Dia pun segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Melihat itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: "Wahai orang Arab! janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya. Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril turun membawa berita dari langit dia berkata: "Ya Muhammad ! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan berfirman: "Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!" Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.

Maka orang Arab itu pula berkata: "Demi keagungan serta kemuliaan Rabb semesta alam, jika DIA membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan kepada-Nya!" kata orang Arab badwi itu.

"Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?" kata Rasulullah.

"Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirah-Nya," jawab orang itu.

"Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanan-Nya!"

Mendengar ucapan laki-laki Badui itu, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu. Air mata beliau yang mulia meleleh membasahi janggutnya. Melihat itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: "Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berkata: "Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga 'Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!"

Betapa gembiranya orang Arab Badui itu mendengar kabar tersebut. Ia pun menangis karena tidak berdaya menahan haru dan bahagianya. (Baca Juga: Nabi Muhammad, Satu-satunya Manusia yang Biografinya Dikupas Detail dan Transparan )

Rasulullah Juga Menangis Memikirkan Umatnya
Dalam riwayat lain juga disebutkan, Nabi صلى الله عليه وسلم pernah menangis karena memikirkan umatnya. Beliau menangis ketika teringat ucapan terakhir Nabi Isa 'alaihissalam yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al Maidah Ayat 118:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

Nabi صلى الله عليه وسلم sedih karena ucapan Nabi Isa ini menandakan 'Isa berlepas tangan terhadap urusan ummatnya'. Semua urusan ummatnya diserahkannya secara bulat-bulat kepada Allah. Apakah Allah mau menyiksa atau mengampuni.

Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada Malaikat Jibril bahwa beliau tidak ingin berpisah dengan ummatnya di dunia ini jika tidak ada jaminan keselamatan dari Allah 'Azza wa Jalla.

Dalam kisah lain juga diceritakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah jatuh pingsan ketika mendengar kabar Jibril bahwa di antara umatnya ada yang masuk neraka karena dosa-dosa besar. Beliau menangis kemudian memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar memberi syafa'at kepada umatnya.

Subhanallah, begitu besarnya kecintaan Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada umatnya. Semoga di bulan Rabi'ul Awal ini kita diberi taufik untuk mempelajari kisah-kisah beliau, memperbanyak shalawat serta menghidupkan sunnahnya. (Baca Juga: Marhaban Ya Rabi'ul Awal, Bulan Istimewa Kelahiran Nabi Pembawa Risalah )

Wallahu A'lam
(rhs)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3476 seconds (11.97#12.26)