Hadapi Muslim, Pasukan Persia Anggap Berperang dengan Jin
Senin, 26 Oktober 2020 - 12:49 WIB
loading...
A
A
A
Tak dapatkah angkatan bersenjata Persia melindungi pantai itu, dan menangkis semua bahaya dari ibu kota?
Haekal mengatakan ini merupakan pemikiran biasa dalam hal seperti ini, dan sudah seharusnya pula Yazdigird berpikir ke arah itu dan memanggil angkatan bersenjatanya untuk bertukar pendapat. Dari jiwanya yang masih muda dapat ia salurkan ke dalam jiwa mereka dan jiwa semua orang penduduk ibu kota — semangat untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka.
Sekiranya mau ia melakukan itu, paling kurang itulah kewajibannya terhadap dirinya, terhadap masyarakat yang telah menyerahkan pimpinan ke tangannya, niscaya mereka akan berkumpul di sekelilingnya untuk mempertahankan keberadaannya. (Baca juga: Perang Pecah, Pasukan Gajah Ngamuk di Tengah Ramalan Buruk tentang Persia )
Tetapi kebingungannya telah membuatnya tersesat dan pikirannya jadi kacau. Akibatnya ia melihat pasukan Muslimin itu tak lain adalah jin yang tak mungkin ada kekuatan apa pun yang mampu merintangi langkahnya, dan tak akan mampu berbuat apa pun selain melarikan diri! Ya, siapa pula yang lebih berhak lari terlebih dulu daripada dia sendiri, menyelamatkan diri dan keluarganya! Oleh karena itu ia memerintahkan stafnya untuk membawa segala harta kekayaannya berikut barang-barang simpanannya.
Perempuan-perempuan dan sanak keluarganya segera diangkut menuju Hulwan. Orang-orang melihat apa yang telah dilakukan Raja mereka itu. Semangat mereka pun remuk. Kini mereka hanya berpikir untuk juga menyelamatkan diri dan keluarga mereka.
Bukankah Raja menjadi panutan rakyatnya? Mengapa keluarga kerajaan dan dayang-dayangnya lebih diutamakan daripada istri seorang prajurit atau perwira dan keluarganya?! Dengan demikian semangat hendak mengadakan perlawanan dalam hati prajurit Persia hilang sudah. Tak ada harapan lagi bagi mereka selain nasib baik yang memberi kebahagiaan kepada mereka dan sungai itu juga yang akan menjadi alat penangkis serangan lawan, atau akan tersandung sekali sehingga mereka tak lagi berkuasa, dan untuk mengadakan perlawanan sudah tidak mungkin lagi. (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Mukjizat di Sungai Tigris
Demikianlah, di Sungai Tigris itu kini mengalir dua macam pasukan: satu pasukan yang sudah remuk segala kekuatannya, tak lagi punya semangat, tak lagi punya kemauan. la sudah menyerahkan diri kepada nasib. Dan satu pasukan lagi semangat idealismenya begitu tinggi dan sudah mencapai kekuatan iman dan percaya diri akan menang, sehingga terbayang olehnya bahwa ia dapat memukul Sungai itu dengan tongkatnya yang akan membukakan jalan menyeberang ke Ruang Sidang Istana Kisra.
Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa sehingga ia dan rombongannya dapat melarikan diri dari Mesir. Hal yang sama ini sekarang akan diberikan kepada pasukan Muslimin. Mereka akan menyeberangi sungai itu, akan menyerbu Mada'in dan menurunkan kedaulatan Kisra-kisra itu, kemudian menaikkan panji kebenaran di atas Ruang Sidang Istana yang agung itu. (Baca juga: Hadapi Muslim, Persia Kerahkan 120.000 Pasukan dan 33.000 Gajah )
Ya! Itulah mukjizat pasukan Muslimin yang menyeberangi Sungai Tigris. Mereka berdiri di tepi Sungai itu melihat air yang sedang bergolak.
Sa’ad bin Abi Waqqash sedang memikirkan cara untuk menyeberanginya. Pikirannya belum memberikan jalan keluar. Ia memerintahkan stafnya membawa orang-orang dusun Persia untuk dimintai keterangan. Mereka menyarankan untuk terjun ke Sungai sampai ke dasar wadi. Tetapi dia khawatir arus yang deras akan membahayakan pasukannya. Ia lebih cenderung setiap orang tetap di tempatnya. Karena masih ragu, saran orang itu tidak dilaksanakan.
Keesokan harinya Sa’ad menerima berita bahwa Yazdigird telah memerintahkan agar segala harta simpanannya diangkut ke Hulwan. Sa’ad mengumpulkan anggota pasukannya dan berpidato di hadapan mereka. Sesudah mengucapkan hamdalah dan bersyukur kepada Allah ia berkata: "Musuh kita sekarang berlindung pada Sungai ini. Janganlah biarkan dia lolos dari sana. Mereka dapat lolos kalau mau dan akan menyerang kita dari kapal-kapal mereka itu. Kita tidak khawatir mereka akan datang dari belakang kita. Pengalaman kita dulu sudah cukup.
Mereka menyia-nyiakan pelabuhan mereka ini dan merusak pertahanan mereka sendiri. Saya berpendapat sebaiknya kita dahului menyerang musuh sebelum kita terkepung. Ya, sudah saya putuskan akan menyeberangi Sungai ini ke tempat mereka." (Baca juga: Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim )
Haekal mengatakan ini merupakan pemikiran biasa dalam hal seperti ini, dan sudah seharusnya pula Yazdigird berpikir ke arah itu dan memanggil angkatan bersenjatanya untuk bertukar pendapat. Dari jiwanya yang masih muda dapat ia salurkan ke dalam jiwa mereka dan jiwa semua orang penduduk ibu kota — semangat untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan mereka.
Sekiranya mau ia melakukan itu, paling kurang itulah kewajibannya terhadap dirinya, terhadap masyarakat yang telah menyerahkan pimpinan ke tangannya, niscaya mereka akan berkumpul di sekelilingnya untuk mempertahankan keberadaannya. (Baca juga: Perang Pecah, Pasukan Gajah Ngamuk di Tengah Ramalan Buruk tentang Persia )
Tetapi kebingungannya telah membuatnya tersesat dan pikirannya jadi kacau. Akibatnya ia melihat pasukan Muslimin itu tak lain adalah jin yang tak mungkin ada kekuatan apa pun yang mampu merintangi langkahnya, dan tak akan mampu berbuat apa pun selain melarikan diri! Ya, siapa pula yang lebih berhak lari terlebih dulu daripada dia sendiri, menyelamatkan diri dan keluarganya! Oleh karena itu ia memerintahkan stafnya untuk membawa segala harta kekayaannya berikut barang-barang simpanannya.
Perempuan-perempuan dan sanak keluarganya segera diangkut menuju Hulwan. Orang-orang melihat apa yang telah dilakukan Raja mereka itu. Semangat mereka pun remuk. Kini mereka hanya berpikir untuk juga menyelamatkan diri dan keluarga mereka.
Bukankah Raja menjadi panutan rakyatnya? Mengapa keluarga kerajaan dan dayang-dayangnya lebih diutamakan daripada istri seorang prajurit atau perwira dan keluarganya?! Dengan demikian semangat hendak mengadakan perlawanan dalam hati prajurit Persia hilang sudah. Tak ada harapan lagi bagi mereka selain nasib baik yang memberi kebahagiaan kepada mereka dan sungai itu juga yang akan menjadi alat penangkis serangan lawan, atau akan tersandung sekali sehingga mereka tak lagi berkuasa, dan untuk mengadakan perlawanan sudah tidak mungkin lagi. (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Mukjizat di Sungai Tigris
Demikianlah, di Sungai Tigris itu kini mengalir dua macam pasukan: satu pasukan yang sudah remuk segala kekuatannya, tak lagi punya semangat, tak lagi punya kemauan. la sudah menyerahkan diri kepada nasib. Dan satu pasukan lagi semangat idealismenya begitu tinggi dan sudah mencapai kekuatan iman dan percaya diri akan menang, sehingga terbayang olehnya bahwa ia dapat memukul Sungai itu dengan tongkatnya yang akan membukakan jalan menyeberang ke Ruang Sidang Istana Kisra.
Itulah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa sehingga ia dan rombongannya dapat melarikan diri dari Mesir. Hal yang sama ini sekarang akan diberikan kepada pasukan Muslimin. Mereka akan menyeberangi sungai itu, akan menyerbu Mada'in dan menurunkan kedaulatan Kisra-kisra itu, kemudian menaikkan panji kebenaran di atas Ruang Sidang Istana yang agung itu. (Baca juga: Hadapi Muslim, Persia Kerahkan 120.000 Pasukan dan 33.000 Gajah )
Ya! Itulah mukjizat pasukan Muslimin yang menyeberangi Sungai Tigris. Mereka berdiri di tepi Sungai itu melihat air yang sedang bergolak.
Sa’ad bin Abi Waqqash sedang memikirkan cara untuk menyeberanginya. Pikirannya belum memberikan jalan keluar. Ia memerintahkan stafnya membawa orang-orang dusun Persia untuk dimintai keterangan. Mereka menyarankan untuk terjun ke Sungai sampai ke dasar wadi. Tetapi dia khawatir arus yang deras akan membahayakan pasukannya. Ia lebih cenderung setiap orang tetap di tempatnya. Karena masih ragu, saran orang itu tidak dilaksanakan.
Keesokan harinya Sa’ad menerima berita bahwa Yazdigird telah memerintahkan agar segala harta simpanannya diangkut ke Hulwan. Sa’ad mengumpulkan anggota pasukannya dan berpidato di hadapan mereka. Sesudah mengucapkan hamdalah dan bersyukur kepada Allah ia berkata: "Musuh kita sekarang berlindung pada Sungai ini. Janganlah biarkan dia lolos dari sana. Mereka dapat lolos kalau mau dan akan menyerang kita dari kapal-kapal mereka itu. Kita tidak khawatir mereka akan datang dari belakang kita. Pengalaman kita dulu sudah cukup.
Mereka menyia-nyiakan pelabuhan mereka ini dan merusak pertahanan mereka sendiri. Saya berpendapat sebaiknya kita dahului menyerang musuh sebelum kita terkepung. Ya, sudah saya putuskan akan menyeberangi Sungai ini ke tempat mereka." (Baca juga: Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim )
Lihat Juga :