Indonesia Berduka karena Kehilangan 4 Ulama Kharismatik

loading...
Indonesia Berduka karena Kehilangan 4 Ulama Kharismatik
Ulama kharismatik Kota Tegal Jawa Tengah Al-Habib Thahir bin Abdullah Alkaff ketika bermunajat di satu majelis ilmu. Beliau wafat pada Kamis malam kemarin (3/12/2020) berbarengan dengan tiga ulama lainnya. Foto/Ist
Indonesia berduka karena kehilangan empat ulama kharismatik pada Kamis kemarin (3/12/2020). Keempatnya menghadap Allah Ta'ala hampir dalam waktu bersamaan antara pukul 18.00-20.00 WIB.

Ketika para ulama tutup usia, manusia tidak hanya bersedih karena kehilangan sosok mereka. Tetapi juga berduka karena merasa belum maksimal mereguk ilmu dari warasatul anbiya (pewaris para Nabi).

(Baca Juga: Wafatnya 1 Ulama Lebih Disukai Iblis Daripada Kematian 70 Ahli Ibadah )

Empat ulama kharismatik yang wafat pada Kamis kemarin (3/12/2020) adalah Al-Habib Thohir bin Abdullah Alkaff (Pengasuh Ponpes Darul Hijrah Tegal, Jawa Tengah); KH Qohwatul Adib Munawar (Pesantren Langitan, Jawa Timur); KH Faiq Robayan (Jepara, Jawa Tengah); dan Al-Habib Umar Bin Aqil Bin Yahya (Gresik, Jawa Timur).



Selain keempat ulama di atas, Psikiater senior yang juga penceramah Prof dr Dadang Hawari juga wafat pada hari yang sama karena Covid-19. Kewafatan mereka menjadi duka mendalam bagi umat Islam di Tanah Air.

Menurut Al-Habib Quraisy Baharun (pengasuh Ponpes Ash-Shidqu Kuningan, ketika ulama wafat , seolah-olah alam semesta juga mati. Ulama adalah para pewaris Nabi. Melalui lisan merekalah risalah dakwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم tersebar hingga kini.

Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan hanya mewariskan ilmu sebagaimana sabda beliau: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah jalannya ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para Nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).

Habib Quraisy mengatakan, Allah Ta'ala tidak mencabut ilmu begitu saja dari pikiran dan hati seseorang. Kepunahan ilmu justru terjadi ketika para ulama wafat.

[Baca Juga: Kisah Berkesan Bersama Habib Thahir Al-Kaff Dipertemukan Wali Mastur (1) ]
halaman ke-1
cover top ayah
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيًا يُّنَادِىۡ لِلۡاِيۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّكُمۡ فَاٰمَنَّا  ۖرَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ‌ۚ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

(QS. Ali 'Imran:193)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video