Sebuah Ceria Ajaran: Topi Ajaib di Negeri Ghaib
Senin, 14 Desember 2020 - 14:44 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
DI negeri yang tidak dapat kita lihat (ghaib), tetapi sesungguhnya lebih nyata daripada kenyataan, hiduplah seorang bocah laki-laki, namanya Kasjan. Kakak laki-lakinya, Jankas, adalah seorang pekerja keras dan cerdas. Tetapi Kasjan, bukanlah pekerja keras juga bukan pemalas, tidak cerdas juga tidak bodoh, tetapi ia mencurahkan dirinya pada setiap masalah, sebisa mungkin. (Baca juga: Cerita Ajaran: Musa dan Penggembala )
Dua bersaudara ini, tidak seorang pun yang tampak membuat kemajuan berarti (besar) di Negeri Ghaib, memutuskan untuk mencari keberuntungan mereka bersama-sama.
Suatu siang, mereka pergi meninggalkan rumah mereka, dan tidak lama sebelum senja memisahkan mereka, dan -- mengenai Jankas kita akan segera mengetahui.
Kasjan tiba-tiba secara tidak sengaja menjumpai sebuah perselisihan. Tiga laki-laki sedang berdebat, tampaknya tentang barang yang tergeletak di atas tanah. Mereka menjelaskan persoalan mereka kepada Kasjan. Ayah mereka telah meninggal dunia dan mewariskan sebuah topi berbentuk kerucut, Kulah ajaib, sebuah permadani terbang dan sebuah tongkat yang membuat permadani itu terbang jika dipukulkan. Masing-masing menginginkan semua barang tersebut, atau setidaknya menjadi pemilik yang pertama atas barang tersebut. (Baca juga: Cerita Ajaran: Siti Fatimah dan Binatang )
Alasan mereka (masing-masing), adalah bahwa mereka dikatakan sebagai anak tertua, kedua dan bungsu, dan atas perhitungan tersebut, masing-masing menuntut prioritas.
"Mereka semua tidak layak," pikir Kasjan, tetapi ia menawarkan untuk menjadi penengah antara mereka.
Ia menyuruh mereka semua mundur 40 langkah dan kemudian berbalik. Sebelum mereka menyelesaikan instruksi ini, ia mengenakan Kulah di kepalanya, mengambil permadani dan memukulnya dengan tongkat. "Permadani," perintahnya, "bawalah aku ke mana pun saudaraku Jankas berada!"
Tidak berapa lama sebelum itu, kakaknya, Jankas telah disambar seekor burung Anqa raksasa, yang menyembunyikannya di menara masjid di Khurasan. Karena pada saat itu Kasjan berpikir, bahwa Jankas pasti setidaknya telah menjadi seorang pangeran, si permadani mendengar pikiran tersebut, dan terbang sangat cepat -- menuju pesanggrahan istana raja di kota Balkh, Khurasan.
Sang raja, yang telah melihatnya turun, seketika keluar tampak berseri-seri dan berkata, "Barangkali ini pemuda yang diramal akan menolong putriku dan tidak menginginkannya."
Kasjan menghormat pada sang raja, dan mengatakan bahwa ia sedang mencari saudaranya, Jankas. "Sebelum kau melakukan itu," kata sang raja, 'Aku ingin kau membantuku dengan peralatan khususmu serta ketajaman pikiranmu." (Baca juga: Cerita Ajaran: Tiga Orang Tuli dan Darwis Bisu )
Sang putri, selalu menghilang setiap malam dan kembali keesokan harinya, tidak ada yang tahu bagaimana ini terjadi. Hal ini sudah diramalkan dan telah terjadi. Kasjan setuju untuk menolong, yang kemudian disarankan bahwa dia hendaknya mengawasi sang putri di sisi tempat tidurnya.
Dua bersaudara ini, tidak seorang pun yang tampak membuat kemajuan berarti (besar) di Negeri Ghaib, memutuskan untuk mencari keberuntungan mereka bersama-sama.
Suatu siang, mereka pergi meninggalkan rumah mereka, dan tidak lama sebelum senja memisahkan mereka, dan -- mengenai Jankas kita akan segera mengetahui.
Kasjan tiba-tiba secara tidak sengaja menjumpai sebuah perselisihan. Tiga laki-laki sedang berdebat, tampaknya tentang barang yang tergeletak di atas tanah. Mereka menjelaskan persoalan mereka kepada Kasjan. Ayah mereka telah meninggal dunia dan mewariskan sebuah topi berbentuk kerucut, Kulah ajaib, sebuah permadani terbang dan sebuah tongkat yang membuat permadani itu terbang jika dipukulkan. Masing-masing menginginkan semua barang tersebut, atau setidaknya menjadi pemilik yang pertama atas barang tersebut. (Baca juga: Cerita Ajaran: Siti Fatimah dan Binatang )
Alasan mereka (masing-masing), adalah bahwa mereka dikatakan sebagai anak tertua, kedua dan bungsu, dan atas perhitungan tersebut, masing-masing menuntut prioritas.
"Mereka semua tidak layak," pikir Kasjan, tetapi ia menawarkan untuk menjadi penengah antara mereka.
Ia menyuruh mereka semua mundur 40 langkah dan kemudian berbalik. Sebelum mereka menyelesaikan instruksi ini, ia mengenakan Kulah di kepalanya, mengambil permadani dan memukulnya dengan tongkat. "Permadani," perintahnya, "bawalah aku ke mana pun saudaraku Jankas berada!"
Tidak berapa lama sebelum itu, kakaknya, Jankas telah disambar seekor burung Anqa raksasa, yang menyembunyikannya di menara masjid di Khurasan. Karena pada saat itu Kasjan berpikir, bahwa Jankas pasti setidaknya telah menjadi seorang pangeran, si permadani mendengar pikiran tersebut, dan terbang sangat cepat -- menuju pesanggrahan istana raja di kota Balkh, Khurasan.
Sang raja, yang telah melihatnya turun, seketika keluar tampak berseri-seri dan berkata, "Barangkali ini pemuda yang diramal akan menolong putriku dan tidak menginginkannya."
Kasjan menghormat pada sang raja, dan mengatakan bahwa ia sedang mencari saudaranya, Jankas. "Sebelum kau melakukan itu," kata sang raja, 'Aku ingin kau membantuku dengan peralatan khususmu serta ketajaman pikiranmu." (Baca juga: Cerita Ajaran: Tiga Orang Tuli dan Darwis Bisu )
Sang putri, selalu menghilang setiap malam dan kembali keesokan harinya, tidak ada yang tahu bagaimana ini terjadi. Hal ini sudah diramalkan dan telah terjadi. Kasjan setuju untuk menolong, yang kemudian disarankan bahwa dia hendaknya mengawasi sang putri di sisi tempat tidurnya.
Lihat Juga :