Muslim Harus Memilih Jalan Hidup yang Menuju ke Surga
Senin, 14 Desember 2020 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya akan Kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj.” (QS. Al-A’raf: 179).
(Baca juga : Instagram Hapus Postingan Amien Rais soal Laskar FPI, Warganet Bingung )
Selain itu, pemberian Allah Azza wa Jalla yang juga harus dimanfaatkan untuk mencari kebenaran adalah akal. Akal yang ada pada manusia memiliki potensi besar dalam menemukan petunjuk Allah Azza wa Jalla agar sampai pada surga yang dijanjikan-Nya. Akal, apabila dididik dengan baik, maka ia akan menghasilkan ilmu yang akan menghindarkan seseorang dari jalan kesesatan.
Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.
Secara harfiah, ‘aql berarti al-imsak ‘menahan’, al-ribath ‘ikatan’, al-nahy ‘melarang’. Orang yang berakal (al-aqil) adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya.
(Baca juga : Ada Aturan Denda buat Pengembang, Pengaduan Sektor Perumahan Turun )
Menurut Abdul Fattah Jalal, kata ‘aql dalam Al-Qur’an tidak berbentuk isim (kata benda) melainkan terdiri dari fi’il (kata kerja). Ini dapat dijadikan petunjuk penting bahwa akal bukan sekedar benda atau sel hidup, yang lebih penting dari itu adalah akal untuk bekerja dan berpikir. Sebagai kata kerja, ‘aqala dengan segala akar katanya terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 49 tempat.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.”
(QS. Al-Baqarah: 164)
(Baca juga: Di Bawah Guyuran Hujan Ratusan Massa Kepung Mapolres Cianjur, Tuntut Pembebasan Habib Rizieq )
Demikian pentingnya kedudukan akal dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah selalu memuji hamba-Nya yang berpikir dan menggunakan akal dengan baik. Begitu juga sebaliknya, Allah sangat mencela terhadap orang yang menyalah gunakan akal atau lebih memenangkan hawa nafsu dari pada akal pikirannya.
Dalam Al-Qur’an mengapa Allah tidak mengatakan Afala ta’kilun (mengapa kamu tidak makan?) atau Afala tasyrobun (mengapa kamu tidak minum). Akan tetapi, firman Allah menyebutkan La’allakun ta’qilun (agar kalian mengerti), Afalaa ta’qilun (maka tidakkah kamu mengerti?), La’allakum tatafakkarun (agar kalian berfikir), adalah salah satu pesan tersirat agar manusia menggunakan akalnya dengan baik sehingga ia memiliki ilmu untuk sampai pada kebenaran.
“Dan sesungguhnya akan Kami isi neraka jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj.” (QS. Al-A’raf: 179).
(Baca juga : Instagram Hapus Postingan Amien Rais soal Laskar FPI, Warganet Bingung )
Selain itu, pemberian Allah Azza wa Jalla yang juga harus dimanfaatkan untuk mencari kebenaran adalah akal. Akal yang ada pada manusia memiliki potensi besar dalam menemukan petunjuk Allah Azza wa Jalla agar sampai pada surga yang dijanjikan-Nya. Akal, apabila dididik dengan baik, maka ia akan menghasilkan ilmu yang akan menghindarkan seseorang dari jalan kesesatan.
Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.
Secara harfiah, ‘aql berarti al-imsak ‘menahan’, al-ribath ‘ikatan’, al-nahy ‘melarang’. Orang yang berakal (al-aqil) adalah orang yang mengekang dirinya dan menolak keinginan hawa nafsunya.
(Baca juga : Ada Aturan Denda buat Pengembang, Pengaduan Sektor Perumahan Turun )
Menurut Abdul Fattah Jalal, kata ‘aql dalam Al-Qur’an tidak berbentuk isim (kata benda) melainkan terdiri dari fi’il (kata kerja). Ini dapat dijadikan petunjuk penting bahwa akal bukan sekedar benda atau sel hidup, yang lebih penting dari itu adalah akal untuk bekerja dan berpikir. Sebagai kata kerja, ‘aqala dengan segala akar katanya terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 49 tempat.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia tebarkan di dalamnya segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.”
(QS. Al-Baqarah: 164)
(Baca juga: Di Bawah Guyuran Hujan Ratusan Massa Kepung Mapolres Cianjur, Tuntut Pembebasan Habib Rizieq )
Demikian pentingnya kedudukan akal dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu Allah selalu memuji hamba-Nya yang berpikir dan menggunakan akal dengan baik. Begitu juga sebaliknya, Allah sangat mencela terhadap orang yang menyalah gunakan akal atau lebih memenangkan hawa nafsu dari pada akal pikirannya.
Dalam Al-Qur’an mengapa Allah tidak mengatakan Afala ta’kilun (mengapa kamu tidak makan?) atau Afala tasyrobun (mengapa kamu tidak minum). Akan tetapi, firman Allah menyebutkan La’allakun ta’qilun (agar kalian mengerti), Afalaa ta’qilun (maka tidakkah kamu mengerti?), La’allakum tatafakkarun (agar kalian berfikir), adalah salah satu pesan tersirat agar manusia menggunakan akalnya dengan baik sehingga ia memiliki ilmu untuk sampai pada kebenaran.
Lihat Juga :