Muslim Harus Memilih Jalan Hidup yang Menuju ke Surga
Senin, 14 Desember 2020 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
Orang yang berakal akan dapat mengendalikan hawa nafsu yang hanya akan menimbulkan kehancuran bagi dirinya. Oleh karena itu, sudah semestinya akal menjadi pengendali nafsu, yang selalu mengawasi kesalahan dan kelalaiannya, menahan serangannya dan menghindari tipu muslihatnya.
(Baca juga : Saudi Deklarasikan Kemenangan atas Covid-19 )
Dengan akal yang dianugerahi Allah Azza wa Jalla, maka manusia dapat mengetahui hakikat dari segala sesuatu, dapat membedakan mana yang baik (hasanah) dan mana yang buruk (sayyi’ah), mana yang benar (shawab) dan mana yang salah (khata’), mana cahaya (an-nur) dan mana kegelapan (adz-dhulumat).
Meski demikian, tidak sedikit orang cerdas dan berilmu yang memiliki potensi akal yang baik namun mereka lebih memilih berlari dari kebenaran demi mengikuti hawa nafsunya. Kelompok ini adalah mereka yang selalu mencari pembenaran bukan kebenaran. Mereka lah yang selalu memutar balikkan dan mempermainkan firman Allah Azza wa Jalla dengan mengungkapkan yang haram dalam Al-Qur’an menjadi perkara yang halal untuk dilakukan, yang halal menurut Allah Azza waJalla menjadi perkara yang haram menurut mereka.
Dalam bidang kedokteran, penyakit kanker adalah hal yang berbahaya dalam tubuh manusia. Namun kanker epistemologis tidak kalah bahaya dengan penyakit kanker sesungguhnya. Karena bahaya dari penyakit ini bisa mencemari akal pikiran. Kanker epistemologis telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure), yang pada gilirannya menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.
(Baca juga : Menang 1-0 atas Levante, Koeman Puji Semangat Juang Barcelona )
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Mulk: 10)
Ayat ini menerangkan tentang penyesalan para penghuni neraka yang tidak mau mendengar dan menggunakan akal ketika hidup di dunia. Kedudukan akal sangat tinggi dan karena mampu memelihara manusia dari api neraka.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menggunakan akal dalam menentukan pilihan terbaik untuk meraih ridha-Nya. Agar Allah mengembalikan kita pada kehidupan abadi yang penuh kenikmatan, surga-Nya Allah Ta'ala.
Wallahu 'Alam
(Baca juga : Saudi Deklarasikan Kemenangan atas Covid-19 )
Dengan akal yang dianugerahi Allah Azza wa Jalla, maka manusia dapat mengetahui hakikat dari segala sesuatu, dapat membedakan mana yang baik (hasanah) dan mana yang buruk (sayyi’ah), mana yang benar (shawab) dan mana yang salah (khata’), mana cahaya (an-nur) dan mana kegelapan (adz-dhulumat).
Meski demikian, tidak sedikit orang cerdas dan berilmu yang memiliki potensi akal yang baik namun mereka lebih memilih berlari dari kebenaran demi mengikuti hawa nafsunya. Kelompok ini adalah mereka yang selalu mencari pembenaran bukan kebenaran. Mereka lah yang selalu memutar balikkan dan mempermainkan firman Allah Azza wa Jalla dengan mengungkapkan yang haram dalam Al-Qur’an menjadi perkara yang halal untuk dilakukan, yang halal menurut Allah Azza waJalla menjadi perkara yang haram menurut mereka.
Dalam bidang kedokteran, penyakit kanker adalah hal yang berbahaya dalam tubuh manusia. Namun kanker epistemologis tidak kalah bahaya dengan penyakit kanker sesungguhnya. Karena bahaya dari penyakit ini bisa mencemari akal pikiran. Kanker epistemologis telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure), yang pada gilirannya menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.
(Baca juga : Menang 1-0 atas Levante, Koeman Puji Semangat Juang Barcelona )
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Mulk: 10)
Ayat ini menerangkan tentang penyesalan para penghuni neraka yang tidak mau mendengar dan menggunakan akal ketika hidup di dunia. Kedudukan akal sangat tinggi dan karena mampu memelihara manusia dari api neraka.
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menggunakan akal dalam menentukan pilihan terbaik untuk meraih ridha-Nya. Agar Allah mengembalikan kita pada kehidupan abadi yang penuh kenikmatan, surga-Nya Allah Ta'ala.
Wallahu 'Alam
(wid)
Lihat Juga :