Marah dengan Cara yang Baik Menurut Islam

loading...
Marah dengan Cara yang Baik Menurut Islam
Marah dengan Cara yang Baik Menurut Islam/PPPA Daarul Quran
Marah dengan Cara yang Baik Menurut Islam. Sebagian dari kita mungkin masih menilai bahwa orang yang kuat adalah orang yang mampu menang di dalam perkelahian. Itu merupakan sebuah pandangan beberapa orang.

Namun, dalam agama kita, orang yang kuat bukanlah orang yang mampu menang dalam sebuah perkelahian, melainkan adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika dirinya sedang dilanda amarah.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah telah bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.”

Baca Juga: Hukum Musafir Menggauli Istrinya di Siang Ramadhan

Jadi, ukuran kekuatan dalam agama Islam bukanlah diukur dari kekuatan fisik semata. Akan tetapi kekuatan di dalam Islam adalah ketika bagaimana seseorang dapat menahan diri ketika ia sedang marah.



Lantas apakah kita tidak boleh marah? Tentu boleh. Marah merupakan suatu hal yang sangat manusiawi. Namun sesuatu yang membedakan antara orang beriman dengan orang yang tidak beriman adalah, bagaimana dia mengatur amarahnya.

Dalam agama Islam, ada beberapa cara dalam mengatur kemarahan:

Pertama, dengan bersegeralah memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena marah itu sumbernya dari adalah dari setan, maka kita harus bersegera meminta perlindungan dari Allah.

Kedua, tidak melampiaskan kemarahan dengan perkataan dan perbuatan. Ketika kita sedang marah lebih baik diam. Kita harus bisa menjaga lisan, menjaga tangan dan menjaga kaki.

Ketiga, ketika kita sedang marah berusalah untuk menjaga posisi kita. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang artinya: “kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah.”(HR. Ahmad).

Baca Juga: Menggelorakan Semangat Ibadah hingga Akhir Ramadhan

Sebagian dari kita ada yang ketika sedang marah dalam posisi duduk malah berubah posisi menjadi berdiri, sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, jika kita sedang marah maka duduklah.

Mari kita kondisikan diri agar dapat mengontrol amarah. Mudah-mudahan kita bisa menahan diri dari perbuatan amarah sehingga kita bisa menjadi manusia yang paling kuat. Terlebih pada bulan suci Ramadan. Amarah adalah salah satu hal yang dianjurkan untuk ditahan selama melaksanakan puasa. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah berikan kesabaran.
(aww)
cover top ayah
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ‌ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡ‌ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ‌‌ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ‌ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

(QS. Al-Baqarah:286)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!