Kaum Khawarij Angggap Ali bin Abu Thalib Murtad dan Menjadi Kafir
Senin, 08 Februari 2021 - 08:48 WIB
loading...
A
A
A
Waktu Ali bin Abu Thalib r.a. bersama sejumlah pasukan pengejar berangkat, kaum Khawarij sudah sampai di sebuah pedusunan yang bernama Harura. Walaupun segalanya telah siap untuk menumpas pemberontakan bersenjata, tetapi Ali bin Abu Thalib r.a. masih tetap ingin supaya orang-orang Khawarij itu dapat diajak bersatu kembali dan berjuang bersama-sama melawan pasukan Syam.
Baca juga: Siasat Licik Amr bin Al-Ash Membuat Terjadinya Pembelotan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Orang-orang yang tergabung dalam kelompok Khawarij itu banyak berasal dari prajurit-prajurit berpengalaman. Mereka mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan keras sekali terhadap lawan. Lebih-lebih karena mereka semua adalah bekas pengikut Ali bin Abu Thalib r.a. sendiri.
Dengan ketangguhan luar biasa mereka telah menyumbangkan andil besar dalam perjuangan mematahkan pemberontakan Thalhah dan Zubair. Dalam menghadapi pemberontakan Muawiyah mereka pun telah memberikan jasanya, walau belum sepenuhnya.
Sudah menjadi kepribadian Ali bin Abu Thalib r.a., bahwa ia tidak melihat orang hanya dari segi kekurangan dan kesalahannya saja, tetapi juga tidak melupakan kebaikan dan kebenarannya.
Selain itu, walau kelompok Khawarij sekarang berbalik menentang Ali bin Abu Thalib r.a., namun mereka itu tidak menyeberang atau berpihak kepada Muawiyah. Harus disayangkan, dalam keadaan sedang genting-gentingnya menghadapi lawan yang kuat, Syam, kelompok yang sangat ekstrim itu hendak menusuk dari belakang atau menggunting dalam lipatan.
Dengan berbagai perasaan yang serba resah seperti itu, Ali bin Abu Thalib r.a. masih ingin mencoba sekali lagi mengembalikan mereka tanpa kekerasan. Mereka hendak diajak bertukar pikiran mengenai masalah gawat yang sedang mencekam perhatian mereka, yaitu "tahkim".
Baca juga: Ketika 175.000 Pasukan Muslimin Saling Bertempur di Antara Mereka Sendiri
Lewat seorang kurir Ali bin Abu Thalib r.a. minta supaya kaum Khawarij mengirimkan seorang wakil untuk diajak bertukar-pikiran, dengan jaminan bahwa wakil itu akan dilindungi keamanan dan keselamatannya.
Dalam permintaannya itu Ali bin Abu Thalib r.a. menyatakan janji, jika hujjah (argumentasi) yang dikemukakan oleh wakil mereka itu kuat dan benar, Ali bin Abu Thalib r.a. bersedia mohon pengampunan kepada Allah dan bertaubat atas kesalahannya menerima "tahkim".
Baca juga: Siasat Licik Amr bin Al-Ash Membuat Terjadinya Pembelotan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Orang-orang yang tergabung dalam kelompok Khawarij itu banyak berasal dari prajurit-prajurit berpengalaman. Mereka mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan keras sekali terhadap lawan. Lebih-lebih karena mereka semua adalah bekas pengikut Ali bin Abu Thalib r.a. sendiri.
Dengan ketangguhan luar biasa mereka telah menyumbangkan andil besar dalam perjuangan mematahkan pemberontakan Thalhah dan Zubair. Dalam menghadapi pemberontakan Muawiyah mereka pun telah memberikan jasanya, walau belum sepenuhnya.
Sudah menjadi kepribadian Ali bin Abu Thalib r.a., bahwa ia tidak melihat orang hanya dari segi kekurangan dan kesalahannya saja, tetapi juga tidak melupakan kebaikan dan kebenarannya.
Selain itu, walau kelompok Khawarij sekarang berbalik menentang Ali bin Abu Thalib r.a., namun mereka itu tidak menyeberang atau berpihak kepada Muawiyah. Harus disayangkan, dalam keadaan sedang genting-gentingnya menghadapi lawan yang kuat, Syam, kelompok yang sangat ekstrim itu hendak menusuk dari belakang atau menggunting dalam lipatan.
Dengan berbagai perasaan yang serba resah seperti itu, Ali bin Abu Thalib r.a. masih ingin mencoba sekali lagi mengembalikan mereka tanpa kekerasan. Mereka hendak diajak bertukar pikiran mengenai masalah gawat yang sedang mencekam perhatian mereka, yaitu "tahkim".
Baca juga: Ketika 175.000 Pasukan Muslimin Saling Bertempur di Antara Mereka Sendiri
Lewat seorang kurir Ali bin Abu Thalib r.a. minta supaya kaum Khawarij mengirimkan seorang wakil untuk diajak bertukar-pikiran, dengan jaminan bahwa wakil itu akan dilindungi keamanan dan keselamatannya.
Dalam permintaannya itu Ali bin Abu Thalib r.a. menyatakan janji, jika hujjah (argumentasi) yang dikemukakan oleh wakil mereka itu kuat dan benar, Ali bin Abu Thalib r.a. bersedia mohon pengampunan kepada Allah dan bertaubat atas kesalahannya menerima "tahkim".
Lihat Juga :