Furai'ah, Shahabiyah Periwayat Hadis yang Langsung dari Rasulullah
Jum'at, 12 Februari 2021 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Mereka berdua pun memantapkan diri untuk terus bersabar dan yakin bahwa Allah akan selalu mencukupi mereka. Karena kesabarannya, ada saja rezeki yang datang pada adik-kakak itu dari segala penjuru yang tak mereka sangka.
Selain terlahir dari keluarga pejuang, Furai’ah juga terlahir dari keluarga yang agamis. Ayaknya adalah seorang perawi yang rajin meriwayatkan hadis. Begitupula saudara laki-lakinya, Abu Sa’id Al-Khudri yang menempati urutan ketujuh sebagai perawi dengan riwayat hadis terbanyak.
Begitupula Furai’ah, namanya tercatat sebagai salah satu periwayat hadis dari kalangan perempuan. Furai'ah sering hadir di majelis-majelis Rasulullah. Ia memahami dan menghafal sabda-sabda beliau. Ia meriwayatkan delapan buah hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Zainab binti Ka'ab bin 'Ujrah meriwayatkan hadis darinya. Meski tidak sebanyak periwayatan Aisyah binti Abu Bakr al-Shiddiq ataupun Ummu Salamah, namun hadis yang ia riwayatkan dijadikan pijakan bagi para ulama fiqih.
Baca juga: Bamusi Sebut Perayaan Imlek di Indonesia Penuh Semangat Persaudaraan
Salah satunya adalah hadis tentang masa berkabung (iddah) bagi wanita yang ditinggal wafat suaminya. Dalam hadis yang ia riwayatkan menerangkan bahwa janda yang karena suaminya wafat harus menjalani masa berkabungnya selama empat bulan sepuluh hari.
Kepopuleran hadis ini bermula, ketika di masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu, ada seorang laki-laki yang telah beristri meninggal dunia. Utsman mengundang Furai'ah untuk bertanya kepadanya tentang hukum yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada wanita yang ditinggal mati suaminya.
Furai'ah menceritaan kisahnya, "Ketika Utsman bin Affan, ditanya tentang masalah ini, ada orang yang memberitahukan kepadanya tentang diriku. Lalu ia mengutus orang untuk mengundangku, untuk datang. Ketika aku tiba, ia sedang berkumpul bersama banyak orang. Ia bertanya kepadaku tentang kejadian yang belum pernah kualami dan perintah apa yang diberikan Rasulullah SAW. Aku pun menceritakannya. Setelah itu, ia mengurus orang untuk menemui wanita yang ditinggal mati suaminya dan menyuruhnya agar tidak meninggalkan rumahnya sampai habis masa iddahnya."
Baca juga: Insentif PPnBM Nol Persen, Harga Mobil Sejuta Umat Jadi Berapa?
Demikianlah, di hadapan orang-irang Muhajirin dan Anshar, Utsman radhiyallahu'anhu menerima hadis yang disampaikan oleh Furai'ah dan menjadikannya sebuah keputusan hukum. Mayoritas ulama Madinah, Hijaz, Syam, Irak, dan Mesir juga menerima hadis ini sebagai landasan hukum.
Di dalam bukunya yang berjudul Jadul Ma'ad, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan bahwa ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, sedang ia sendiri dalam keadaan sakit, maka keluarganya menjemputnya. Mereka menanyakan hal ini dan semuanya menyuruh untuk mengembalikannya dulu ke rumah suaminya.
Ibnu Sirin berkata, "Kita memulangkannya kembali ke ranjangnya. Hujjah yang kami pakai adalah hadis Furai'ah binti Malik ra."
Para ulama telah sepakat untuk menerima hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh perempuan, karena jika tidak, akan banyak ajaran-ajaran Islam yang hilang.
Selain terlahir dari keluarga pejuang, Furai’ah juga terlahir dari keluarga yang agamis. Ayaknya adalah seorang perawi yang rajin meriwayatkan hadis. Begitupula saudara laki-lakinya, Abu Sa’id Al-Khudri yang menempati urutan ketujuh sebagai perawi dengan riwayat hadis terbanyak.
Begitupula Furai’ah, namanya tercatat sebagai salah satu periwayat hadis dari kalangan perempuan. Furai'ah sering hadir di majelis-majelis Rasulullah. Ia memahami dan menghafal sabda-sabda beliau. Ia meriwayatkan delapan buah hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Zainab binti Ka'ab bin 'Ujrah meriwayatkan hadis darinya. Meski tidak sebanyak periwayatan Aisyah binti Abu Bakr al-Shiddiq ataupun Ummu Salamah, namun hadis yang ia riwayatkan dijadikan pijakan bagi para ulama fiqih.
Baca juga: Bamusi Sebut Perayaan Imlek di Indonesia Penuh Semangat Persaudaraan
Salah satunya adalah hadis tentang masa berkabung (iddah) bagi wanita yang ditinggal wafat suaminya. Dalam hadis yang ia riwayatkan menerangkan bahwa janda yang karena suaminya wafat harus menjalani masa berkabungnya selama empat bulan sepuluh hari.
Kepopuleran hadis ini bermula, ketika di masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu, ada seorang laki-laki yang telah beristri meninggal dunia. Utsman mengundang Furai'ah untuk bertanya kepadanya tentang hukum yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada wanita yang ditinggal mati suaminya.
Furai'ah menceritaan kisahnya, "Ketika Utsman bin Affan, ditanya tentang masalah ini, ada orang yang memberitahukan kepadanya tentang diriku. Lalu ia mengutus orang untuk mengundangku, untuk datang. Ketika aku tiba, ia sedang berkumpul bersama banyak orang. Ia bertanya kepadaku tentang kejadian yang belum pernah kualami dan perintah apa yang diberikan Rasulullah SAW. Aku pun menceritakannya. Setelah itu, ia mengurus orang untuk menemui wanita yang ditinggal mati suaminya dan menyuruhnya agar tidak meninggalkan rumahnya sampai habis masa iddahnya."
Baca juga: Insentif PPnBM Nol Persen, Harga Mobil Sejuta Umat Jadi Berapa?
Demikianlah, di hadapan orang-irang Muhajirin dan Anshar, Utsman radhiyallahu'anhu menerima hadis yang disampaikan oleh Furai'ah dan menjadikannya sebuah keputusan hukum. Mayoritas ulama Madinah, Hijaz, Syam, Irak, dan Mesir juga menerima hadis ini sebagai landasan hukum.
Di dalam bukunya yang berjudul Jadul Ma'ad, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan bahwa ada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, sedang ia sendiri dalam keadaan sakit, maka keluarganya menjemputnya. Mereka menanyakan hal ini dan semuanya menyuruh untuk mengembalikannya dulu ke rumah suaminya.
Ibnu Sirin berkata, "Kita memulangkannya kembali ke ranjangnya. Hujjah yang kami pakai adalah hadis Furai'ah binti Malik ra."
Para ulama telah sepakat untuk menerima hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh perempuan, karena jika tidak, akan banyak ajaran-ajaran Islam yang hilang.
Lihat Juga :