Tiga Tingkatan Tobat, Menurut Kyai Said Aqil Siroj
Rabu, 20 Mei 2020 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Jika sudah mampu menjauhkan ajakan atau rayuan godaan setan dan godaan hawa nafsu, kita akan mendapatkan minimal langkah pertama menuju pada maqam rohani. Maqam yang paling pendek atau paling dekat, menurutnya, adalah maqam taubat.
Namun, Kiai Said menegaskan bahwa taubat di sini bukan sekadar ucapan istighfar, memohon ampunan kepada Allah swt atas segala dosa yang diperbuat.
"Itu sih redaksinya. Itu redaksinya seperti itu. Tapi hakikatnya taubat itu al-ruju’ ilal haq, kita kembali ke jalan yang benar menjadi sikap. Maka akan menjadi maqam spiritual, pangkat spiritual," katanya. (Baca juga: Taubat di Bulan Ramadhan: Masih Ada Waktu Sedikit Lagi )
Jika manusia secara fisik ingin mendapatkan pangkat atau status yang meningkat, maka begitu pula rohaninya harus terus meningkat ke jenjang yang lebih tinggi lagi. "Harus terus mencapai yang lebih tinggi lagi, lebih bermartabat lagi," ujarnya.
Pasalnya, Kiai Said menjelaskan bahwa sufi adalah orang yang menyesuaikan dengan waktu, yang menguasai waktunya. Sufi juga tidak mempunyai warna tertentu. Warna seorang sufi seperti air, tergantung tempatnya. "Dengan demikian, kita harapkan semuanya sebagai warga Nahdliyin, mari kita kembali ke jalannya Allah. Itulah yang namanya taubat," katanya.
Kiai yang menamatkan studinya di Arab Saudi ini juga menerangkan bahwa taubat memiliki tiga tingkatan, yakni (1) taubatnya orang awam dengan menyesali dari maksiat dan dosa, (2) taubatnya ulama dengan menyesali lupa dan teledor, dan (3) taubatnya orang khowas (khusus) itu puncaknya orang tobat tobat, yakni menyesali merasa ada. (Baca juga: Hikmah Ramadhan: Perempuan Pezina yang Bertobat Akhirnya Disalatkan Nabi )
Sebab, merasa ada bagi orang yang arif merupakan dosa besar yang harus segera ditaubati. Hal itu mengingat hakekatnya manusia ini diadakan oleh Yang Ada, yaitu Allah itu sendiri. Kegiatan silturahim virtual ini diikuti oleh perwakilan dari 31 PCINU, KBRI, dan KJRI yang tersebar di seluruh dunia. (Baca juga: Cara Mengetahui Tobat Kita Diterima Allah)
Namun, Kiai Said menegaskan bahwa taubat di sini bukan sekadar ucapan istighfar, memohon ampunan kepada Allah swt atas segala dosa yang diperbuat.
"Itu sih redaksinya. Itu redaksinya seperti itu. Tapi hakikatnya taubat itu al-ruju’ ilal haq, kita kembali ke jalan yang benar menjadi sikap. Maka akan menjadi maqam spiritual, pangkat spiritual," katanya. (Baca juga: Taubat di Bulan Ramadhan: Masih Ada Waktu Sedikit Lagi )
Jika manusia secara fisik ingin mendapatkan pangkat atau status yang meningkat, maka begitu pula rohaninya harus terus meningkat ke jenjang yang lebih tinggi lagi. "Harus terus mencapai yang lebih tinggi lagi, lebih bermartabat lagi," ujarnya.
Pasalnya, Kiai Said menjelaskan bahwa sufi adalah orang yang menyesuaikan dengan waktu, yang menguasai waktunya. Sufi juga tidak mempunyai warna tertentu. Warna seorang sufi seperti air, tergantung tempatnya. "Dengan demikian, kita harapkan semuanya sebagai warga Nahdliyin, mari kita kembali ke jalannya Allah. Itulah yang namanya taubat," katanya.
Kiai yang menamatkan studinya di Arab Saudi ini juga menerangkan bahwa taubat memiliki tiga tingkatan, yakni (1) taubatnya orang awam dengan menyesali dari maksiat dan dosa, (2) taubatnya ulama dengan menyesali lupa dan teledor, dan (3) taubatnya orang khowas (khusus) itu puncaknya orang tobat tobat, yakni menyesali merasa ada. (Baca juga: Hikmah Ramadhan: Perempuan Pezina yang Bertobat Akhirnya Disalatkan Nabi )
Sebab, merasa ada bagi orang yang arif merupakan dosa besar yang harus segera ditaubati. Hal itu mengingat hakekatnya manusia ini diadakan oleh Yang Ada, yaitu Allah itu sendiri. Kegiatan silturahim virtual ini diikuti oleh perwakilan dari 31 PCINU, KBRI, dan KJRI yang tersebar di seluruh dunia. (Baca juga: Cara Mengetahui Tobat Kita Diterima Allah)
(mhy)
Lihat Juga :