Beginilah Kecintaan Sahabat Rasulullah kepada Ahlul Bait

loading...
Beginilah Kecintaan Sahabat Rasulullah kepada Ahlul Bait
Umat Islam diperintahkan untuk menaruh hormat dan cinta kepada Rasulullah dan ahlul baitnya (keluarga dan orang rumah Nabi). Foto/Ist
Cinta dan kasih sayang kepada sesama adalah satu ajaran mulia Islam. Sejak 15 abad lalu, Nabi Muhammad sudah mengajarkan hal tersebut kepada keluarga dan sahabat beliau.

Itu sebabnya, umat Islam diperintah agar menaruh cinta dan hormat kepada Rasulullah dan ahlul baitnya (keluarga dan orang rumah belia). Pengasuh Ponpes Ash-Shidqu Kuningan Habib Quraisy Baharun menceritakan kecintaan sahabat kepada ahlul bait.

Baca Juga: Kenapa Berlebihan Mencintai Rasulullah, Ternyata Ini Alasannya!

Dalam perjalanan dakwah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak saja berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Anshor dalam satu hati, langkah, dan pandangan dengan penuh cinta. Persaudaraan antara dua kelompok ini tertulis dalam tinta sejarah sebagai bentuk ideal kesatuan masyarakat yang berperadaban.

Di sisi lain, Rasulullah juga menebar ajaran cinta dan kasih sayang sehingga dengan perjuangan dakwah ini, beliau tidak berharap apapun selain kecintaan dan kasih sayang kepada keluarga dan keturunannya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:



قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ

"Katakanlah: 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan'." (QS Asy-Syura: 23)

Al-Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menukil pendapat sahabat Abdullah bin Abbas terkait ayat tersebut. Dalam pandangannya makna dari illal mawaddata fil qurba adalah menjaga kerabat Rasulullah, menyayangi, dan menyambungnya. (Ma'alim Al-Tanzil, [Darul Ma'rifah Beirut] hlm: 4/124)

Bahkan secara tegas Rasulullah pernah berwasiat:

وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

"Dan ahli baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku (beliau mengucapkan sebanyak tiga kali)." (HR Muslim, 2408)

Dalam beberapa kesempatan dan waktu Rasulullah juga mewanti-wanti hal ini. Ini menunjukkan bahwa betapa pesan, wasiat Rasulullah menjadi suatu hal yang menancap di dada para sahabat, sehingga Abu Bakar As-Shiddiq dengan segala kelebihannya di hadapan Nabi tetap mengedepankan kepentingan keluarga Nabi.

فَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَقَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا فَضْلَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبًا حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِي بَكْرٍ فَلَمَّا تَكَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي وَأَمَّا الَّذِي شَجَرَ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ فَلَمْ آلُ فِيهَا عَنْ الْخَيْرِ وَلَمْ أَتْرُكْ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ فِيهَا إِلَّا صَنَعْتُهُ

"Ali karramallahu wajhah berkata: 'Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu, kami bukan berarti dengki terhadap kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun rupanya engkau hanya menggunakan logikamu sendiri memperlakukan kami, kami punya pendapat, selayaknya kami peroleh bagian karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah hingga kedua mata Abu Bakar menangis. Ketika Abu Bakar bicara, Abu Bakar sampaikan; 'Kekerabatan Rasulullah lebih saya cintai daripada aku menyambung kekerabatanku, adapun percekcokan antara aku dan kalian dari harta ini, saya tidak pernah mengingkari kebaikan, tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah ﷺ melakukannya." (HR Bukhari, No 3411, 3712)

Tidak Mencela Ahlul Bait
Pada kesempatan yang lain juga Abu Bakar sedemikian mencintai, mengagungkan, dan memuliakan Hasan dan Husain dan sesekali bersenda gurau, sebagaimana yang diriwayatkan dalam satu hadits:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ

"Jagalah Muhammad صلى الله عليه وسلم terhadap ahli baitnya." (HR Bukhari: 3713)

Maksudnya adalah menjaga beliau dengan tidak mencela dan menyakiti ahli bait.

قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَحَمَلَ الْحَسَنَ وَهُوَ يَقُولُ: بِأَبِي شَبِيهٌ بِالنَّبِي لَيْسَ شَبِيهٌ بِعَلِي وَعَلِيٌّ يَضْحَكُ
halaman ke-1
cover top ayah
وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ‌
Dan ingatlah kisah Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim."

(QS. Al-Anbiya:87)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!