Ramadhan Akan Pergi, Ini 10 Keutamaan Lapar yang Jarang Diketahui

loading...
Ramadhan Akan Pergi, Ini 10 Keutamaan Lapar yang Jarang Diketahui
Keutamaan dan manfaat lapar salah satunya dapat menghidupkan hati dan melahirkan ketundukan kepada Allah. Foto/Ist
Tak lama lagi kita akan berpisah dengan bulan suci Ramadhan. Tidak terasa kita telah menjalani ibadah puasa selama 28 hari. Hari-hari yang penuh perjuangan menahan lapar dan dahaga demi meraih ridha Allah Ta'ala.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa harus berlapar-lapar di bulan Ramadhan. Bukankah lapar hanya membuat lambung sakit? Ternyata ada keutamaan besar dibalik lapar ini.

Baca Juga: Hikmah Lapar dan Mendidik Nafsu saat Puasa

Berikut keutamaan dan manfaat lapar sebagaimana disebutkan Al-Habib Umar Bin Hafizh dalam Kitab Qabas An-Nurul Mubiin (Mukhtasor Ihya' 'Ulumuddin). Orang yang meminum obat lalu penyakitnya sembuh, kemudian menganggap kesembuhan itu datang dari sifat pahit obat, sehingga ia meminum semua rasa pahit itu, tentu saja ia salah kaprah. Akan tetapi, nilai manfaat obat ada pada sifat-sifat khususnya, yang hanya diketahui oleh para dokter.

Berikut 10 Keutamaan dari Lapar:

1. Lapar Bisa Membersihkan Hati dan Menghidupkan Mata Batin
Ibnu Abbas mengatakan, "Siapa yang makan lalu tidur, hatinya menjadi keras."



Asy-Syibli menyatakan, "Setiap kali aku lapar karena Allah, aku senantiasa melihat di dalam hatiku ada sebuah pintu hikmah dan ibrah terbuka, yang sebelumnya belum pernah kulihat."

2. Lapar Melembutkan Hati dan Menjernihkannya
Dengan hati yang lembut dan jernih, seseorang akan siap mendapatkan kenikmatan dalam beribadah dan tersentuh oleh zikir. Hati yang lembut karena merasakan kelezatan dalam beribadah adalah faktor utama yang memudahkan pemikiran dan pencarian ilmu pengetahuan.

Al-Junaid rahimahullah mengatakan, "Ada seseorang menempatkan kantong berisi makanan di dadanya, kemudian dia ingin mendapatkan manisnya munajat." Bagaimana mungkin?

3. Lapar Melahirkan Ketundukan dan Melenyapkan Kedurhakaan
Selama belum pernah menyaksikan kehinaan dan kelemahannya sendiri, seseorang tidak bisa melihat keagungan dan kemahakuasaan Tuhan. Ketika dunia dan seisinya ditawarkan kepada Nabi shalallahu 'alaihi waalihi wa shahbihi wa salam, beliau menjawab, "Tidak. Aku akan menahan lapar sehari lalu makan sehari. Jika aku lapar, aku akan bersabar dan berdoa kepada-Nya; dan jika aku kenyang, aku akan bersyukur."

4. Lapar Mengingatkan Kita kepada Cobaan dan Azab Allah
Orang yang kenyang biasanya melupakan orang yang lapar. Sementara itu, orang yang cerdas ketika haus akan teringat pada kehausan yang menimpa semua makhluk di Padang Mahsyar. Dan ketika lapar akan teringat pada kelaparan yang menerpa para penghuni neraka.

Ketika para penghuni neraka itu kelaparan, mereka diberi makan dari pohon yang berduri dan zaqqum, dan diberi minum air yang sangat dingin dan cairan tembaga. Nabi Isa 'alaihissalam pernah ditanya, "Mengapa engkau lapar, padahal di tanganmu terdapat perbendaharaan bumi?"

Beliau menjawab: "Aku takut kenyang sehingga lupa kepada orang lapar." Jadi, lapar bisa melahirkan sifat welas, kedermawanan, dan iba kepada sesama makhluk Allah.

5. Lapar Dapat Mematahkan Nafsu untuk Berbuat Maksiat
Manfaat lapar dapat menundukkan nafsu penyeru kepada keburukan (ammarah bi al-su). Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan, "Bid'ah pertama yang terjadi sesudah wafatnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam adalah kenyang."

Dzun Nun mengatakan: "Setiap kali aku kenyang, aku senantiasa bermaksiat atau mempunyai niat untuk melakukannya." Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh anggota badan ditimbulkan oleh energi yang berasal dari kenyang.

6. Lapar Bisa Menahan Kantuk dan Memudahkan untuk Ibadah Malam
Sebaliknya, kebanyakan makan bisa menyia-nyiakan umur. Dan meskipun tidur bisa ditundukkan, lalu seseorang mengerjakan sholat tahajud, orang yang kekenyangan tidak akan mendapatkan kelezatan dalam beribadah.

7. Lapar Memudahkan Seseorang untuk Tekun Beribadah
Dengan menahan lapar, seseorang tidak akan disibukkan oleh urusan jual beli bahan makanan, memasak, dan bolak-balik ke kamar mandi. Sari As-Saqathi mengatakan: "Aku melihat Ali Al-Jurjani mempunyai sawiq (bubur dari tepung gandum) dan ia memakannya tanpa kuah. Lalu kutanyakan kepadanya, Apa yang membuatmu melakukan ini?"

Ali menjawab: "Antara mengunyah roti dan menyantap sawiq ada selisih waktu sebanyak 70 bacaan tasbih. Aku sendiri sudah 40 tahun tidak mengonsumsi roti." Lihatlah bagaimana beliau sangat berhati-hati dalam mengatur waktunya agar tidak hilang hanya untuk mengunyah roti.

Puasa, iktikaf, dan menjaga diri tetap dalam keadaan berwudhu merupakan keuntungan yang sangat besar yang bisa dilakukan dengan mudah oleh orang yang makan sedikit.

Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan: "Siapa yang makan hingga kenyang, ada enam dampak negatif baginya. Ia kehilangan manisnya beribadah, tidak mampu lagi memelihara hikmah, berkurang rasa ibanya kepada sesama, ibadah terasa berat baginya, dan bertambah nafsunya. Dampak terakhir, saat orang-orang mukmin beraktivitas di masjid, ia justru sibuk beraktivitas di sekitar tempat sampah dan toilet."
halaman ke-1
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur:31)
cover bottom ayah
preload video