Menjaga Nikmat Hidayah
Kamis, 20 Mei 2021 - 09:11 WIB
loading...
A
A
A
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) Barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim)
Baca juga: Pentingnya Muslimah Selalu Meng-Up Grade Ilmu
Dikutip dari ceramah Idul Fitri-nya, Ustadz Ali Imran memaparkan, sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang sebelum kita yang merasakan nikmatnya hidayah, mereka mampu bertahan meskipun ujian demi ujian mereka rasakan, bahkan terkadang nyawa pun menjadi taruhan.
Sebagaimana sahabat Bilal Ibnu Rabah yang sanggup bertahan saat ujian. Ia disiksa oleh majikannya di tengah terik panas matahari. Diseret di hamparan padang pasir dan ditarik dengan kudanya. Bahkan batu besar pun ditindih di atas tubuhnya, sehingga menyebabkan darah bercucuran dari tubuhnya serta dipaksa untuk murtad dari agamanya dan meninggalkan keyakinannya.
Namun semua itu justru menguatkannya dalam keimanan dan keyakinannya bahkan saat dikatakan kepadanya, ‘irtad.. irtad..’ (murtadlah kau), dijawab dengan penuh ketegasan dan kesadaran dari hatinya dengan satu kata, yaitu ‘ahad.. ahad..’ (Allah yang Maha Esa).
Baca juga: Terowongan Hamas yang Jadi Momok Mengerikan Tentara Israel
Hingga pada akhirnya bilal dibebaskan oleh sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Saat beliau ditanya oleh para sahabat, “Apa yang dirasakan saat siksaan demi siksaan beliau terima?”
Dijawab oleh Bilal, “Meskipun berat siksaan dan darah bercucuran itu semua tidaklah aku rasakan, yang aku rasakan adalah manisnya iman. Karena yang ada pada benakku adalah kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga itu semua membuat aku teguh dalam kebenaran.”
Cara Menjaga Hidayah
Saat ini, kita hidup di zaman penuh dengan fitnah. Zaman di mana kebenaran dianggap kesalahan, dan kesalahan dianggap kebenaran. Kebaikan dianggap keburukan. Keburukan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan, banyak di antara umat manusia yang terjerumus pada jurang kemurtadan. Na’udzu billah min dzalik.
Baca juga: Parliamentary Threshold 4%, Partai Pendatang Baru Diprediksi Agak Berat Lolos
Baca juga: Pentingnya Muslimah Selalu Meng-Up Grade Ilmu
Dikutip dari ceramah Idul Fitri-nya, Ustadz Ali Imran memaparkan, sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang sebelum kita yang merasakan nikmatnya hidayah, mereka mampu bertahan meskipun ujian demi ujian mereka rasakan, bahkan terkadang nyawa pun menjadi taruhan.
Sebagaimana sahabat Bilal Ibnu Rabah yang sanggup bertahan saat ujian. Ia disiksa oleh majikannya di tengah terik panas matahari. Diseret di hamparan padang pasir dan ditarik dengan kudanya. Bahkan batu besar pun ditindih di atas tubuhnya, sehingga menyebabkan darah bercucuran dari tubuhnya serta dipaksa untuk murtad dari agamanya dan meninggalkan keyakinannya.
Namun semua itu justru menguatkannya dalam keimanan dan keyakinannya bahkan saat dikatakan kepadanya, ‘irtad.. irtad..’ (murtadlah kau), dijawab dengan penuh ketegasan dan kesadaran dari hatinya dengan satu kata, yaitu ‘ahad.. ahad..’ (Allah yang Maha Esa).
Baca juga: Terowongan Hamas yang Jadi Momok Mengerikan Tentara Israel
Hingga pada akhirnya bilal dibebaskan oleh sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu. Saat beliau ditanya oleh para sahabat, “Apa yang dirasakan saat siksaan demi siksaan beliau terima?”
Dijawab oleh Bilal, “Meskipun berat siksaan dan darah bercucuran itu semua tidaklah aku rasakan, yang aku rasakan adalah manisnya iman. Karena yang ada pada benakku adalah kecintaanku kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga itu semua membuat aku teguh dalam kebenaran.”
Cara Menjaga Hidayah
Saat ini, kita hidup di zaman penuh dengan fitnah. Zaman di mana kebenaran dianggap kesalahan, dan kesalahan dianggap kebenaran. Kebaikan dianggap keburukan. Keburukan dianggap sebagai kebaikan. Bahkan, banyak di antara umat manusia yang terjerumus pada jurang kemurtadan. Na’udzu billah min dzalik.
Baca juga: Parliamentary Threshold 4%, Partai Pendatang Baru Diprediksi Agak Berat Lolos
Lihat Juga :