Bolehkah Ngaji dari Internet? Begini Kata Ustaz Ahmad Sarwat
Rabu, 09 Juni 2021 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
Yang langsung gampang terdeteksi itu masalah penguasaan ilmu alat, seperti Nahwu Sharaf. Kasih satu baris ayat Qur'an dan suruh mereka meng-i'rab kata per kata. Pasti langsung panas dingin, gemeteran dan pucat pasi wajahnya.
Jadi yang dibilang jangan ngaji dri internet itu maksudnya kalau yang jadi narasumbernya tokoh-tokoh yang bukan ahli di salah satu disiplin ilmu agama. Sayangnya,justru yang model begini yang mendominasi konten-konten keagamaan di media sosial. Sehingga kesannya, internet itu isinya sampah.
"Sayangnya lagi, para ulama yang betulan punya ilmu masih malu-malu untuk bikin konten di media sosial. Ini bahasa halus saya saja. Sebenarnya saya ingin bilang bahwa mereka itu kalah strategi dan kecolongan, tapi belagak tidak tahu dan pasrah, tidak mau usaha. Tidak merasa geram dengan maraknya kejahilan di depan mata," kata Dai lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA, Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.
Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, jihad ilmu di media sosial adalah medan perang kita yang nyata dan sesungguhnya. Dan namanya jihad, pasti butuh biaya. Minimal buat kuota, kamera dan printilannya.
Kalau dalam ayat zakat disebutkan bahwa Fii Sabilillah itu salah satu Asnaf penerima zakat, maka alokasi beli peralatan 'perang cyber' nampaknya perlu dipikirkan matang-matang.
"Tapi perang cyber yang saya maksud bukan jadi buzzer yang ngeributin urusan politik. Perang cybernya adalah dengan membanjiri medsos dengan ilmu-ilmu keislaman yang original.Dan yang bisa melakukannya hanya para ulama yang berkompeten di bidangnya," tutupnya.
Baca Juga: Ketika Imam Syafi'i Berdebat dengan Ulama Senior Mazhab Hanafi
Wallahu A'lam
Jadi yang dibilang jangan ngaji dri internet itu maksudnya kalau yang jadi narasumbernya tokoh-tokoh yang bukan ahli di salah satu disiplin ilmu agama. Sayangnya,justru yang model begini yang mendominasi konten-konten keagamaan di media sosial. Sehingga kesannya, internet itu isinya sampah.
"Sayangnya lagi, para ulama yang betulan punya ilmu masih malu-malu untuk bikin konten di media sosial. Ini bahasa halus saya saja. Sebenarnya saya ingin bilang bahwa mereka itu kalah strategi dan kecolongan, tapi belagak tidak tahu dan pasrah, tidak mau usaha. Tidak merasa geram dengan maraknya kejahilan di depan mata," kata Dai lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA, Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.
Menurut Ustaz Ahmad Sarwat, jihad ilmu di media sosial adalah medan perang kita yang nyata dan sesungguhnya. Dan namanya jihad, pasti butuh biaya. Minimal buat kuota, kamera dan printilannya.
Kalau dalam ayat zakat disebutkan bahwa Fii Sabilillah itu salah satu Asnaf penerima zakat, maka alokasi beli peralatan 'perang cyber' nampaknya perlu dipikirkan matang-matang.
"Tapi perang cyber yang saya maksud bukan jadi buzzer yang ngeributin urusan politik. Perang cybernya adalah dengan membanjiri medsos dengan ilmu-ilmu keislaman yang original.Dan yang bisa melakukannya hanya para ulama yang berkompeten di bidangnya," tutupnya.
Baca Juga: Ketika Imam Syafi'i Berdebat dengan Ulama Senior Mazhab Hanafi
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :