Penyesalan Kunci Sukses Taubat
Jum'at, 24 September 2021 - 06:50 WIB
loading...
Menurut Imam Al Ghazali faktor penyesalan adalah menjadi kunci sukses taubat. Foto ilustrasi/istimewa
A
A
A
Taubat adalah unsur penting untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Dengan bertaubat, seorang hamba berarti menyesali dosanya sehingga ia mendapat ampunan Allah Ta'ala.
Menurut Imam Al-Ghazali, taubat memiki kriteria khusus. Pertama, meninggalkan dosa-dosa (al-iqla' an al-dzunub). Kedua, berjanji tidak mengulangi (al-azm an la ya'uda). Kriteria ketiga, penyesalan.
Menurut Al-Ghazali faktor penyesalan adalah menjadi kunci sukses taubat. Hal ini, karena tanpa penyesalan yang mendalam, sukar dibayangkan seseorang akan benar-benar bertaubat. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa sallam memandang bahwa penyesalan itu identik dengan taubat itu sendiri, sebagaimana sabda beliau, ''al-Nadamu taubatun, penyesalan adalah taubat itu sendiri.''
Baca juga: Kendati Bermaksiat, Allah Masih Buka Pintu Bertaubat
Orang yang benar-benar menyesal, menurut Ghazali, ditandai tiga hal. Pertama, hatinya lentur dan sensitif serta tidak membeku dan membatu seperti batu cadas (riqqat al-qalb). Kedua, air matanya mudah meleleh tanpa sadar (ghazarat al-dumu').
Terkait makna penyesalan, meski selalu datang terlambat, namun penyesalan itu belum menjadi akhir dari segalanya selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Tapi tahukah kita bahwa ada sebuah penyesalan yang benar-benar terlambat menjadi akhir segalanya dan kita tidak dapat lagi memperbaikinya, yaitu sebuah penyesalan ketika kita sudah mati. Karena itu sebelum terlambat, dan benar-benar semua menjadi penyesalan abadi, segeralah kita perbaiki diri dan melakukan amal shaleh. Bertaubatlah dengan sepenuhnya menyesal sebelum ajal.
Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
Puncak dari harapan orang - orang yang telah mati di kubur - kubur mereka adalah berharap bisa hidup kembali barang sesaat untuk mengejar apa - apa yang terluputkan dari mereka (ketika di dunia) berupa taubat dan amal shaleh. Sementara orang-orang (yang masih hidup) di dunia ini masih saja menyia-nyiakan hidupnya sehingga hilanglah umur-umur mereka secara sia-sia dalam kelalaian, bahkan di antara mereka ada yang menghabiskan umurnya dengan kemaksiatan. (Kitab Latha iful Ma'arif 339).
Baca juga: Cara Membentengi Rumah Agar Tidak Dimasuki Setan
Menurut Imam Al-Ghazali, taubat memiki kriteria khusus. Pertama, meninggalkan dosa-dosa (al-iqla' an al-dzunub). Kedua, berjanji tidak mengulangi (al-azm an la ya'uda). Kriteria ketiga, penyesalan.
Menurut Al-Ghazali faktor penyesalan adalah menjadi kunci sukses taubat. Hal ini, karena tanpa penyesalan yang mendalam, sukar dibayangkan seseorang akan benar-benar bertaubat. Itu sebabnya, Nabi Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa sallam memandang bahwa penyesalan itu identik dengan taubat itu sendiri, sebagaimana sabda beliau, ''al-Nadamu taubatun, penyesalan adalah taubat itu sendiri.''
Baca juga: Kendati Bermaksiat, Allah Masih Buka Pintu Bertaubat
Orang yang benar-benar menyesal, menurut Ghazali, ditandai tiga hal. Pertama, hatinya lentur dan sensitif serta tidak membeku dan membatu seperti batu cadas (riqqat al-qalb). Kedua, air matanya mudah meleleh tanpa sadar (ghazarat al-dumu').
Terkait makna penyesalan, meski selalu datang terlambat, namun penyesalan itu belum menjadi akhir dari segalanya selama masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Tapi tahukah kita bahwa ada sebuah penyesalan yang benar-benar terlambat menjadi akhir segalanya dan kita tidak dapat lagi memperbaikinya, yaitu sebuah penyesalan ketika kita sudah mati. Karena itu sebelum terlambat, dan benar-benar semua menjadi penyesalan abadi, segeralah kita perbaiki diri dan melakukan amal shaleh. Bertaubatlah dengan sepenuhnya menyesal sebelum ajal.
Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata :
Puncak dari harapan orang - orang yang telah mati di kubur - kubur mereka adalah berharap bisa hidup kembali barang sesaat untuk mengejar apa - apa yang terluputkan dari mereka (ketika di dunia) berupa taubat dan amal shaleh. Sementara orang-orang (yang masih hidup) di dunia ini masih saja menyia-nyiakan hidupnya sehingga hilanglah umur-umur mereka secara sia-sia dalam kelalaian, bahkan di antara mereka ada yang menghabiskan umurnya dengan kemaksiatan. (Kitab Latha iful Ma'arif 339).
Baca juga: Cara Membentengi Rumah Agar Tidak Dimasuki Setan
Lihat Juga :