Bicara yang Baik Atau Diam!

Kamis, 02 Desember 2021 - 08:09 WIB
loading...
Bicara yang Baik Atau...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center

Sambil menikmati pergerakan kereta api bawah tanah di Kota New York saya mencoba kembali bertanya-tanya. Ada apa ya dengan berbagai perdebatan bahkan kekisruhan terjadi saat ini? Apalagi jika melihat hiruk pikuk media, khususnya di media sosial. Kenapa setiap statemen atau kata kerap menjadi pemicu perdebatan?

Mungkin saja karena masyarakat kita mengalami euphoria kebebasan yang sering tak terkontrol. Mungkin juga karena memang masyarakat kita sedang mengalami emosi sosial yang terpicu oleh banyak penyebab. Atau juga karena memang ada kepentingan dan tujuan dari pihak-pihak tertentu yang senang mengail di air keruh.

Semua itu dan tentunya banyak lagi penyebab lainnya boleh jadi menjadi pemicu semua kekisruhan dan lalu lalang perdebatan terhadap ragam isu di media sosial khususnya. Pastinya ada sensitifitas keumatan (sosial) yang sedang terusik. Bahkan boleh saja telah mencapai tingkatan kekecewaan bahkan memarahan.

Tapi nampaknya yang paling sering menjadi pemicu adalah karena adanya pihak-pihak yang perlu mengontrol pernyataan-pernyataan (kata-kata). Benar kata sebagian orang bijak: kata itu bisa jadi air yang menyejukkan. Tapi juga bisa jadi api yang membakar.

Hakikat inilah barangkali diingatkan secara tersirat oleh beberapa ayat Al-Qur'an. Dua ayat yang ingin saya kutip di bawah ini saya kira mewakili urgensi seseorang menjaga kata atau pernyataan.

Ketika Allah bersumpah tengah lisan dan bibir: ولسانا وشفتين (dan demi lidah dan dua bibir). Para Ulama mengungkapkan bahwa salah satu maksud terpenting dari ayat itu adalah urgensi menjaga kata-kata atau pembicaraan.

Demikian juga ketika Allah menggandengkan beberapa hal pokok kehidupan manusia di awal Surah Ar-Rahman. Satu yang terpenting di antaranya adalah urgensi membangun komunikasi yang tidak saja benar. Tapi juga berkesesuaian, termasuk di dalamnya menjaga sensitifitas objek pembicaraan.

Komunikasi yang sesuai dan benar itu diistilahkan dengan علمه البيان (Allah mengajarkan Al-Bayaan). Sebagian ulama memaknai al-Bayan dengan ekspresi sosial menusia dengan alam sekitarnya. Termasuk di antaranya urgensi menjaga kata dan pembicaraan.

Rasulullah SAW sendiri bahkan menjamin surga bagi siapa yang mampu menjaga lisannya. Ini sekaligus menandakan urgensi berhati-hati dalam berkata atau berbicara. Karena benar juga kata orang bijak: sebuah kata dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh sebuah jarum.

Tentu akan lebih sensitif lagi ketika kata atau pembicaraan itu keluar dari seorang yang telah menjadi figur publik (public figur). Apalagi jika figuritas itu karena sebuah posisi publik yang lebih dikenal dengan Pemimpin atau tokoh di bidang apa saja.

Pemimpin itu katanya didengar. Baik dalam makna positif (diikuti) atau dalam makna negatif (ditolak). Tapi Intinya kata-kata Pemimpin itu didengar oleh publik dan karenanya kerap menimbulkan perdebatan dan kekisruhan.

Contoh terdekat barangkali adalah Donald Trump. Sebelum menjadi Presiden Amerika Donald Trump sering memberikan statemen atau pernyataan-pernyataan yang kontroversial. Tapi ketika itu tidak terlalu menimbulkan "pubic damage" (kerusakan umum) yang terasa. Bahkan saya pernah berkesempatan menemuinya ketika memberikan statemen yang sangat tidak bersahabat dengan Islam. Tapi semua itu terasa biasa saja. Berlalu tanpa ada dampak yang terlalu berarti.

Berbeda ketika Trump telah terpilih jadi presiden. Kata-katanya walaupun itu nampak kecil ternyata memiliki dampak besar di benar banyak rakyat Amerika. Pernyataan Trump misalnya bahwa "Islam hates us" atau Islam membenci kita memiliki dampak yang berbeda antara sebelum dan sesudah menjadi seorang Pemimpin.

Saya masih dapat merasakan dampak negatif pernyataan Trump di saat telah menjadi Presiden. Begitu banyak warga Amerika yang mengambilnya secara hitam putih sehingga terbangun ketakutan, kecurigaan, bahkan ketakutan kepada agama ini secara berlebihan.

Di sinilah saya ingin mengingatkan kepada semua jajaran kepemimpinan di tanah air, baik di tingkat nasional maupun daerah, dan pada skala apapun untuk menjaga kata-kata (pernyataan). Karena begitu kata atau pernyataan itu keluar ke publik pastinya akan menjadi konsumsi publik pula. Dan itulah yang kemudian menimbulkan ragam kegelisahan, keresahan, kekisruhan bahkan perdebatan yang membawa kepada permusuhan dan perpecahan.

Ada baiknya para pejabat negara untuk sadar bahwa dampak dari kata atau pernyataan itu menjadi pertanggung jawaban dunia akhirat. Di dunia akan direspon oleh publik. Dan di akhirat akan dipertanggung di hadapan yang Maha Pemilik Hari Pengadilan (MalikI Yaumiddin).

Para pemimpin sebaiknya menghayati peringatan Rasulullah: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka hendaknya berkata yang baik atau diam".

Baiknya diingatkan kembali: kerja, kerja, kerja! Jangan terlalu banyak ngomong. Apalagi tentang hal yang tidak didasari keilmuan yang cukup. Lelah bangsa ini dijadikan ribut oleh sebagian pejabatnya sendiri.

NYC Subway, 1 Desember 2021

Baca Juga: Inilah 10 Adab Berbicara Agar Lisan Terjaga
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kata Ulama : Sekarang...
Kata Ulama : Sekarang Zaman Fitnah, Hati-hati Bicara atau Lebih Baik Diam
Gus Miftah Kepleset...
Gus Miftah Kepleset Lidah? Begini Resepnya Islam
Meneladani Ibrahim (1):...
Meneladani Ibrahim (1): Kebesaran Allah dan Kehidupan
Fitnah Kehidupan, Kisah...
Fitnah Kehidupan, Kisah Pemilik Kebun dalam Surat Al-Kahfi
Pertemuan Tokoh Agama...
Pertemuan Tokoh Agama Amerika, Serukan Perdamaian dan Stop Peperangan
Memaknai Keberkahan...
Memaknai Keberkahan Ramadan (3): Momentum Melakukan Reorientasi Hidup
Rekomendasi
Temuan 123 Simbol Maya...
Temuan 123 Simbol Maya Ungkap Keberadaan Kota Misterius yang Hilang
Fenomena Alam di Indonesia...
Fenomena Alam di Indonesia Ini Sama Persis dengan Al-Quran Surat An-Naml
Mengapa Orbit Bumi Berputar...
Mengapa Orbit Bumi Berputar Tak Terkendali? Ternyata Ini Penyebabnya
Artikel Terkini
Teladan Rasulullah SAW...
Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Mengapa Surat Al-Fatihah...
Mengapa Surat Al-Fatihah Disebut Induk Al-Qur'an? Ini Makna dan Keistimewaannya
Infografis
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah...
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah Yang Karyanya Mendunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved