Misteri Umar bin Khattab Saat Ikut Hijrah ke Madinah
Senin, 08 Juni 2020 - 09:45 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ka'bah: Kisah Nazar Abdul Muthalib Menyembelih Anaknya
Umar sudah sampai di Quba'. Di Banu Amr bin Auf ia bersama keluarganya tinggal pada keluarga Rifa'ah bin Abdul-Munzir. Setelah Rasulullah yang hijrah ditemani Abu Bakar tiba, Umar termasuk yang menyambutnya dan pergi bersama-sama dengan rombongan itu ke Madinah. Seperti Rasulullah dan Muslimin yang lain Umar juga ikut bekerja membangun mesjid dan tempat tinggal Rasulullah. Setelah itu Rasulullah pindah dari rumah Abu Ayyub al-Ansari.
Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan permulaan zaman baru dan kebijaksanaan baru dalam sejarah Islam dan kaum Muslimin. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah berkumpul dengan mereka yang sudah menganut Islam di Madinah.
Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam
Mereka merupakan suatu kekuatan yang dapat mengangkat martabat dan membina kaum Muslimin. Rasulullah menginginkan agar martabat mereka lebih tinggi, persatuan mereka lebih kuat. Dengan menjalin pertalian yang lebih erat antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, maka rasa persatuan dan harga diri mereka itu akan lebih kuat lagi. Oleh karena itu diajaknya mereka saling bersaudara setiap dua orang.
Baca juga: Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal
Beliau sendiri mempersaudarakan Ali bin Abi Thalib; Hamzah pamannya dipersaudarakan dengan bekas budaknya Zaid bin Harisah; Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid; juga setiap orang dari kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan seorang dari Ansar, yang oleh Rasulullah dijadikan hukum saudara sedarah dan senasab. Dalam hal ini Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Utban bin Malik, saudara Banu Salim bin Auf bin Amr bin Auf al-Khazraji.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Menurut sumber-sumber Ibn Sa'd disebutkan bahwa Rasulullah mempersaudarakan Abu Bakar dengan Umar, sumber lain menyebutkan bahwa ia mempersaudarakan Umar dengan Uwaim bin Sa'idah; sumber ketiga menyebutkan Umar dipersaudarakan dengan Mu'az bin Afra'.
Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri
Kemudian terdapat lagi beberapa sumber lain seperti yang dicatat oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari. Sumber yang sudah masyhur dan mutawatir menyebutkan bahwa Umar dipersaudarakan dengan Utban bin Malik.
Cara mempersaudarakan demikian memperkuat kedudukan Muslimin di Madinah, sehingga kaum musyrik dan Yahudi benar-benar memperhitungkan kekuatan mereka. Karena itu kalangan Yahudi tanpa ragu lagi mengajak damai dengan Rasulullah.
Baca juga: Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu
Mereka membuat perjanjian dengan Rasulullah yang menjamin adanya kebebasan beragama dan kebebasan menyatakan pendapat serta menghormati kota Madinah, menghormati kehidupan dan harta dan larangan melakukan kejahatan.
Persetujuan ini memperlemah kedudukan Aus dan Khazraj yang masih tetap musyrik, dan sekaligus memperkuat kedudukan kaum Muslimin.
Baca juga: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah
Umar sudah sampai di Quba'. Di Banu Amr bin Auf ia bersama keluarganya tinggal pada keluarga Rifa'ah bin Abdul-Munzir. Setelah Rasulullah yang hijrah ditemani Abu Bakar tiba, Umar termasuk yang menyambutnya dan pergi bersama-sama dengan rombongan itu ke Madinah. Seperti Rasulullah dan Muslimin yang lain Umar juga ikut bekerja membangun mesjid dan tempat tinggal Rasulullah. Setelah itu Rasulullah pindah dari rumah Abu Ayyub al-Ansari.
Peristiwa hijrah ke Madinah ini merupakan permulaan zaman baru dan kebijaksanaan baru dalam sejarah Islam dan kaum Muslimin. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah berkumpul dengan mereka yang sudah menganut Islam di Madinah.
Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam
Mereka merupakan suatu kekuatan yang dapat mengangkat martabat dan membina kaum Muslimin. Rasulullah menginginkan agar martabat mereka lebih tinggi, persatuan mereka lebih kuat. Dengan menjalin pertalian yang lebih erat antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, maka rasa persatuan dan harga diri mereka itu akan lebih kuat lagi. Oleh karena itu diajaknya mereka saling bersaudara setiap dua orang.
Baca juga: Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal
Beliau sendiri mempersaudarakan Ali bin Abi Thalib; Hamzah pamannya dipersaudarakan dengan bekas budaknya Zaid bin Harisah; Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid; juga setiap orang dari kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan seorang dari Ansar, yang oleh Rasulullah dijadikan hukum saudara sedarah dan senasab. Dalam hal ini Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Utban bin Malik, saudara Banu Salim bin Auf bin Amr bin Auf al-Khazraji.
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Menurut sumber-sumber Ibn Sa'd disebutkan bahwa Rasulullah mempersaudarakan Abu Bakar dengan Umar, sumber lain menyebutkan bahwa ia mempersaudarakan Umar dengan Uwaim bin Sa'idah; sumber ketiga menyebutkan Umar dipersaudarakan dengan Mu'az bin Afra'.
Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri
Kemudian terdapat lagi beberapa sumber lain seperti yang dicatat oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari. Sumber yang sudah masyhur dan mutawatir menyebutkan bahwa Umar dipersaudarakan dengan Utban bin Malik.
Cara mempersaudarakan demikian memperkuat kedudukan Muslimin di Madinah, sehingga kaum musyrik dan Yahudi benar-benar memperhitungkan kekuatan mereka. Karena itu kalangan Yahudi tanpa ragu lagi mengajak damai dengan Rasulullah.
Baca juga: Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu
Mereka membuat perjanjian dengan Rasulullah yang menjamin adanya kebebasan beragama dan kebebasan menyatakan pendapat serta menghormati kota Madinah, menghormati kehidupan dan harta dan larangan melakukan kejahatan.
Persetujuan ini memperlemah kedudukan Aus dan Khazraj yang masih tetap musyrik, dan sekaligus memperkuat kedudukan kaum Muslimin.
Baca juga: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah
Lihat Juga :