Dua Versi Tentang Pertobatan Malik Bin Dinar yang Dramatis
Rabu, 17 Juni 2020 - 17:35 WIB
loading...
A
A
A
Thabet kemudian menyampaikan maksudnya kepada Malik.
“Aku telah menceraikan dunia,” jawab Malik. “Wanita ini milik dunia yang telah aku ceraikan. Aku tidak dapat menikahinya.”
Baca juga: Ini Si Pemalu yang Dicintai Allah Ta'ala
Versi Kedua
Sementara itu, Abdullah bin Ahmad bin Quddamah al-Maqdisi dalam al-Tawwabin menuturkan kisah yang berbeda tentang pertobatan Malik bin Dinar.
Abdullah menulis tentang pertobatan itu berdasar pengakuan Malik bin Dinar sendiri. Berikut pengakuan itu.
Dulu aku adalah seorang polisi yang suka mabuk-mabukan. Aku lalu membeli seorang budak perempuan cantik yang melahirkan anak perempuan yang sangat aku cintai.
Ketika dia sudah dapat merangkak, aku semakin mencintainya. Setiap aku meletakkan minuman keras di hadapanku, dia mendatangiku, lalu menumpahkan minuman keras dariku. Ketika sudah genap dua tahun, dia meninggal dunia, sehingga aku merasa berduka atas kepergiannya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Pada malam Nishfu Syaban, yaitu malam Jumat, semalaman aku mabuk dan tidak mengerjakan salat isya. Kemudian aku bermimpi seakan-akan kiamat telah tiba, sangkakala ditiup, kuburan mengeluarkan isinya, seluruh makhluk telah dikumpulkan, dan aku berada di antara mereka.
Aku mendengar suara dari belakangku, lalu aku menoleh dan melihat ular besar yang berwarna hitam kebiruan mengejarku dengan mulut terbuka. Aku lari terbirit-birit karena ketakutan. Lalu aku bertemu dengan seorang syaikh yang berpakaian bersih dengan bau yang sangat harum. Aku mengucapkan salam padanya, dan dia pun menjawab salamku.
Aku berkata kepadanya, "Wahai syaikh, selamatkan aku dari ular itu, semoga Allah menyelamatkanmu."
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Syaikh itu menangis dan berkata, "Aku lemah, sementara ia lebih kuat dariku. Aku tidak mampu melawannya. Cepatlah pergi, semoga Allah menyelamatkanmu dari ular itu."
Aku terus berlari, lalu naik di atas tebing dari tebing-tebing kiamat, aku mendekati kobaran api neraka. Aku melihat teror di dalamnya, dan hampir saja aku terjatuh karena takut akan kejaran ular itu.
Tiba-tiba ada suara teriakan, "Kembalilah, engkau bukan termasuk penghuni neraka."
Aku merasa tenang dengan kata-katanya, dan aku pun kembali.
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Ular itu terus mengejarku. Aku mendatangi syaikh itu kembali dan berkata kepadanya, "Wahai syaikh, aku memohon padamu agar menyelamatkanku dari ular itu, namun engkau tidak melakukannya."
Syaikh itu menangis lalu berkata kepadaku, "Aku lemah, tapi pergilah ke gunung itu, karena di dalamnya ada simpanan orang-orang Islam. Jika engkau memiliki simpanan di dalam gunung itu, ia akan menyelamatkanmu."
Aku melihat gunung bulat yang terbuat dari perak, ada kubah di atas lembah permata dan tira-tirai yang bergelantungan. Setiap kubah memiliki dua pintu yang berwarna merah keemasan bertaburan zamrud dan mutiara, dan pada setiap pintu terdapat tirai-tirai dari sutera bergantungan.
Ketika aku melihat gunung itu, aku berlari dan ular itu terus mengejarku. Dan ketika aku mendekati gunung itu, salah satu malaikat berteriak, "Angkatlah tirai-tirai itu, bukalah pintu-pintu, dan hati-hatilah. Mudah-mudahan orang malang ini memiliki simpanan yang dapat menyelamatkan dia dari musuhnya."
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Tirai-tirai itu diangkat, pintu-pintu dibuka, dan tiba-tiba dari dalam tempat itu muncul anak-anak yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama, namun ular itu terus mengejarku dan hampir saja aku putus asa.
“Aku telah menceraikan dunia,” jawab Malik. “Wanita ini milik dunia yang telah aku ceraikan. Aku tidak dapat menikahinya.”
Baca juga: Ini Si Pemalu yang Dicintai Allah Ta'ala
Versi Kedua
Sementara itu, Abdullah bin Ahmad bin Quddamah al-Maqdisi dalam al-Tawwabin menuturkan kisah yang berbeda tentang pertobatan Malik bin Dinar.
Abdullah menulis tentang pertobatan itu berdasar pengakuan Malik bin Dinar sendiri. Berikut pengakuan itu.
Dulu aku adalah seorang polisi yang suka mabuk-mabukan. Aku lalu membeli seorang budak perempuan cantik yang melahirkan anak perempuan yang sangat aku cintai.
Ketika dia sudah dapat merangkak, aku semakin mencintainya. Setiap aku meletakkan minuman keras di hadapanku, dia mendatangiku, lalu menumpahkan minuman keras dariku. Ketika sudah genap dua tahun, dia meninggal dunia, sehingga aku merasa berduka atas kepergiannya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Pada malam Nishfu Syaban, yaitu malam Jumat, semalaman aku mabuk dan tidak mengerjakan salat isya. Kemudian aku bermimpi seakan-akan kiamat telah tiba, sangkakala ditiup, kuburan mengeluarkan isinya, seluruh makhluk telah dikumpulkan, dan aku berada di antara mereka.
Aku mendengar suara dari belakangku, lalu aku menoleh dan melihat ular besar yang berwarna hitam kebiruan mengejarku dengan mulut terbuka. Aku lari terbirit-birit karena ketakutan. Lalu aku bertemu dengan seorang syaikh yang berpakaian bersih dengan bau yang sangat harum. Aku mengucapkan salam padanya, dan dia pun menjawab salamku.
Aku berkata kepadanya, "Wahai syaikh, selamatkan aku dari ular itu, semoga Allah menyelamatkanmu."
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Syaikh itu menangis dan berkata, "Aku lemah, sementara ia lebih kuat dariku. Aku tidak mampu melawannya. Cepatlah pergi, semoga Allah menyelamatkanmu dari ular itu."
Aku terus berlari, lalu naik di atas tebing dari tebing-tebing kiamat, aku mendekati kobaran api neraka. Aku melihat teror di dalamnya, dan hampir saja aku terjatuh karena takut akan kejaran ular itu.
Tiba-tiba ada suara teriakan, "Kembalilah, engkau bukan termasuk penghuni neraka."
Aku merasa tenang dengan kata-katanya, dan aku pun kembali.
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Ular itu terus mengejarku. Aku mendatangi syaikh itu kembali dan berkata kepadanya, "Wahai syaikh, aku memohon padamu agar menyelamatkanku dari ular itu, namun engkau tidak melakukannya."
Syaikh itu menangis lalu berkata kepadaku, "Aku lemah, tapi pergilah ke gunung itu, karena di dalamnya ada simpanan orang-orang Islam. Jika engkau memiliki simpanan di dalam gunung itu, ia akan menyelamatkanmu."
Aku melihat gunung bulat yang terbuat dari perak, ada kubah di atas lembah permata dan tira-tirai yang bergelantungan. Setiap kubah memiliki dua pintu yang berwarna merah keemasan bertaburan zamrud dan mutiara, dan pada setiap pintu terdapat tirai-tirai dari sutera bergantungan.
Ketika aku melihat gunung itu, aku berlari dan ular itu terus mengejarku. Dan ketika aku mendekati gunung itu, salah satu malaikat berteriak, "Angkatlah tirai-tirai itu, bukalah pintu-pintu, dan hati-hatilah. Mudah-mudahan orang malang ini memiliki simpanan yang dapat menyelamatkan dia dari musuhnya."
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Tirai-tirai itu diangkat, pintu-pintu dibuka, dan tiba-tiba dari dalam tempat itu muncul anak-anak yang wajahnya bersinar seperti bulan purnama, namun ular itu terus mengejarku dan hampir saja aku putus asa.
Lihat Juga :