Dua Versi Tentang Pertobatan Malik Bin Dinar yang Dramatis
Rabu, 17 Juni 2020 - 17:35 WIB
loading...
A
A
A
Di antara anak-anak itu ada yang berteriak, "Celakalah engkau. Kemarilah dan mendekatlah kalian semua. Musuhnya sudah dekat dengannnya."
Anak-anak itu kemudian keluar satu demi satu, dan aku melihat putriku yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Anakku mendekatiku, dan ketika melihatku dia menangis dan berkata, "Ayah, demi Allah."
Dia kemudian melompat ke dalam kereta cahaya yang kecepatannya seperti anak panah. Dia meletakkan tangan kirinya di atas tangan kananku, dan aku berpegangan ke tangannya. Lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke arah ular itu, dan ular itu pun lari.
Baca juga: Wahai Muslimah, Kejarlah Popularitas Penduduk Langit!
Dia kemudian mengajakku duduk, dan anakku duduk di atas pangkuanku, dan dia mulai membelai janggutku seraya berkata, "Ayah, belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk mengingat Allah?"
Aku menangis, lalu aku berkata kepada anakku, "Anakku, kalian memahami Alquran?"
Anakku menjawab, "Ayah, kami lebih memahaminya lebih baik darimu."
“‘Beritahu aku tentang ular yang ingin membunuhku!’
Baca juga: Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Dia menjawab, "Ia adalah amal burukmu yang kemudian menjadi kuat dan akan melemparkanmu ke neraka."
“‘Lalu siapa syaikh yang aku temui di jalan itu?” tanyaku kepada anak perempuanku kembali.
“‘Dia adalah amal baikmu yang menjadi lemah, sehingga dia tidak dapat membantu menyelamatkanmu dari amal burukmu."
Aku bertanya lagi, "Apa yang kalian lakukan di gunung itu?"
Dia menjawab, "Kami adalah anak-anak orang Islam. Kami tinggal di sini sampai hari kiamat tiba. Kami menunggu kedatangan kalian dan akan memohonkan syafaat untuk kalian."
Aku lalu terbangun ketika fajar telah terbit. Aku menumpahkan minuman kerasku, memecahkan botolnya, dan bertaubat kepada Allah.
Baca juga: Allah Ta'ala Paling Mencintai Hamba yang Berakhlak Baik
Ahli Hadis
Malik bin Dinar al-Sami adalah putra seorang budak Persia dari Sejestan (atau Kabol). Dia murid Abu Said bin Abul-Hasan Yasar al-Basri, atau biasa disebut Hasan al-Basri, seorang sufi ternama.
Malik bin Dinar disebut-sebut sebagai ahli hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis-hadis dari rantai otoritas pada masa awal, seperti dari Anas bin Malik dan Ibnu Sirin. Malik bin Dinar juga diketahui sebagai seorang ahli kaligrafi Alquran yang terkemuka. Dia wafat sekitar tahun 130 H / 748 M.
Agar tidak keliru, Malik bin Dinar adalah orang yang berbeda dengan Malik Dinar, salah satu sahabat Rasulullah. Meskipun namanya mirip, namun Malik Dinar hidup di masa yang berbeda dengan Malik bin Dinar. Malik Dinar (tanpa “bin”) adalah salah satu sahabat yang menyaksikan mujizat terbelahnya bulan oleh Rasulullah.
Farid al-Din Attar, seorang penyair Persia yang juga dianggap sebagai salah satu sufi mistik terbesar, adalah salah satu yang menuliskan kisah hidup Malik bin Dinar dalam karyanya yang berjudul Tadhkirat al-Awliya (Kisah Hidup para Manusia Suci) pada tahun 1177 M. (Baca juga: Tiga Amalan untuk Mendatangkan Kecintaan Allah Ta'ala )
Anak-anak itu kemudian keluar satu demi satu, dan aku melihat putriku yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu. Anakku mendekatiku, dan ketika melihatku dia menangis dan berkata, "Ayah, demi Allah."
Dia kemudian melompat ke dalam kereta cahaya yang kecepatannya seperti anak panah. Dia meletakkan tangan kirinya di atas tangan kananku, dan aku berpegangan ke tangannya. Lalu dia mengulurkan tangan kanannya ke arah ular itu, dan ular itu pun lari.
Baca juga: Wahai Muslimah, Kejarlah Popularitas Penduduk Langit!
Dia kemudian mengajakku duduk, dan anakku duduk di atas pangkuanku, dan dia mulai membelai janggutku seraya berkata, "Ayah, belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk mengingat Allah?"
Aku menangis, lalu aku berkata kepada anakku, "Anakku, kalian memahami Alquran?"
Anakku menjawab, "Ayah, kami lebih memahaminya lebih baik darimu."
“‘Beritahu aku tentang ular yang ingin membunuhku!’
Baca juga: Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Dia menjawab, "Ia adalah amal burukmu yang kemudian menjadi kuat dan akan melemparkanmu ke neraka."
“‘Lalu siapa syaikh yang aku temui di jalan itu?” tanyaku kepada anak perempuanku kembali.
“‘Dia adalah amal baikmu yang menjadi lemah, sehingga dia tidak dapat membantu menyelamatkanmu dari amal burukmu."
Aku bertanya lagi, "Apa yang kalian lakukan di gunung itu?"
Dia menjawab, "Kami adalah anak-anak orang Islam. Kami tinggal di sini sampai hari kiamat tiba. Kami menunggu kedatangan kalian dan akan memohonkan syafaat untuk kalian."
Aku lalu terbangun ketika fajar telah terbit. Aku menumpahkan minuman kerasku, memecahkan botolnya, dan bertaubat kepada Allah.
Baca juga: Allah Ta'ala Paling Mencintai Hamba yang Berakhlak Baik
Ahli Hadis
Malik bin Dinar al-Sami adalah putra seorang budak Persia dari Sejestan (atau Kabol). Dia murid Abu Said bin Abul-Hasan Yasar al-Basri, atau biasa disebut Hasan al-Basri, seorang sufi ternama.
Malik bin Dinar disebut-sebut sebagai ahli hadis yang terpercaya, yang meriwayatkan hadis-hadis dari rantai otoritas pada masa awal, seperti dari Anas bin Malik dan Ibnu Sirin. Malik bin Dinar juga diketahui sebagai seorang ahli kaligrafi Alquran yang terkemuka. Dia wafat sekitar tahun 130 H / 748 M.
Agar tidak keliru, Malik bin Dinar adalah orang yang berbeda dengan Malik Dinar, salah satu sahabat Rasulullah. Meskipun namanya mirip, namun Malik Dinar hidup di masa yang berbeda dengan Malik bin Dinar. Malik Dinar (tanpa “bin”) adalah salah satu sahabat yang menyaksikan mujizat terbelahnya bulan oleh Rasulullah.
Farid al-Din Attar, seorang penyair Persia yang juga dianggap sebagai salah satu sufi mistik terbesar, adalah salah satu yang menuliskan kisah hidup Malik bin Dinar dalam karyanya yang berjudul Tadhkirat al-Awliya (Kisah Hidup para Manusia Suci) pada tahun 1177 M. (Baca juga: Tiga Amalan untuk Mendatangkan Kecintaan Allah Ta'ala )
(mhy)
Lihat Juga :