5 Hakikat Puasa Ramadhan Menurut Imam Al-Ghazali
Senin, 28 Maret 2022 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Karenanya, orang yang berniat puasanya agar bernilai khusus, seyogyanya berdiam diri dan menjauhkan diri dari bergunjing. Allah SWT berfirman, “Jika engkau tetap duduk bersama mereka, sungguh engkaupun seperti mereka jua”. (QS al-Nisa [4]: 140). Hal ini diperkuat dengan hadis Nabi SAW, “Yang mengumpat dan pendengarnya, keduanya berserikat dalam dosa”. (HR al-Trimidzi)
Keempat, menurut Al-Ghazali, menjaga kesucian setiap anggota badan dari sesuatu yang syubhat (tidak jelas apakah ini haram atau halal).
Menjaga kesucian setiap anggota badan (tangan, kaki, perut, dll) dari perkara yang syubhat, terlebih yang haram. Misalnya, mencukupkan diri dari makanan yang halal saja dan meninggalkan yang haram.
Puasa menjadi tidak bernilai apa-apa jika menahan diri memakan yang halal namun tatkala berbuka dengan makanan yang haram-haram. Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa namun mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan rasa lapar dan dahaga”. (HR al-Nasa’i dan Ibn Majah)
Puasa juga berarti menjaga seluruh anggota badan baik lahiriyah maupn batiniyah dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat (hifdz al-jawarih al-dzahirah wa al-bathinah ‘an al-isystighal bima la ya’ni). Demikian kata Ibn Ajibah dalam al-Bahr al-Madid.
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Kelima, tidak memakan makanan yang berlebihan. Tidak memperbanyak makanan yang berlebihan ketika berbuka. Sebab tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang disesaki (over capacity) dengan makanan halal. Di antara manfaat puasa adalah mengalahkan setan dan menaklukkan syahwat. Bagaimana semuanya itu akan tercapai, apabila jika berbuka perut kita diisi makanan secara berlebihan”.
Benar ia berpuasa tidak makan dan minum, namun ketika berbuka ia menjejali perutnya dengan segudang makanan. Tentu ini tidak baik, berpuasalah secara “benar” dan berbukalah juga secara “benar”. Benar di sini bermakna tidak hanya benar lahiriyah, namun secara batiniyah juga. Dalam konteks memakan makanan yang berlebihan, secara lahiriyah puasanya tetap sah, akan tetapi secara hakikat sesungguhnya ia tidak melakukan intisari dari puasa itu yaitu menahan (al-imsak).
Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali
Keempat, menurut Al-Ghazali, menjaga kesucian setiap anggota badan dari sesuatu yang syubhat (tidak jelas apakah ini haram atau halal).
Menjaga kesucian setiap anggota badan (tangan, kaki, perut, dll) dari perkara yang syubhat, terlebih yang haram. Misalnya, mencukupkan diri dari makanan yang halal saja dan meninggalkan yang haram.
Puasa menjadi tidak bernilai apa-apa jika menahan diri memakan yang halal namun tatkala berbuka dengan makanan yang haram-haram. Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa namun mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan rasa lapar dan dahaga”. (HR al-Nasa’i dan Ibn Majah)
Puasa juga berarti menjaga seluruh anggota badan baik lahiriyah maupn batiniyah dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat (hifdz al-jawarih al-dzahirah wa al-bathinah ‘an al-isystighal bima la ya’ni). Demikian kata Ibn Ajibah dalam al-Bahr al-Madid.
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Kelima, tidak memakan makanan yang berlebihan. Tidak memperbanyak makanan yang berlebihan ketika berbuka. Sebab tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang disesaki (over capacity) dengan makanan halal. Di antara manfaat puasa adalah mengalahkan setan dan menaklukkan syahwat. Bagaimana semuanya itu akan tercapai, apabila jika berbuka perut kita diisi makanan secara berlebihan”.
Benar ia berpuasa tidak makan dan minum, namun ketika berbuka ia menjejali perutnya dengan segudang makanan. Tentu ini tidak baik, berpuasalah secara “benar” dan berbukalah juga secara “benar”. Benar di sini bermakna tidak hanya benar lahiriyah, namun secara batiniyah juga. Dalam konteks memakan makanan yang berlebihan, secara lahiriyah puasanya tetap sah, akan tetapi secara hakikat sesungguhnya ia tidak melakukan intisari dari puasa itu yaitu menahan (al-imsak).
Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :