5 Hakikat Puasa Ramadhan Menurut Imam Al-Ghazali
Senin, 28 Maret 2022 - 17:30 WIB
loading...
Al-Ghazali mendefinisikan puasa khusus sebagai berikut: Puasa yang dilakukan oleh seorang yang shalih di mana ia mempuasakan seluruh anggota badannya secara sempurna. Foto/Ilusrasi: Ist
A
A
A
Imam Al-Ghazali membagi lima hakikat puasa bagi orang khusus (shaum al-khusus) yang patut kita cermati dan teladani dengan baik agar kualitas puasa kita mencapai derajat yang tinggi (al-darajat al-‘ula).
Dalam " Ihya’ Ulumuddin " Bab Asrar al-Shaum, Al-Ghazali mendefinisikan puasa khusus sebagai berikut: “Puasa yang dilakukan oleh seorang yang shalih di mana ia mempuasakan seluruh anggota badannya secara sempurna”.
Mempuasakan diri di sini adalah menahan diri dari segala perbuatan dan perkataan yang dibenci oleh Allah SWT walaupun secuil.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Pertama, menahan pandangan dari apa yang dibenci oleh-Nya atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat kepada-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan merupakan panah beracun milik iblis la’natullah. Maka barang siapa yang menjaga pandangannya, karena takut kepada Allah semata, niscaya Dia akan memberikan keimanan yang manis yang berasal dari dalam hatinya”.
Diriwayatkan dari Jabir dari Anas dari Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu berbohong, ghibah (menggunjing), mengadu domba (fitnah), sumpah palsu dan memandang dengan pandangan penuh syahwat birahi (penuh nafsu)”.
Kedua, menjaga lisan dari perkataan tidak berfaedah, berdusta, mengumpat, fitnah, perkataan keji dan kasar serta memprovokasi.
Selanjutnya, menurut Al-Ghazali, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, berdusta, menggunjing, memfitnah, berkata kotor (keji) dan kasar, serta menebar permusuhan. Lebih banyak berdiam diri (tidak berbicara yang tidak berfaedah), memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur'an. Inilah puasa lisan (shaum al-lisan).
Sederhananya, puasa Ramadan mengisyaratkan kepada kita untuk menjaga kalam dari perkataan yang buruk, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (al-imsak ‘an al-kalam) sebagaimana disampaikan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib-nya.
Baca juga: Makna Kesempurnaan Puasa Menurut Imam al-Ghazali
Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tidak terpuji. Mencukupkan (menjaga) pendengaran dari segala sesuatu yang dibenci oleh Allah karena sesungguhnya segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan berlaku pula untuk didengarkan.
Dalam hukum Allah, mendengar yang haram sama dengan memakan yang haram, seperti yang difirmankan-Nya: “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tidak halal”. (QS al-Maidah [5]: 42).
Dalam " Ihya’ Ulumuddin " Bab Asrar al-Shaum, Al-Ghazali mendefinisikan puasa khusus sebagai berikut: “Puasa yang dilakukan oleh seorang yang shalih di mana ia mempuasakan seluruh anggota badannya secara sempurna”.
Mempuasakan diri di sini adalah menahan diri dari segala perbuatan dan perkataan yang dibenci oleh Allah SWT walaupun secuil.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Pertama, menahan pandangan dari apa yang dibenci oleh-Nya atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat kepada-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan merupakan panah beracun milik iblis la’natullah. Maka barang siapa yang menjaga pandangannya, karena takut kepada Allah semata, niscaya Dia akan memberikan keimanan yang manis yang berasal dari dalam hatinya”.
Diriwayatkan dari Jabir dari Anas dari Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu berbohong, ghibah (menggunjing), mengadu domba (fitnah), sumpah palsu dan memandang dengan pandangan penuh syahwat birahi (penuh nafsu)”.
Kedua, menjaga lisan dari perkataan tidak berfaedah, berdusta, mengumpat, fitnah, perkataan keji dan kasar serta memprovokasi.
Selanjutnya, menurut Al-Ghazali, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, berdusta, menggunjing, memfitnah, berkata kotor (keji) dan kasar, serta menebar permusuhan. Lebih banyak berdiam diri (tidak berbicara yang tidak berfaedah), memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur'an. Inilah puasa lisan (shaum al-lisan).
Sederhananya, puasa Ramadan mengisyaratkan kepada kita untuk menjaga kalam dari perkataan yang buruk, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (al-imsak ‘an al-kalam) sebagaimana disampaikan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib-nya.
Baca juga: Makna Kesempurnaan Puasa Menurut Imam al-Ghazali
Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tidak terpuji. Mencukupkan (menjaga) pendengaran dari segala sesuatu yang dibenci oleh Allah karena sesungguhnya segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan berlaku pula untuk didengarkan.
Dalam hukum Allah, mendengar yang haram sama dengan memakan yang haram, seperti yang difirmankan-Nya: “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tidak halal”. (QS al-Maidah [5]: 42).
Lihat Juga :