Prof Haedar Nashir: Ramadhan sebagai Momen Berhijrah secara Spiritual, Intelektual dan Peran Sosial
Jum'at, 01 April 2022 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bacaan Zikir Sebelum Berbuka Puasa Ramadhan
Meningkatkan Ketakwaan
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto mengatakan bulan Ramadan 1443 H merupakan momentum bagi segenap umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah, menumbuhkan solidaritas bangsa, dan menahan diri dari berbagai bentuk keburukan dan hal-hal yang dapat merusak harmoni sosial.
Pria yang akrab disapa Cak Nanto ini juga mengajak kaum muslimin agar mengucap rasa syukur telah diberikan kesempatan berjumpa kembali dengan bulan penuh ampunan ini. Pasalnya, tidak semua orang bisa beribadah di Bulan Ramadhan. Apalagi, banyak keutamaan dan hikmah, baik rohani maupun jasmani, yang didapatkan selama satu bulan penuh.
“Tidak semua orang bisa sampai pada bulan suci Ramadhan 1443 H, sehingga kita patut bersyukur dan memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya,” jelas Cak Nanto.
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Haedar Nashir menambahkan bahwa tujuan utama disyariatkan ibadah pada bulan Ramadan adalah untuk meningkatkan ketakwaan orang-orang yang beriman ( QS. Al-Baqarah : 183).
Kata “tattaqun” dalam penggalan QS Al Baqarah ayat 183 cenderung dipahami sebagai hadiah yang akan didapatkan oleh orang yang telah berpuasa. Seringkali “takwa” diposisikan sebagai pangkat, gelar, dan identitas yang melekat pada diri orang yang berpuasa. Padahal ungkapan “tattaqun” merupakan bentuk fiil mudlari yang berarti proses berkelanjutan dari perilaku takwa. Karenanya, bila selepas Ramadhan perbuatan takwa tidak dilanjutkan, maka “la’allakum tattaqun” tidak akan didapat.
Selain itu, Haedar juga menyampaikan agar warga Muhammadiyah melaksanakan setiap butir pedoman berpuasa di tengah pandemi Covid-19 yang baru-baru ini telah dikeluarkan PP Muhammadiyah . Meski tren positif Covid-19 terus melandai, bukan berarti umat Islam abai dengan segenap protokol kesehatan.
“Walau saat ini Pandemi Covid-19 melandai namun kita tidak boleh melonggarkan protokol kesehatan. Melalui Majelis Tarjih dan MCCC telah terbit panduan berpuasa di tengah Pandemi,” jelas Haedar Nashir.
Baca juga: Niat Ganti Puasa Ramadhan karena Haid
Meningkatkan Ketakwaan
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto mengatakan bulan Ramadan 1443 H merupakan momentum bagi segenap umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah, menumbuhkan solidaritas bangsa, dan menahan diri dari berbagai bentuk keburukan dan hal-hal yang dapat merusak harmoni sosial.
Pria yang akrab disapa Cak Nanto ini juga mengajak kaum muslimin agar mengucap rasa syukur telah diberikan kesempatan berjumpa kembali dengan bulan penuh ampunan ini. Pasalnya, tidak semua orang bisa beribadah di Bulan Ramadhan. Apalagi, banyak keutamaan dan hikmah, baik rohani maupun jasmani, yang didapatkan selama satu bulan penuh.
“Tidak semua orang bisa sampai pada bulan suci Ramadhan 1443 H, sehingga kita patut bersyukur dan memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya,” jelas Cak Nanto.
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Haedar Nashir menambahkan bahwa tujuan utama disyariatkan ibadah pada bulan Ramadan adalah untuk meningkatkan ketakwaan orang-orang yang beriman ( QS. Al-Baqarah : 183).
Kata “tattaqun” dalam penggalan QS Al Baqarah ayat 183 cenderung dipahami sebagai hadiah yang akan didapatkan oleh orang yang telah berpuasa. Seringkali “takwa” diposisikan sebagai pangkat, gelar, dan identitas yang melekat pada diri orang yang berpuasa. Padahal ungkapan “tattaqun” merupakan bentuk fiil mudlari yang berarti proses berkelanjutan dari perilaku takwa. Karenanya, bila selepas Ramadhan perbuatan takwa tidak dilanjutkan, maka “la’allakum tattaqun” tidak akan didapat.
Selain itu, Haedar juga menyampaikan agar warga Muhammadiyah melaksanakan setiap butir pedoman berpuasa di tengah pandemi Covid-19 yang baru-baru ini telah dikeluarkan PP Muhammadiyah . Meski tren positif Covid-19 terus melandai, bukan berarti umat Islam abai dengan segenap protokol kesehatan.
“Walau saat ini Pandemi Covid-19 melandai namun kita tidak boleh melonggarkan protokol kesehatan. Melalui Majelis Tarjih dan MCCC telah terbit panduan berpuasa di tengah Pandemi,” jelas Haedar Nashir.
Baca juga: Niat Ganti Puasa Ramadhan karena Haid
(mhy)
Lihat Juga :