Bau Mulut Orang Berpuasa Gantikan Aroma Misik, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Rabu, 13 April 2022 - 03:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali
Tiga Tingkatan
Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan puasa ada tiga tingkatan: umum (awam), khusus (spesial), dan khususil khusus (istimewa).
Pertama, puasa umum atau awam menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat, sebagaimana telah dibabar sebelumnya.
Kedua, puasa khusus (spesial) menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela dan dosa.
Ketiga, puasa khususil khusus (istimewa) puasanya hati dari kehancuran agama dan pemikiran duniawi, serta menahan dari selain Allah SWT secara terperinci. Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini akan rusak dengan bersitan pikiran tentang sesuatu selain Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi. Kecuali ketika hal-hal duniawi itu diperuntukkan bagi kemaslahatan aspek-aspek agama (ukhrawi).
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Khairul Imam, Staf Pengajar Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta dalam tulisannya berjudul "Berlapar-lapar Puasa Bersama Al-Ghazali" mengatakan dari sini kita dapat memahami bagaimana konstruksi tiga tingkatan puasa dalam perspektif al-Ghazali.
Ia seakan mengandaikan idealitas puasa agar benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Tuhan. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, bukan yang lainnya, seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi: “Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”
Hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekati Yang Maha Suci seseorang harus menyucikan dirinya.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Tiga Tingkatan
Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin mengatakan puasa ada tiga tingkatan: umum (awam), khusus (spesial), dan khususil khusus (istimewa).
Pertama, puasa umum atau awam menahan perut dan kemaluan dari pemenuhan syahwat, sebagaimana telah dibabar sebelumnya.
Kedua, puasa khusus (spesial) menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kedua kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela dan dosa.
Ketiga, puasa khususil khusus (istimewa) puasanya hati dari kehancuran agama dan pemikiran duniawi, serta menahan dari selain Allah SWT secara terperinci. Karena itulah, puasa yang dengan model terakhir ini akan rusak dengan bersitan pikiran tentang sesuatu selain Allah, Hari Akhir, dan kehidupan duniawi. Kecuali ketika hal-hal duniawi itu diperuntukkan bagi kemaslahatan aspek-aspek agama (ukhrawi).
Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Khairul Imam, Staf Pengajar Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta dalam tulisannya berjudul "Berlapar-lapar Puasa Bersama Al-Ghazali" mengatakan dari sini kita dapat memahami bagaimana konstruksi tiga tingkatan puasa dalam perspektif al-Ghazali.
Ia seakan mengandaikan idealitas puasa agar benar-benar menjadi satu lompatan ibadah yang sangat khusus antara hamba dan Tuhan. Suatu ibadah yang benar-benar dipersembahkan kepada Allah, bukan yang lainnya, seperti termaktub dalam sebuah hadis qudsi: “Setiap amalan manusia untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan mengganjar amalan itu.”
Hadis ini mengisyaratkan bahwa untuk mendekati Yang Maha Suci seseorang harus menyucikan dirinya.
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
(mhy)
Lihat Juga :