Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu
Jum'at, 19 Juni 2020 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
"Apa itu?" tanya kerumunan orang itu.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Gerbang Surga
'"Tak ada orang yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada orang yang tidak tergoda oleh sepatu itu. Pendosa khayalan itu tak pernah lewat. Justru seorang yang tak punya sepatu untuk dibawa masuk atau ditaruh di luar pintu, masuk ke masjid. Ia tidak menyadari pengaruh yang diberikannya atas orang-orang yang melihatnya maupun yang tidak melihatnya. Tak ada seorang pun yang memperhatikan perilakunya. Tetapi, oleh karena ketulusannya, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung menolong orang-orang yang ingin mencuri, yang mungkin betul-betul mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri mereka ketika menghadapi godaan."
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Empat Harta Ajaib
Belum jugakah kalian mengerti bahwa sekadar perilaku yang disadari, betapa pun mulia itu dalam pemandangannya, sesungguhnya tak berarti bila dibandingkan dengan pengetahuan bahwa ada sungguh-sungguh orang bijaksana yang sejati? (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir )
==
Kisah ini, yang bersumber dari ajaran-ajaran tarekat Khilwati ('Pertapa'), yang didirikan oleh Omar Khilwati yang wafat pada tahun 1397, sering sekali dikutip. Argumennya, yang diterima secara luas di kalangan darwis, menekankan bahwa mereka yang telah mengembangkan nilai-nilai batiniah tertentu niscaya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat daripada mereka yang berusaha mengamalkan prinsip-prinsip moral secara kering. Yang pertama disebut: 'Manusia Tindakan yang Sejati', dan yang kedua: 'Mereka yang tidak tahu tetapi bersikap seolah-olah tahu'. (Baca juga: Hikayat-Hikayat Mistis: Burung Hoopoe dan Burung Hantu )
Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Gerbang Surga
'"Tak ada orang yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada orang yang tidak tergoda oleh sepatu itu. Pendosa khayalan itu tak pernah lewat. Justru seorang yang tak punya sepatu untuk dibawa masuk atau ditaruh di luar pintu, masuk ke masjid. Ia tidak menyadari pengaruh yang diberikannya atas orang-orang yang melihatnya maupun yang tidak melihatnya. Tak ada seorang pun yang memperhatikan perilakunya. Tetapi, oleh karena ketulusannya, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung menolong orang-orang yang ingin mencuri, yang mungkin betul-betul mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri mereka ketika menghadapi godaan."
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Empat Harta Ajaib
Belum jugakah kalian mengerti bahwa sekadar perilaku yang disadari, betapa pun mulia itu dalam pemandangannya, sesungguhnya tak berarti bila dibandingkan dengan pengetahuan bahwa ada sungguh-sungguh orang bijaksana yang sejati? (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir )
==
Kisah ini, yang bersumber dari ajaran-ajaran tarekat Khilwati ('Pertapa'), yang didirikan oleh Omar Khilwati yang wafat pada tahun 1397, sering sekali dikutip. Argumennya, yang diterima secara luas di kalangan darwis, menekankan bahwa mereka yang telah mengembangkan nilai-nilai batiniah tertentu niscaya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat daripada mereka yang berusaha mengamalkan prinsip-prinsip moral secara kering. Yang pertama disebut: 'Manusia Tindakan yang Sejati', dan yang kedua: 'Mereka yang tidak tahu tetapi bersikap seolah-olah tahu'. (Baca juga: Hikayat-Hikayat Mistis: Burung Hoopoe dan Burung Hantu )
Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
(mhy)
Lihat Juga :