Hukum Bersilaturahmi dengan Kerabat yang Fasik dan Nonmuslim
Kamis, 16 Juni 2022 - 12:45 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, jika orang tersebut menampakkan dan bangga secara terang-terangan mengumbar kefasikannya, maka tidak wajib bersilaturahmi padanya. Bahkan tidak boleh berbaik hati dengannya, (boleh) memutus silaturahmi dengannya dan memboikotnya.
Hal ini merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala yang paling mulia. Kecuali jika dalam menyambung silaturahmi dan berbaik hati kepada mereka, dapat mencegah sebuah kemungkaran ataupun mendapatkan kemanfaatan.
Contohnya adalah menghindarkan diri dari keburukan orang tersebut, maka disunahkan untuk menyambung silaturahmi dengan mereka. Akan tetapi, harus ditakar menyesuaikan kebutuhan.
Baca juga: 4 Hal Ringan yang Sering Dilalaikan Padahal Memberi Pahala Bagi Muslimah
Allah Ta’ala berfirman :
“Kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.” (QS. Al-Imran: 28).
Kedua, terhadap kerabat atau orang yang menyembunyikan kefasikan maka sebaiknya dinasihati. Karena itu, wajib bersilaturahmi kepadanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi (dengan sempurna) adalah (karena) membalas (kebaikan keluarga/kerabatnya). Akan tetapi, orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang jika diputuskan hubungan silaturahmi dengannya, maka dia (justru) menyambungnya.” (HR. Bukhari)
Adapun kepada kerabat nonmuslim yang memusuhi dan mengganggu, maka tidak diperkenankan untuk menyambung silaturahmi dengan mereka, kecuali sebatas menghindarkan diri dari keburukannya. Karena inilah bentuk kejujuran iman kita.
Hal ini merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala yang paling mulia. Kecuali jika dalam menyambung silaturahmi dan berbaik hati kepada mereka, dapat mencegah sebuah kemungkaran ataupun mendapatkan kemanfaatan.
Contohnya adalah menghindarkan diri dari keburukan orang tersebut, maka disunahkan untuk menyambung silaturahmi dengan mereka. Akan tetapi, harus ditakar menyesuaikan kebutuhan.
Baca juga: 4 Hal Ringan yang Sering Dilalaikan Padahal Memberi Pahala Bagi Muslimah
Allah Ta’ala berfirman :
اِلَّآ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰىةً
“Kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.” (QS. Al-Imran: 28).
Kedua, terhadap kerabat atau orang yang menyembunyikan kefasikan maka sebaiknya dinasihati. Karena itu, wajib bersilaturahmi kepadanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda :
“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi (dengan sempurna) adalah (karena) membalas (kebaikan keluarga/kerabatnya). Akan tetapi, orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang jika diputuskan hubungan silaturahmi dengannya, maka dia (justru) menyambungnya.” (HR. Bukhari)
Adapun kepada kerabat nonmuslim yang memusuhi dan mengganggu, maka tidak diperkenankan untuk menyambung silaturahmi dengan mereka, kecuali sebatas menghindarkan diri dari keburukannya. Karena inilah bentuk kejujuran iman kita.
Lihat Juga :