Kisah Khalifah Ja'far al-Mutawakkil Berdebat dengan Perempuan yang Mengaku Nabi

loading...
Kisah Khalifah Jafar al-Mutawakkil Berdebat dengan Perempuan yang Mengaku Nabi
Ada perempuan yang mengaku nabi pada masa pemerintahan Khalifah Jafar al-Mutawakkil. Foto/Ilustrasi: Ist
Kisah nabi palsu berjenis kelamin perempuan ini disampaikan Shalih Abdul Hamid dalam bukunya berjudul "Thara‘if minat Turats". Konon ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Ja'far al-Mutawakkil, khalifah ke-10 Dinasti Abbasyiah .

Diriwayatkan, ada seorang perempuan yang mengaku sebagai nabi. Mendengar kabar itu, Khalifah Ja'far al-Mutawakkil pun memanggil perempuan tersebut.

“Apakah Anda seorang nabi?” tanya Khalifah al-Mutawakkil.

“Ya,” jawab perempuan ini tegas.

Al-Mutawakkil bertanya lagi, “Apakah Anda beriman dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam?”

Perempuan itu pun menjawab: “Ya.”

Baca juga: Dendam Perempuan, Nabi Palsu dari Banu Tamim

Al-Mutawakkil berkata, “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَا نَبِيَّ بَعْدِي

‘Tidak ada nabi (laki-laki) setelahku.’ (HR Bukhari-Muslim).”

Wanita itu menjawab, “Benar, tetapi Nabi tidak mengatakan:

لَا نَبِيَّةَ بَعْدِي

‘Tidak ada nabi perempuan setelahku.’”

Tentu saja ini adalah pemahaman yang salah dari perempuan tersebut, sebab sabda Nabi Muhammad SAW “tidak ada nabi” sudah mencakup laki-laki dan wanita, karena kaidahnya “khithab untuk laki-laki juga mencakup wanita kecuali apabila ada dalil yang mengkhususkannya”. (Lihat Mudzakkirah Ushul Fiqih hlm. 332–334 oleh Muhammad Amin asy-Syinqithi dan Ma’alim Ushulil Fiqhi ’Inda Ahli Sunnah wal Jama’ah hlm. 418 oleh Muhammad bin Husain al-Jizani.)

Itu sebabnya, mendengar jawaban perempuan itu, Khalifah al-Mutawakkil pun tertawa.

Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam bukunya berjudul "Aneh dan Lucu, 100 Kisah Menarik Penuh Ibrah" mengatakan kisah ini menunjukkan bahwa nabi-nabi palsu sudah semarak pada zaman dahulu, padahal mengaku nabi (atau membenarkan orang yang mengakui nabi) setelah Muhammad SAW adalah sebuah kedustaan dan kekufuran nyata. Apalagi jika pengakunya adalah perempuan, sebab tidak ada nabi berjenis kelamin perempuan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, tidak ada nabi dari kalangan perempuan.

Dan telah menukil ijma’ tentangnya tidak sedikit ulama seperti al-Qadhi Abu Bakar bin Thayyib, Abu Ya’la bin Abul Fara’, al-Ustadz Abul Ma’ali al-Juwaini, dan selain mereka. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah Ta’ala:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًۭا نُّوحِىٓ إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰٓ ۗ أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌۭ لِّلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿١٠٩﴾

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? ( QS Yusuf [12] : 109)

Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah
(mhy)
preload video