Haji Mabrur: Membaca Ulang Sai dan Mencukur Rambut Kita
Sabtu, 16 Juli 2022 - 08:58 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan musyahadah sebagai titik orientasi dari segala prosesi tersebut, yakni tercapainya kondisi percintaan (hubb) antara hamba dengan Sang Khalik. Ketika musyahadah tercapai, maka yang terlihat di segala penjuru yang ada adalah “wajah” Tuhan.
Dalam perspektif sufi kekuatan ke-aku-an akan lebur dalam ke-Maha-hadir-an Tuhan. Simbol-simbol tidak lagi menjadi penting dan pujipujian manusia tidak lagi bermakna.
Maka, Quraish Shihab mengatakan, tujuan esensial haji bukanlah mengunjungi Kakbah, tetapi memperoleh musyahadah sebagaimana yang dikatakan oleh para sufi.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Muzdalifah Sampai saat Melempar Jumrah
Dalam pandangan kaum sufi, boleh jadi ada yang melihat Kakbah, wukuf, sai dan sebagainya namun tidak mencapai makna haji. Yang sama Tuhan di Mekkah, bagaikan berkunjung ke rumah yang tidak berpenghuni. Dan yang tidak berkunjung ke rumah Tuhan, tetapi merasakan kehadiran-Nya, maka Tuhan telah mengunjungi rumahnya.
Menunaikan ibadah haji tidak cukup dicapai hanya dengan pergi ke Mekkah. Namun aksi-aksi yang memberikan makna dan manfaat praktis bagi kehidupan umat manusia jauh lebih penting. Jika ada orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, tetapi dalam dirinya tidak terjadi proses transformasi nilainilai religius artinya ia belum menunaikan panggilan Tuhan.
Proses mujahadahnya ke Mekkah belum memberikan bekas sedikitpun dalam perilaku kehidupannya.
Seorang tokoh sufi besar, Bayazid Al-Busthami suatu saat pergi naik haji ke Mekkah. Pada haji kali pertama, ia menangis. "Aku belum berhaji," isaknya. "Karena yang aku lihat cuma batu-batuan Ka'bah saja."
Ia pun pergi haji pada kesempatan berikutnya. Sepulang dari Mekkah, Bayazid kembali menangis, "Aku masih belum berhaji," ucapnya masih di sela tangisan. "Yang aku lihat hanya rumah Allah dan pemiliknya."
Pada haji yang ketiga, Bayazid merasa ia telah menyempurnakan hajinya. "Karena kali ini," ucap Bayazid. "Aku tak melihat apa-apa kecuali Allah subhanahu wa ta'ala...."
Baca juga: Haji Mabrur: Penyembelihan Kurban Adalah Mengurbankan Hawa Nafsu
Dalam perspektif sufi kekuatan ke-aku-an akan lebur dalam ke-Maha-hadir-an Tuhan. Simbol-simbol tidak lagi menjadi penting dan pujipujian manusia tidak lagi bermakna.
Maka, Quraish Shihab mengatakan, tujuan esensial haji bukanlah mengunjungi Kakbah, tetapi memperoleh musyahadah sebagaimana yang dikatakan oleh para sufi.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Muzdalifah Sampai saat Melempar Jumrah
Dalam pandangan kaum sufi, boleh jadi ada yang melihat Kakbah, wukuf, sai dan sebagainya namun tidak mencapai makna haji. Yang sama Tuhan di Mekkah, bagaikan berkunjung ke rumah yang tidak berpenghuni. Dan yang tidak berkunjung ke rumah Tuhan, tetapi merasakan kehadiran-Nya, maka Tuhan telah mengunjungi rumahnya.
Menunaikan ibadah haji tidak cukup dicapai hanya dengan pergi ke Mekkah. Namun aksi-aksi yang memberikan makna dan manfaat praktis bagi kehidupan umat manusia jauh lebih penting. Jika ada orang yang berkali-kali menunaikan ibadah haji ke Mekkah, tetapi dalam dirinya tidak terjadi proses transformasi nilainilai religius artinya ia belum menunaikan panggilan Tuhan.
Proses mujahadahnya ke Mekkah belum memberikan bekas sedikitpun dalam perilaku kehidupannya.
Seorang tokoh sufi besar, Bayazid Al-Busthami suatu saat pergi naik haji ke Mekkah. Pada haji kali pertama, ia menangis. "Aku belum berhaji," isaknya. "Karena yang aku lihat cuma batu-batuan Ka'bah saja."
Ia pun pergi haji pada kesempatan berikutnya. Sepulang dari Mekkah, Bayazid kembali menangis, "Aku masih belum berhaji," ucapnya masih di sela tangisan. "Yang aku lihat hanya rumah Allah dan pemiliknya."
Pada haji yang ketiga, Bayazid merasa ia telah menyempurnakan hajinya. "Karena kali ini," ucap Bayazid. "Aku tak melihat apa-apa kecuali Allah subhanahu wa ta'ala...."
Baca juga: Haji Mabrur: Penyembelihan Kurban Adalah Mengurbankan Hawa Nafsu
(mhy)
Lihat Juga :