Penyebab Kaum Anshar Tak Kompak Dukung Rasulullah SAW dalam Perang Badar
Rabu, 03 Agustus 2022 - 18:30 WIB
loading...
A
A
A
Diterangkan lagi dalam riwayat yang sama, Rasulullah kemudian mendapat kabar mengenai berangkatnya orang-orang Quraisy untuk melindungi kafilah mereka. Beliau pun bermusyawarah dengan semua sahabat dalam menghadapi situasi terkini.
Beberapa orang dari kalangan Muhajirin memberikan saran, tetapi beliau tetap meminta, “Wahai sahabatku, berikanlah saran.”
Baca juga: Abu Jahal, Sang Penyulut yang Tewas dalam Perang Badar
Muhammad bin Fariz mengatakan yang dikehendaki Nabi adalah dari kalangan Anshar, karena jumlah mereka banyak. Juga karena mengingat perkataan mereka saat berbaiat kepada beliau di Aqabah.
“Wahai Rasulullah, kami bebas dari tanggungan hingga Anda sampai ke rumah. Jika sudah sampai, Anda berada dalam tanggungan kami. Kami akan melindungi Anda seperti melindungi anak-anak dan kaum perempuan kami.”
Intinya, Rasul mulia khawatir orang-orang Anshar hanya mau melakukan pembelaan terhadap musuh yang menyerang Madinah, sekaligus, beliau merasa tidak berhak mengajak mereka meninggalkan kampung halaman untuk menghadapi musuh.
Dalam riwayat lain dituturkan, ketika melihat Nabi berkali-kali meminta saran kepada para sahabatnya meski sudah ditanggapi, Sa'ad bin Mu'adz al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah, barangkali ada kekhawatiran bahwa orang-orang Anshar tidak ingin menenangkan Anda dan ada anggapan Anda tidak berhak meminta bantuan kecuali ada musuh menyerang rumah mereka, yang mengancam nyawa anak-anak dan kaum perempuan mereka. Ketahuilah, aku berdiri di sini mewakili orang-orang Anshar menjawab prasangka tersebut."
"Wahai Rasulullah, pergilah ke mana pun yang Anda suka, sambunglah hubungan dengan siapa pun yang Anda suka, dan putuslah hubungan dengan siapa pun yang Anda suka (sedangkan kami akan tetap setia bersama dan mengikuti arahan Anda)."
Mendengar klarifikasi Sa'ad ini, Rasulullah menyerukan, “Berangkatlah dengan nama Allah.”
Dalam riwayat lain dijelaskan betapa gembira dan semangatnya Rasulullah saat mendengar pernyataan Sa'ad ini, lalu beliau berseru, “Berangkatlah, dan bergembiralah!”
Demikianlah, ujar Muhammad bin Fariz, seandainya Piagam Madinah sudah ditulis sebelum peristiwa Badar, para sahabat pasti tidak merasa berat untuk berangkat bersama Rasulullah ke mana pun.
Beberapa orang dari kalangan Muhajirin memberikan saran, tetapi beliau tetap meminta, “Wahai sahabatku, berikanlah saran.”
Baca juga: Abu Jahal, Sang Penyulut yang Tewas dalam Perang Badar
Muhammad bin Fariz mengatakan yang dikehendaki Nabi adalah dari kalangan Anshar, karena jumlah mereka banyak. Juga karena mengingat perkataan mereka saat berbaiat kepada beliau di Aqabah.
“Wahai Rasulullah, kami bebas dari tanggungan hingga Anda sampai ke rumah. Jika sudah sampai, Anda berada dalam tanggungan kami. Kami akan melindungi Anda seperti melindungi anak-anak dan kaum perempuan kami.”
Intinya, Rasul mulia khawatir orang-orang Anshar hanya mau melakukan pembelaan terhadap musuh yang menyerang Madinah, sekaligus, beliau merasa tidak berhak mengajak mereka meninggalkan kampung halaman untuk menghadapi musuh.
Dalam riwayat lain dituturkan, ketika melihat Nabi berkali-kali meminta saran kepada para sahabatnya meski sudah ditanggapi, Sa'ad bin Mu'adz al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah, barangkali ada kekhawatiran bahwa orang-orang Anshar tidak ingin menenangkan Anda dan ada anggapan Anda tidak berhak meminta bantuan kecuali ada musuh menyerang rumah mereka, yang mengancam nyawa anak-anak dan kaum perempuan mereka. Ketahuilah, aku berdiri di sini mewakili orang-orang Anshar menjawab prasangka tersebut."
"Wahai Rasulullah, pergilah ke mana pun yang Anda suka, sambunglah hubungan dengan siapa pun yang Anda suka, dan putuslah hubungan dengan siapa pun yang Anda suka (sedangkan kami akan tetap setia bersama dan mengikuti arahan Anda)."
Mendengar klarifikasi Sa'ad ini, Rasulullah menyerukan, “Berangkatlah dengan nama Allah.”
Dalam riwayat lain dijelaskan betapa gembira dan semangatnya Rasulullah saat mendengar pernyataan Sa'ad ini, lalu beliau berseru, “Berangkatlah, dan bergembiralah!”
Demikianlah, ujar Muhammad bin Fariz, seandainya Piagam Madinah sudah ditulis sebelum peristiwa Badar, para sahabat pasti tidak merasa berat untuk berangkat bersama Rasulullah ke mana pun.
Lihat Juga :