Penyebab Kaum Anshar Tak Kompak Dukung Rasulullah SAW dalam Perang Badar
Rabu, 03 Agustus 2022 - 18:30 WIB
loading...
Dalam Perang Badar ada sikap ragu-ragu sebagian mukminin. Ini bisa dimengerti karena mereka diperintah berangkat untuk menghadang kafilah dan menyita barang dagangan Quraisy. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Rasulullah SAW hijrah ke Madinah dan tiba di sana hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal. Begitu menurut beberapa riwayat yang populer. Tujuh bulan setelah kedatangan beliau di kota ini, tepatnya pada bulan Ramadan, Nabi mengutus sariyah (ekspedisi militer yang tidak diikuti Nabi) pertama ke Saif al-Bahr di bawah komando Hamzah bin Abdul Muthalib untuk menghadang kafilah Quraisy yang datang dari Syam.
Berbagai ekspedisi militer yang diikuti Nabimaupunyang tidak, dilancarkan susul menyusul hingga jumlahnya mencapai delapan kali selama setahun lebih beberapa bulan.
Dr Muhammad bin Fariz al-Jamil, dalam bukunya berjudul "Nabi Muhammad dan Yahudi Madinah" menjelaskan yang perlu digarisbawahi adalah dalam semua gerakan militer ini, dengan target dan arah yang beragam, tak seorang pun dari kalangan Anshar turut serta.
Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar
Menafsirkan fakta tersebut, al-Waqidi menyatakan, Rasulullah tidak mengutus seorang pun dari kalangan Anshar untuk berperang hingga terjun sendiri di Badar, karena beliau mengira mereka tidak akan membantu dirinya kecuali di rumah.
Maksudnya, ketika bersumpah setia dalam Bai'ah al-Agabah Kedua, orang-orang Anshar menganggap perlindungan terhadap diri Nabi hanya berlaku jika musuh mengancam atau menyerang mereka di Madinah.
Pemahaman inilah yang membuat beliau tidak menuntut mereka turut serta dalam berbagai ekspedisi militer di luar Madinah. Kemungkinan lainnya, kaum Anshar tidak menawarkan diri untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan itu.
Peristiwa ini memberi jawaban bahwa Piagam Madinah mengenai kaum muslimin tidak mungkin ditulis sebelum Perang Badar . "Bagaimanapun, seandainya Piagam Madinah sudah ditulis saat itu, mereka pasti diharapkan memberikan sumbangan nyata dalam semua gerakan militer pra-Badar," ujar Muhammad bin Fariz dalam bukunya yang berjudul asli "An-Nabi wa Yahid al-Madinah, Dirasah Tabliliyah li Alagah ar-Rasul bi Yahud al-Madinah wa Mawaqif al-Mustasyriqin Minha" dan diterjemahkan Indi Aunullah.
Gambaran ini menjadi lebih jelas, kata Muhammad bin Fariz, jika kita mempertimbangkan kondisi Rasulullah menjelang Perang Badar. Dalam laporan disebutkan, ketika mendengar Abu Sufyan berangkat dari Syam, Rasulullah menyeru kaum muslimin.
Beliau berkata, “Ini ada kafilah Quraisy, di dalamnya ada harta benda. Maka keluarlah kalian untuk menyerang mereka, semoga Allah menjadikan kekayaan mereka itu sebagai harta rampasan bagi kita."
Lalu, beliau menugaskan orang-orang Muhajirin . Sebagian bergegas bersiap-siap berangkat, namun sebagian yang lain merasa berat karena tidak menduga sang Nabi menginisiasi perang.
Berbagai ekspedisi militer yang diikuti Nabimaupunyang tidak, dilancarkan susul menyusul hingga jumlahnya mencapai delapan kali selama setahun lebih beberapa bulan.
Dr Muhammad bin Fariz al-Jamil, dalam bukunya berjudul "Nabi Muhammad dan Yahudi Madinah" menjelaskan yang perlu digarisbawahi adalah dalam semua gerakan militer ini, dengan target dan arah yang beragam, tak seorang pun dari kalangan Anshar turut serta.
Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar
Menafsirkan fakta tersebut, al-Waqidi menyatakan, Rasulullah tidak mengutus seorang pun dari kalangan Anshar untuk berperang hingga terjun sendiri di Badar, karena beliau mengira mereka tidak akan membantu dirinya kecuali di rumah.
Maksudnya, ketika bersumpah setia dalam Bai'ah al-Agabah Kedua, orang-orang Anshar menganggap perlindungan terhadap diri Nabi hanya berlaku jika musuh mengancam atau menyerang mereka di Madinah.
Pemahaman inilah yang membuat beliau tidak menuntut mereka turut serta dalam berbagai ekspedisi militer di luar Madinah. Kemungkinan lainnya, kaum Anshar tidak menawarkan diri untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan itu.
Peristiwa ini memberi jawaban bahwa Piagam Madinah mengenai kaum muslimin tidak mungkin ditulis sebelum Perang Badar . "Bagaimanapun, seandainya Piagam Madinah sudah ditulis saat itu, mereka pasti diharapkan memberikan sumbangan nyata dalam semua gerakan militer pra-Badar," ujar Muhammad bin Fariz dalam bukunya yang berjudul asli "An-Nabi wa Yahid al-Madinah, Dirasah Tabliliyah li Alagah ar-Rasul bi Yahud al-Madinah wa Mawaqif al-Mustasyriqin Minha" dan diterjemahkan Indi Aunullah.
Gambaran ini menjadi lebih jelas, kata Muhammad bin Fariz, jika kita mempertimbangkan kondisi Rasulullah menjelang Perang Badar. Dalam laporan disebutkan, ketika mendengar Abu Sufyan berangkat dari Syam, Rasulullah menyeru kaum muslimin.
Beliau berkata, “Ini ada kafilah Quraisy, di dalamnya ada harta benda. Maka keluarlah kalian untuk menyerang mereka, semoga Allah menjadikan kekayaan mereka itu sebagai harta rampasan bagi kita."
Lalu, beliau menugaskan orang-orang Muhajirin . Sebagian bergegas bersiap-siap berangkat, namun sebagian yang lain merasa berat karena tidak menduga sang Nabi menginisiasi perang.
Lihat Juga :