Kisah Sufi Mullah Nashruddin: Ia yang Jatuh, tetapi Justru Leherku yang Patah!
Minggu, 21 Agustus 2022 - 15:03 WIB
loading...
A
A
A
"Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia -- kita tengah tenggelam."
Baca juga: Mullah Nashruddin, Cerita Menuju Awal Pencerahan
Idries Shah menjelaskan ini merupakan penekanan terhadap sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa (pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya.
Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata:
"Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi."
Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar:
"Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah -- dan bukan sekadar dugaan."
Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru sufi, kata Idries Shah, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran.
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
Menurut Idries Shah, karena orang kebanyakan berpikir dalam pola-pola (baku) dan tidak bisa menyesuaikan dirinya pada suatu cara pandang yang benar-benar berbeda, maka ia kehilangan sejumlah besar makna kehidupan. Ia mungkin hidup, bahkan maju, tetapi tidak bisa memahami semua yang terjadi. Cerita tentang penyelundup menjadikan hal ini semakin jelas.
Baca juga: Mullah Nashruddin, Cerita Menuju Awal Pencerahan
Idries Shah menjelaskan ini merupakan penekanan terhadap sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa (pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya.
Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat sufi untuk pertemuan para darwis. Seorang pendeta masuk dan berkata:
"Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi."
Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar:
"Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah -- dan bukan sekadar dugaan."
Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru sufi, kata Idries Shah, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran.
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
Menurut Idries Shah, karena orang kebanyakan berpikir dalam pola-pola (baku) dan tidak bisa menyesuaikan dirinya pada suatu cara pandang yang benar-benar berbeda, maka ia kehilangan sejumlah besar makna kehidupan. Ia mungkin hidup, bahkan maju, tetapi tidak bisa memahami semua yang terjadi. Cerita tentang penyelundup menjadikan hal ini semakin jelas.
Lihat Juga :