Kisah Pernikahan Ikrimah dengan Janda Nabi Muhammad SAW

loading...
Kisah Pernikahan Ikrimah dengan Janda Nabi Muhammad SAW
Pernikahan Ikrimah bin Abu Jahal menjadi pembicaraan karena ia menikahi perempuan yang pernah ditolak Rasulullah SAW. Foto/Ilustrasi: Ist
Istri-istri Nabi Muhammad SAW adalah ibu bagi orang-orang beriman. Itu sebabnya, setelah Rasulullah SAW wafat, istri-istri beliau tidak boleh menikah lagi. Lalu, bagaimana dengan janda Nabi yang diceraikan beliau?

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menceritakan Ikrimah bin Abu Jahal --komandan pasukan muslim dalam berbagai pertempuran-- menikahi Umaimah binti Nu’man al-Jauniyah putri Nu'man bin al-Jaun.

Umaimah adalah janda yang diceraikan Rasulullah SAW pada saat malam pengantin. Namun ada kisah riwayat lain yang menyebut Umaimah tidak sempat menikah dengan Rasulullah SAW.

Baca juga: Ikrimah bin Abu Jahal, Pelopor Pasukan Berani Mati dalam Islam

Alkisah, Nu'man bin al-Jaun, ayah Umaimah, datang kepada Rasulullah dan menawarkan agar Rasulullah SAW sudi menikahi putrinya itu. Maka putrinya itu diperindah dan dibawa kepada Nabi. Nu'man bilang putrinya tak pernah sakit. Hanya saja permintaan Nu'man ditampik oleh Rasulullah.

Ada yang menyebut nama Umaimah binti Nu’man al-Jauniyah sebenarnya adalah Asma’ bintu an-Nu’man. Alkisah, pada tahun sembilan hijriah, datang an-Nu’man bin Abil Jaun ke Madinah. Dia menghadap Rasulullah untuk berislam.

Pada kesempatan itu, ia menawarkan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, maukah engkau kunikahkan dengan seorang janda tercantik di kalangan Arab? Dahulu dia ini istri anak pamannya, namun suaminya meninggal. Sekarang dia menjanda dan sangat ingin menjadi istrimu.”

Rasulullah menyetujui. Bulan Rabiul Awwal tahun sembilan hijriah, menikahlah beliau dengan Asma’ bintu an-Nu’man bin Abil Jaun ibnul Aswad ibnul Harits bin Syarahil ibnul Jaun bin Akil al-Murar al-Kindiyah. Waktu itu, Asma’ masih ada di kampungnya.

Beliau serahkan mahar sebesar 12¼ uqiyah.

“Wahai Rasulullah, jangan kau berikan mahar yang terlampau sedikit kepadanya,” pinta an-Nu’man.

“Aku tak pernah memberikan mahar kepada satu pun dari istriku lebih dari itu, dan aku juga takkan meminta mahar untuk putri-putriku lebih dari itu,” jawab Rasulullah.

An-Nu’man menyetujui. Setelah itu dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, utuslah orang untuk menemui istrimu dan membawanya kemari. Nanti aku akan menyertai utusanmu itu.”

Baca juga: 6 Teladan Nabi Muhammad SAW dalam Memperlakukan Istri

Rasulullah mengutus Abu Usaid as-Sa’idi disertai an-Nu’man bin Abil Jaun. Asma’ sedang berada di rumahnya ketika mereka berdua tiba. Asma’ mempersilakan masuk. Saat itu telah turun ayat hijab.

Abu Usaid pun segera menjelaskan, “Sesungguhnya, istri-istri Rasulullah tak pernah dilihat oleh seorang lelaki pun.”

“Harus ada hijab antara engkau dan laki-laki yang berbicara denganmu, kecuali orang yang memiliki hubungan mahram denganmu,” lanjut Abu Usaid.

Asma’ pun lalu berhijab dari lelaki yang bukan mahramnya.

Abu Usaid tinggal di kampung Asma’ selama tiga hari. Setelah itu, dia mulai bersiap membawa Asma’ kepada Rasulullah. Dipasangnya sekedup di atas untanya. Di atas punggung unta itu, Asma’ bertolak menuju Madinah.

Tiba di Madinah, Abu Usaid menempatkan Asma’ di perkampungan Bani Sa’idah. Para wanita Bani Sa’idah berdatangan menemui Asma’, mengucapkan selamat datang kepadanya.

Sekembali dari sana, mereka ramai memperbincangkan kecantikan Asma’ yang amat memesona. Dalam sekejap, tersebarlah berita kedatangan Asma’ sekaligus kemolekannya ke seluruh penjuru kota Madinah.
halaman ke-1
preload video