4 Istri Rasulullah SAW yang Berstatus Janda saat Dinikahi
Rabu, 14 September 2022 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Nabi menjawab, "Aku telah melakukannya.”
Menurut Aisyah, kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. "Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah,” ujar Sayyidah Aisyah.
Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Sayyidah Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sayyidah Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli sholat.
Baca juga: Juwairiyah binti Harits, Pembawa Berkah Kaumnya ke Dalam Cahaya Islam
Sedangkan pernikahan Nabi Muhammad dengan Ummu Habibah dilakukan dari jarak jauh. Nabi Muhammad di Madinah sedangkan Ummu Habibah di Habasyah. Pernikahan ini dilakukan setelah suami Ummu Habibah meninggal dunia.
Ummu Habibah bernama asli Ramlah binti Abu Sufyan (Shakhr) bin Harb bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf al-Umawiyah. Beliau dilahirkan 25 tahun sebelum hijrah. Dan wafat pada tahun 44 H. Ibunya adalah Shafiyah binti Abi al-Ash bin Umayyah. Sang Ibu merupakan bibi dari Khalifah Utsman bin Affan ra.
Beliau adalah pemeluk Islam generasi pertama. Padahal beliau adalah putri dari tokoh besar Mekkah dan pemimpinnya, Abu Sufyan bin Harb. Bapaknya, Abu Sufyan, sangat marah ketika mengetahui putrinya masuk Islam. Itu sebabnya, beliau berhijrah bersama sang suami.
Baca juga: Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat
Mereka menempuh perjalanan jauh dan melelahkan menuju Afrika nun jauh di sana. Hijrah ke Habasyah. Beratnya hijrah semakin terasa lagi karena saat itu ia tengah mengandung. Di Habasyah beliau melahirkan seorang anak yang bernama Habibah. Maka sejak itu, beliau dipanggil Ummu Habibah.
Saat di Habasyah itu, sang suami seringkali berdiskusi masalah agama dan ketuhanan dengan kaum Nasrani. Dalam perjalananya, sang suami justru murtad dan memeluk Nasrani.
Tentu saja hal ini menjadi musibah besar bagi Ummu Habibah. Ia berada di perantauan. Negeri asing nun jauh dari sanak saudara. Kalau pulang ke kampung halaman Mekkah, ia berada dalam ancaman. Ayahnya tak menerima keislamannya. Beliau benar-benar sebatang kara setelah suaminya murtad. Tapi ia tetap teguh dengan keislamannya.
Setelah usai masa iddahnya, datang seorang utusan an-Najasyi di depan pintu. Meminta izin bertemu. Ternyata itu adalah budak perempuan miliknya yang namanya Abrahah. Dialah yang mengurusi pakaian an-Najasyi dan meminyaki dirinya.
Ummu Habibah bercerita, utusan itu berkata, “Raja berpesan untukmu, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW menulis surat padaku untuk menikahkanmu dengannya’. Allah memberimu kabar gembira yang begitu baik”, sambung budak itu.
Ia melanjutkan, “Raja berkata padamu tunjuk orang yang mewakilimu untuk menikahkanmu.”
Ummu Habibah mengirim Khalid bin Said bin al-Ash. Ia mewakilkan dirinya dengan Khalid. Kemudian ia memberi Abrahah dua gelang perak dan dua perhiasan yang dikenakan di kaki. Dan juga cicin perak itu disematkan di jari kakinya. Hal itu sebagai bentuk syukur atas kabar gembira yang ia bawa.
Nabi SAW menikahi Ummu Habibah pada tahun ke-7 H. Beliau menikahinya karena memuliakannya dan meneguhkan agamanya. Jadilah Ummu Habibah adalah wanita satu-satunya yang menikah dengan Rasulullah dari jarak jauh. Rasulullah di Madinah, sedangkan beliau berada, di Habasyah, Afrika.
Menurut Aisyah, kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. "Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah,” ujar Sayyidah Aisyah.
Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Sayyidah Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sayyidah Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli sholat.
Baca juga: Juwairiyah binti Harits, Pembawa Berkah Kaumnya ke Dalam Cahaya Islam
Sedangkan pernikahan Nabi Muhammad dengan Ummu Habibah dilakukan dari jarak jauh. Nabi Muhammad di Madinah sedangkan Ummu Habibah di Habasyah. Pernikahan ini dilakukan setelah suami Ummu Habibah meninggal dunia.
Ummu Habibah bernama asli Ramlah binti Abu Sufyan (Shakhr) bin Harb bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf al-Umawiyah. Beliau dilahirkan 25 tahun sebelum hijrah. Dan wafat pada tahun 44 H. Ibunya adalah Shafiyah binti Abi al-Ash bin Umayyah. Sang Ibu merupakan bibi dari Khalifah Utsman bin Affan ra.
Beliau adalah pemeluk Islam generasi pertama. Padahal beliau adalah putri dari tokoh besar Mekkah dan pemimpinnya, Abu Sufyan bin Harb. Bapaknya, Abu Sufyan, sangat marah ketika mengetahui putrinya masuk Islam. Itu sebabnya, beliau berhijrah bersama sang suami.
Baca juga: Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat
Mereka menempuh perjalanan jauh dan melelahkan menuju Afrika nun jauh di sana. Hijrah ke Habasyah. Beratnya hijrah semakin terasa lagi karena saat itu ia tengah mengandung. Di Habasyah beliau melahirkan seorang anak yang bernama Habibah. Maka sejak itu, beliau dipanggil Ummu Habibah.
Saat di Habasyah itu, sang suami seringkali berdiskusi masalah agama dan ketuhanan dengan kaum Nasrani. Dalam perjalananya, sang suami justru murtad dan memeluk Nasrani.
Tentu saja hal ini menjadi musibah besar bagi Ummu Habibah. Ia berada di perantauan. Negeri asing nun jauh dari sanak saudara. Kalau pulang ke kampung halaman Mekkah, ia berada dalam ancaman. Ayahnya tak menerima keislamannya. Beliau benar-benar sebatang kara setelah suaminya murtad. Tapi ia tetap teguh dengan keislamannya.
Setelah usai masa iddahnya, datang seorang utusan an-Najasyi di depan pintu. Meminta izin bertemu. Ternyata itu adalah budak perempuan miliknya yang namanya Abrahah. Dialah yang mengurusi pakaian an-Najasyi dan meminyaki dirinya.
Ummu Habibah bercerita, utusan itu berkata, “Raja berpesan untukmu, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW menulis surat padaku untuk menikahkanmu dengannya’. Allah memberimu kabar gembira yang begitu baik”, sambung budak itu.
Ia melanjutkan, “Raja berkata padamu tunjuk orang yang mewakilimu untuk menikahkanmu.”
Ummu Habibah mengirim Khalid bin Said bin al-Ash. Ia mewakilkan dirinya dengan Khalid. Kemudian ia memberi Abrahah dua gelang perak dan dua perhiasan yang dikenakan di kaki. Dan juga cicin perak itu disematkan di jari kakinya. Hal itu sebagai bentuk syukur atas kabar gembira yang ia bawa.
Nabi SAW menikahi Ummu Habibah pada tahun ke-7 H. Beliau menikahinya karena memuliakannya dan meneguhkan agamanya. Jadilah Ummu Habibah adalah wanita satu-satunya yang menikah dengan Rasulullah dari jarak jauh. Rasulullah di Madinah, sedangkan beliau berada, di Habasyah, Afrika.
Lihat Juga :