Kisah Nenek Moyang Kaum Anshar yang Mengungsi karena Azab Allah Taala

loading...
Kisah Nenek Moyang Kaum Anshar yang Mengungsi karena Azab Allah Taala
Ratu Balqis adalah ratu Saba, satu wilayah di Yaman. Foto/Ilustrasi: Ist
Kaum Anshar adalah suku Aslam, baik dari kabilah Khazraj maupun Aus. Mereka berasal dari Gassan keturunan Arab negeri Yaman dari Saba. Mereka tinggal di Yasrib atau Madinah setelah Saba runtuh akibat banjir besar yang menimpa negerinya.

Sekadar mengingatkan kaum Anshar adalah sebutan untuk suatu kaum yang menerima hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Ibnu Katsir saat menafsirkan surat Saba ayat 15-17 dalam tafsirnya mengetengahkan azab Allah terhadap orang-orang Saba tersebut.

Baca juga: Al-Qur'an Gambarkan 4 Kepribadian Luhur Ratu Balqis

Saba adalah nama raja-raja negeri Yaman dan juga nama penduduknya. Sedangkan Tababi'ah (jamak Tubba' nama julukan Raja Yaman) berasal dari keturunan mereka. Balqis (teman wanita Nabi Sulaiman as) termasuk salah seorang dari raja-raja negeri Yaman.

Nenek moyang kaum Anshar ini dinamakan Gassan karena mereka sewaktu di Yaman tinggal di dekat sebuah mata air yang dinamai Gassan. Menurut suatu riwayat, mata air Gassan ini berada di dekat Al-Musyallal. Hasan ibnu Sabit ra mengatakan dalam salah satu bait syairnya:

إمَّا سَألت فَإنَّا مَعْشَرٌ نُجُبٌ ... الأزْدُ نِسْبَتُنَا، وَالْمَاءُ غَسَّانُ

"Jika engkau bertanya (tentang kami), maka kami adalah golongan keturunan kabilah Azd, yang kakek moyang kami bertempat di dekat mata air Gassan."

Allah SWT dalam surat Saba ayat 15-17 berfirman:

{لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (15) فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلا الْكَفُورَ (17) }

Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.

(Kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon asl, dan sedikit dari pohon sidr.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. ( QS Saba : 15-17)

Baca juga: Kisah Ratu Balqis yang Demokratis, Ibunya Ternyata dari Bangsa Jin

Ibnu Katsir mengatakan dahulu kala kaum Saba hidup berlimpah dengan kenikmatan dan kesenangan di negeri mereka. Kehidupan mereka sangat menyenangkan, dan rezeki mereka berlimpah, begitu pula tanam-tanaman dan buah-buahannya.

Kemudian Allah SWT mengutus kepada mereka rasul-rasul yang memerintahkan kepada mereka agar memakan rezeki Allah dan bersyukur kepada-Nya dengan cara mengesakan dan menyembah-Nya. Mereka tetap diseru oleh para rasul selama masa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Tetapi mereka berpaling dari apa yang diperintahkan oleh para rasul kepada mereka.

Akhirnya mereka diazab dengan didatangkan kepada mereka banjir besar yang memporak-porandakan seluruh negeri.

10 Orang Anak
Ibnu Abbas mengatakan, pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Saba, apakah itu nama seorang laki-laki ataukah seorang perempuan ataukah nama negeri?

Rasulullah SAW menjawab: "Tidak demikian, dia adalah seorang lelaki yang mempunyai sepuluh orang anak; enam di antara mereka tinggal di negeri Yaman, sedangkan empat orang dari mereka tinggal di negeri Syam. Ada pun yang tinggal di Yaman adalah kabilah Mulhaj, kabilah Kindah, kabilah Azd, orang-orang Asy'ari, Anmar, dan Himyar. Adapun yang tinggal di negeri Syam adalah Lakham, Juzam, 'Amilah, dan Gassan."

Al-Hafiz Abu Umar ibnu Abdul Barr telah meriwayatkannya di dalam kitabnya yang berjudul Al-Qasdu wal Umam Bima 'rifati Usul Ansabil 'Arab wal 'Ajam, melalui hadis Ibnu Lahi'ah, dari Alqamah ibnu Wa'lah, dari Ibnu Abbas, lalu disebutkan hal semisal. Ia pun telah meriwayatkannya melalui jalur lain dengan lafaz yang semisal.

Baca juga: Nabi Sulaiman Kepada Ratu Balqis: Jangan Sombong Padaku!
halaman ke-1
preload video