Maulid Nabi: Kisah Pilu saat Bunda Aminah Wafat Sepulang Ziarah dari Madinah

loading...
Maulid Nabi: Kisah Pilu saat Bunda Aminah Wafat Sepulang Ziarah dari Madinah
Ibunda Aminah wafat ketika dalam perjalanan antara Madinah ke Mekkah. Foto/Ilustrasi: Ist
Kisah pilu yang dialami Sayyidina Muhammad pada usia 6 tahun itu, kala Bunda Aminah wafat sepulang ziarah ke makam Abdullah, suaminya, di Madinah . Sayyidina Muhammad dibawa pulang ke Mekkah dan selanjutnya diasuh kakeknya, Abdul Muthalib . Tak lama sang kakek pun wafat.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" mengisahkan Sayyidina Muhammad tinggal di tengah-tengah Keluarga Sa'ad dalam pengasuhan Siti Halimah sampai mencapai usia 5 tahun.

Selama itu pula, Sayyidina Muhammad menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas di wilayah pedalaman. Dari kabilah ini beliau belajar mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia mengatakan kepada teman-temannya kemudian: "Aku yang paling fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah Keluarga Sa'ad bin Bakr."

Baca juga: Kisah Keberkahan Halimah setelah Menyusui Muhammad SAW

Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya itu.

Sesudah 5 tahun bersama keluarga Siti Halimah, Sayyidina Muhammad dikembalikan ke Mekkah kepada ibunda Aminah. Abdul-Muthalib yang bertindak sebagai pengasuh cucunya itu.

Ia memeliharanya sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucu ini. “Biasanya buat orang tua itu -pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin Mekkah – diletakkannya hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Kakbah, dan anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan kepada orang tua,” tulisnya.

Tetapi apabila Sayyidina Muhammad yang datang, maka didudukkannya ia di sampingnya di atas hamparan itu sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. “Melihat betapa besarnya rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya di belakang dari tempat mereka duduk itu,” ujar Haekal lagi.

Baca juga: Maulid Nabi: Kontroversi Kisah Malaikat Membelah Dada Rasulullah SAW

Ziarah ke Madinah
Suatu kali Bunda Aminah membawa Sayyidina Muhammad ke Madinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar. Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dulu.

Sesampai mereka di Madinah, Bunda Aminah memperlihatkan rumah tempat ayah Sayyidina Muhammad saat meninggal dulu serta tempat beliau dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali bagi Sayyidina Muhammad merasakan sebagai anak yatim.

Menurut Haekal, barangkali juga ibunya pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu, yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari pihak ibu.

Sesudah Hijrah, pernah juga Rasulullah menceritakan kepada sahabat-sahabatnya kisah perjalanannya yang pertama ke Madinah dengan ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada Madinah, kisah yang penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.

Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Madinah, Bunda Aminah sudah bersiap-siap akan pulang. Beliau dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekkah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa', ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu.

Sayyidina Muhammad melihat sendiri di hadapannya, sang bunda pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Oleh Umm Aiman, beliau dibawa pulang ke Mekkah. Beliau pulang dengan dengan tangis dan hati yang pilu. Beliau merasakan hidup yang makin sunyi.

Baca juga: Arasy Allah Taala Bergetar saat Nabi Muhammad SAW Lahir

Kakek Abdul-Muthalib memang sangat mencintainya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam Qur'anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu:

اَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيۡمًا فَاٰوٰى
وَوَجَدَكَ ضَآ لًّا فَهَدٰى

"Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?" (Qur'an, 93: 6-7)
halaman ke-1
preload video